TNI AL DI USIA 81 TAHUN
DARI FLEET-CENTRIC NAVY MENUJU ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY
Mulai Meninggalkan Fleet-Centric Menuju Kekuatan Laut yang Dibangun Berdasarkan Geografi Negara Kepulauan
Suatu Sumbangan Pemikiran Menuju TNI Angkatan Laut 2045
Jakarta 10 September 2026
Oleh :
Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto, ST, SH, MH
PENDAHULUAN
Pada usia 81 tahun, TNI Angkatan Laut berada pada suatu titik penting dalam perjalanan sejarahnya.
Delapan puluh satu tahun adalah usia untuk melihat kembali apa yang telah dibangun. Tetapi sekaligus merupakan saat untuk menentukan TNI Angkatan Laut seperti apa yang harus hadir ketika berusia 100 tahun pada 2045.
Sembilan belas tahun bukanlah waktu yang panjang dalam pembangunan kekuatan pertahanan.
Sebuah kapal perang membutuhkan waktu bertahun-tahun sejak dirancang, dibangun, diuji hingga benar-benar mencapai kesiapan operasional. Demikian pula pembangunan pangkalan, sistem sensor, jaringan komunikasi, sistem persenjataan, industri pertahanan dan sumber daya manusia.
Karena itu TNI AL 2045 sebenarnya sedang ditentukan hari ini.
Menurut saya, salah satu perubahan paling mendasar yang sudah harus dimulai pada usia 81 tahun adalah:
MULAI MENINGGALKAN PARADIGMA FLEET-CENTRIC NAVY
dan bergerak menuju:
ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY.
Perubahan ini tidak berarti armada tidak diperlukan.
Tidak berarti frigat, korvet, kapal selam atau kapal kombatan besar tidak diperlukan.
Yang harus ditinggalkan adalah cara berpikir bahwa pusat kekuatan Angkatan Laut berada pada armada kapal semata.
Dalam peperangan modern, armada hanyalah salah satu bagian dari sistem tempur.
Kekuatan sesungguhnya berada pada jaringan yang menghubungkan kapal, kapal selam, pesawat, drone, rudal pantai, pulau, radar, satelit, Marinir, pangkalan dan pusat komando menjadi satu sistem peperangan.
Bagi Indonesia, konsep tersebut bahkan lebih penting karena Indonesia adalah negara kepulauan.
Maka bentuk TNI Angkatan Laut seharusnya lahir dari satu pertanyaan yang sangat sederhana:
Apabila Indonesia adalah negara kepulauan, mengapa kekuatan lautnya harus dibangun mengikuti bentuk Angkatan Laut negara kontinental atau negara yang kepentingannya berada ribuan kilometer dari wilayah nasionalnya?
Geografi Indonesia sendiri seharusnya menjadi dasar untuk menentukan bentuk TNI AL.
I. GEOGRAFI ADALAH TITIK AWAL STRATEGI
Kekuatan militer tidak pernah berdiri di ruang kosong.
Ia selalu dibentuk oleh geografi.
Negara benua mempunyai karakter pertahanan yang berbeda dengan negara pulau.
Negara pulau tunggal berbeda dengan negara kepulauan.
Demikian pula negara yang ingin mempertahankan wilayahnya sendiri mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan negara yang membangun kekuatan untuk melakukan proyeksi kekuatan ribuan kilometer dari tanah airnya.
Indonesia mempunyai karakter yang sangat khusus.
Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang tersebar antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Wilayah tersebut dipenuhi:
selat,
laut sempit,
laut dalam,
perairan dangkal,
choke point,
pulau besar,
pulau kecil,
jalur pelayaran strategis,
dan jalur pendekatan dari berbagai arah.
Karena itu Indonesia bukan sekadar negara yang mempunyai laut.
Indonesia adalah negara yang dibentuk oleh laut.
Laut bukan halaman belakang Indonesia.
Laut bukan pula sekadar batas antara satu pulau dengan pulau lain.
Laut merupakan ruang yang menyatukan Indonesia menjadi satu kesatuan strategis.
Maka doktrin pertahanannya harus lahir dari keadaan tersebut.
Rumusnya harus sederhana:
GEOGRAFI
menentukan
ANCAMAN
yang melahirkan
STRATEGI
yang kemudian menentukan
DOKTRIN DAN OPERASI
dan barulah menentukan
KAPAL SERTA SENJATA.
Tidak boleh dibalik.
Jangan menentukan kapalnya dahulu, baru kemudian mencari strategi untuk menggunakan kapal tersebut.
II. APA YANG DIMAKSUD FLEET-CENTRIC NAVY?
Fleet-centric navy adalah cara berpikir yang menempatkan armada kapal sebagai pusat kekuatan laut.
Semakin besar jumlah kapal utama.
Semakin besar tonasenya.
Semakin canggih kapal-kapal tersebut.
Semakin kuat dianggap Angkatan Lautnya.
Dalam paradigma itu pusat gravitasi peperangan berada pada kekuatan armada.
Armada bergerak.
Armada mencari lawan.
Armada berhadapan dengan armada lawan.
Kekuatan kemudian terkonsentrasi pada sejumlah kapal kombatan utama.
Model seperti ini mempunyai dasar sejarah yang sangat kuat.
Pada masa kapal layar, konsentrasi armada sangat menentukan.
Kemudian berkembang konsep battle fleet.
Mahan menekankan pentingnya konsentrasi kekuatan dan penghancuran armada utama lawan.
Pada abad ke-20 berkembang pula carrier battle group sebagai pusat kekuatan laut.
Konsep tersebut sangat tepat bagi negara tertentu.
Terutama negara yang harus membawa kekuatan tempurnya jauh melintasi samudra.
Tetapi apakah pola tersebut harus diterapkan begitu saja kepada Indonesia?
Jawabannya:
tidak.
Karena Indonesia mempunyai medan peperangan yang berbeda.
III. TNI AL TIDAK BOLEH MENIRU ANGKATAN LAUT NEGARA LAIN
Amerika Serikat membutuhkan armada samudra dan kapal induk karena kepentingan militernya berada di seluruh dunia.
Amerika harus dapat membawa kekuatan udara, logistik dan kapal perang ribuan kilometer dari wilayah nasionalnya.
Inggris membutuhkan kapal induk ketika berperang di Falklands karena perang itu berlangsung jauh dari Inggris.
Cina juga mengembangkan kemampuan blue-water navy karena ingin mampu beroperasi semakin jauh dari daratan Cina.
Indonesia mempunyai kepentingan berbeda.
Tugas utama Indonesia adalah:
MEMPERTAHANKAN NEGARA KEPULAUAN INDONESIA.
Medan tempur utama kita sudah menyediakan:
pulau,
lapangan udara,
selat,
teluk,
pangkalan,
pantai,
dan posisi-posisi strategis.
Karena itu kebutuhan kita tidak identik dengan kebutuhan negara-negara tersebut.
Kita tidak perlu membangun Angkatan Laut Amerika versi kecil.
Kita juga tidak perlu menjadi Angkatan Laut Cina versi kecil.
Kita harus menjadi:
ANGKATAN LAUT INDONESIA.
Angkatan Laut yang bentuknya hanya dapat ditemukan di negara dengan geografi seperti Indonesia.
IV. PADA USIA 81 TAHUN, APA YANG HARUS DITINGGALKAN?
Yang harus mulai ditinggalkan bukan kapalnya.
Yang harus ditinggalkan adalah cara berpikirnya.
Pertama, tinggalkan pemikiran bahwa kapal terbesar selalu merupakan kapal terpenting.
Kedua, tinggalkan pemikiran bahwa kekuatan Angkatan Laut terutama dihitung dari tonase.
Ketiga, tinggalkan pemikiran bahwa setiap kapal harus menemukan, mengidentifikasi dan menghancurkan sasaran dengan sensornya sendiri.
Keempat, tinggalkan pemikiran bahwa seluruh kekuatan harus terkonsentrasi dalam suatu gugus armada besar.
Kelima, tinggalkan pandangan bahwa pulau hanya merupakan objek yang harus dilindungi.
Keenam, tinggalkan pandangan bahwa kapal kecil selalu mempunyai nilai tempur kecil.
Ketujuh, tinggalkan pemikiran bahwa platform adalah pusat peperangan.
Karena perang modern sedang bergerak menuju:
NETWORK-CENTRIC WARFARE.
Yang mengetahui lebih dahulu mempunyai keuntungan.
Yang dapat memproses informasi lebih cepat mempunyai keuntungan.
Yang dapat mendistribusikan data sasaran lebih cepat mempunyai keuntungan.
Dan yang dapat menembak tanpa terlebih dahulu harus mendekati sasaran mempunyai keuntungan.
V. TNI AL 2045 HARUS MENJADI ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY
Apa yang dimaksud dengan Archipelagic Network Navy?
Archipelagic Network Navy adalah Angkatan Laut yang seluruh kekuatan tempurnya dibangun sebagai jaringan peperangan kepulauan.
Jaringannya terdiri atas:
kapal permukaan,
kapal selam,
penerbangan,
drone,
USV,
UUV,
radar pantai,
satelit,
sensor bawah laut,
pangkalan,
pulau,
Marinir,
rudal berbasis darat,
peperangan elektronika,
cyber,
logistik,
dan pusat komando.
Masing-masing tidak berdiri sendiri.
Semuanya menjadi:
NODE DALAM SATU JARINGAN PERTEMPURAN.
Misalnya sebuah drone menemukan kapal lawan.
Drone tidak harus mempunyai senjata untuk menghancurkannya.
Informasinya diberikan kepada jaringan.
Kapal lawan kemudian dapat diserang oleh frigat yang berada jauh di tempat lain.
Atau oleh kapal selam.
Atau oleh pesawat.
Atau oleh rudal yang ditempatkan pada sebuah pulau.
Artinya:
YANG MELIHAT TIDAK HARUS YANG MENEMBAK.
Dan:
YANG MENEMBAK TIDAK HARUS MELIHAT SASARAN DENGAN SENSORNYA SENDIRI.
Inilah perubahan besar dari platform-centric warfare menuju network-centric warfare.
VI. PULAU HARUS BERUBAH DARI OBJEK PERTAHANAN MENJADI SISTEM SENJATA
Ini merupakan keunggulan terbesar Indonesia.
Kita mempunyai ribuan pulau.
Selama ini pulau lebih sering dipandang sebagai wilayah yang harus dijaga.
Menurut saya cara berpikir tersebut harus dibalik.
PULAU HARUS MENJADI BAGIAN DARI SENJATA PERTAHANAN LAUT.
Pulau strategis dapat menjadi tempat:
radar,
drone,
rudal anti-kapal,
rudal pertahanan udara,
sensor elektronik,
komunikasi,
pusat komando,
lapangan udara,
helipad,
amunisi,
bahan bakar,
USV,
UUV,
Marinir,
dan fasilitas logistik.
Dengan demikian kapal lawan yang memasuki kepulauan Indonesia tidak hanya menghadapi kapal TNI AL.
Ia menghadapi:
pulau di kanan;
pulau di kiri;
kapal selam di bawah;
drone di atas;
pesawat dari belakang;
rudal dari daratan;
dan kapal perang dari berbagai arah.
Musuh tidak lagi menghadapi satu armada.
Ia menghadapi:
SELURUH GEOGRAFI INDONESIA YANG TELAH DIUBAH MENJADI SISTEM PERTAHANAN.
VII. PULAU SEBAGAI “KAPAL INDUK” INDONESIA
Kapal induk lahir dari kebutuhan membawa pangkalan udara ke tempat di mana negara tersebut tidak mempunyai daratan.
Indonesia mempunyai situasi yang berbeda.
Kita mempunyai daratan hampir di seluruh ruang strategis Nusantara.
Karena itu beberapa fungsi yang bagi kekuatan ekspedisioner harus dilakukan oleh kapal induk dapat dilakukan Indonesia dari pulau.
Lapangan udara dapat berada di pulau.
Radar dapat berada di pulau.
Drone dapat terbang dari pulau.
Pesawat tempur dapat berpindah dari pulau ke pulau.
Rudal dapat ditempatkan di pulau.
Logistik dapat tersebar di pulau.
Karena itu secara konseptual pulau-pulau Indonesia dapat disebut:
“UNSINKABLE AIRCRAFT CARRIERS.”
Pulau tidak dapat ditenggelamkan.
Tetapi fasilitas di atas pulau tentu dapat dihancurkan.
Karena itu pangkalan Indonesia tidak boleh dibangun sebagai satu instalasi besar yang statis.
Kita membutuhkan:
DISTRIBUTION.
MOBILITY.
REDUNDANCY.
DECEPTION.
SURVIVABILITY.
Senjata bergerak.
Radar bergerak.
Posisi berpindah.
Amunisi tersebar.
Komando mempunyai cadangan.
Lapangan udara mempunyai alternatif.
Dengan demikian menghancurkan satu pangkalan tidak menghancurkan sistem.
VIII. KAPAL INDUK BUKAN PUSAT KEKUATAN INDONESIA
Kapal induk merupakan sistem senjata yang luar biasa.
Tetapi sistem tersebut harus ditempatkan dalam konteks kebutuhan strategis masing-masing negara.
Untuk Indonesia, menurut saya kapal induk besar tidak seharusnya menjadi pusat gravitasi pembangunan TNI AL.
Sebab kapal induk bukan berdiri sendiri.
Ia membutuhkan:
pesawat;
kapal pertahanan udara;
kapal anti-kapal selam;
kapal logistik;
kapal tanker;
kapal selam pengawal;
sistem peringatan dini;
dan dukungan pangkalan.
Kita akhirnya membangun satu armada besar hanya untuk mempertahankan satu pusat kekuatan.
Padahal Indonesia dapat menggunakan geografinya untuk menyebarkan kekuatan pada banyak titik.
Dengan biaya strategis yang sama, Indonesia dapat membangun lebih banyak:
kapal selam,
rudal,
frigat,
korvet,
FAC,
drone,
USV,
UUV,
sensor,
pangkalan tersebar,
dan pertahanan udara.
Karena itu pertanyaan pembangunan kekuatan bukan:
kapal apa yang paling hebat?
Tetapi:
sistem mana yang memberikan efek tempur dan deterrence terbesar bagi Indonesia?
IX. BENTUK ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY 2045
Pada saat TNI AL berusia 100 tahun, menurut saya kekuatan tersebut harus mempunyai sedikitnya tujuh komponen utama.
1. UNDERSEA FORCE
Kekuatan bawah laut harus menjadi salah satu prioritas tertinggi.
Indonesia memiliki begitu banyak selat dan jalur pendekatan sehingga kapal selam sangat sesuai untuk menciptakan sea denial.
Kekuatan ini terdiri atas:
kapal selam;
UUV;
sensor bawah laut;
peperangan anti-kapal selam;
dan jaringan deteksi bawah air.
Kapal selam mempunyai satu kemampuan yang sangat penting:
menciptakan ketidakpastian.
Musuh tidak perlu melihat kapal selam Indonesia.
Cukup mengetahui bahwa kapal selam mungkin berada di jalurnya.
2. OCEANIC COMBAT FORCE
TNI AL tetap membutuhkan kapal besar.
Frigat modern tetap sangat diperlukan untuk operasi di Laut Natuna Utara, Samudra Hindia, Pasifik dan wilayah pendekatan Indonesia.
Tetapi frigat tidak menjadi pusat seluruh sistem.
Ia adalah high-end combat node dalam network.
Kapal tersebut harus mempunyai kemampuan:
anti-air warfare;
anti-surface warfare;
anti-submarine warfare;
electronic warfare;
dan kemampuan mengendalikan unmanned systems.
3. LITTORAL COMBAT FORCE
Inilah kekuatan yang sangat penting bagi negara kepulauan.
Indonesia memerlukan banyak:
korvet;
fast attack craft;
kapal rudal;
kapal patroli kombatan;
USV;
dan kapal peperangan ranjau.
Kapal tersebut relatif kecil tetapi memiliki daya pukul besar.
Dalam jaringan, kapal kecil dapat menerima sasaran dari sensor lain.
Maka kapal kecil berubah menjadi:
MOBILE MISSILE BATTERY AT SEA.
4. ISLAND-BASED SEA DENIAL FORCE
Pulau strategis harus mempunyai kemampuan mempengaruhi peperangan laut.
Sistemnya antara lain:
mobile coastal missile;
mobile air defence;
radar;
electronic warfare;
drone;
sensor;
dan satuan Marinir.
Pulau tidak lagi menjadi objek pasif.
Pulau menjadi:
FIRING NODE.
5. NAVAL AVIATION AND UNMANNED FORCE
Indonesia terlalu luas untuk hanya diawasi kapal.
Maka penerbangan Angkatan Laut harus berkembang menjadi unsur utama.
Diperlukan:
Maritime Patrol Aircraft;
helikopter ASW;
UAV jarak jauh;
UAV kapal;
loitering systems;
USV;
UUV;
dan pada masa depan autonomous systems.
Perang berikutnya akan memperlihatkan manusia dan mesin bertempur dalam satu jaringan.
6. ARCHIPELAGIC LOGISTICS COMMAND
Inilah bagian yang sering kurang mendapatkan perhatian.
Indonesia harus mampu memindahkan kekuatan dengan sangat cepat dari satu pulau ke pulau lain.
Maka dibutuhkan:
LPD;
LST;
kapal angkut;
tanker;
kapal logistik;
repair ship;
kapal rumah sakit;
kapal pengangkut amunisi;
dan kapal logistik kecil.
Kekuatan yang tidak dapat diberi bahan bakar dan amunisi hanya mempunyai nilai sampai persediaannya habis.
Karena itu:
LOGISTIK ADALAH SENJATA.
7. INTEGRATED MARITIME BATTLE NETWORK
Inilah jantung seluruh sistem.
Semua unsur tadi harus terhubung.
Indonesia harus mempunyai satu Recognised Maritime Picture dan Common Operational Picture yang dapat digunakan seluruh unsur yang membutuhkan.
Informasi dapat berasal dari:
satelit;
radar;
kapal;
pesawat;
drone;
sonar;
electronic intelligence;
dan sensor bawah laut.
Informasi tersebut harus dapat berubah dalam hitungan menit bahkan detik menjadi:
DETECTION
IDENTIFICATION
DECISION
TARGETING
ENGAGEMENT.
Siapa yang memperpendek rantai tersebut mempunyai keunggulan dalam peperangan modern.
X. BAGAIMANA BENTUK ARMADA TNI AL PADA USIA 100 TAHUN?
Pada 2045 saya membayangkan armada tidak lagi semata-mata dipahami sebagai kumpulan kapal.
Armada harus menjadi:
JOINT MARITIME COMBAT NETWORK.
Satu komando wilayah dapat memiliki:
beberapa frigat,
kapal selam,
korvet,
FAC,
USV,
UUV,
penerbangan,
Marinir,
rudal pantai,
sensor pulau,
dan jaringan logistik.
Semua terhubung.
Jika frigat keluar dari daerah operasi, sistem tidak runtuh.
Jika radar dihancurkan, sensor lain mengambil alih.
Jika satu pangkalan diserang, pangkalan lain melanjutkan operasi.
Jika sebuah kapal tenggelam, jaringan tetap bertempur.
Inilah ukuran ketahanan perang.
SURVIVE THE FIRST STRIKE.
Kemampuan bertahan setelah serangan pertama jauh lebih penting daripada kemampuan tampil mengesankan pada masa damai.
XI. TIDAK SEMUA WILAYAH MEMBUTUHKAN ARMADA YANG SAMA
Indonesia juga harus mulai berpikir berdasarkan theatre of operations.
Wilayah Barat mempunyai karakter berbeda dengan Timur.
Natuna berbeda dengan Laut Jawa.
Laut Banda berbeda dengan Selat Malaka.
Laut Sulawesi berbeda dengan Arafura.
Karena itu tidak semua wilayah harus mempunyai jenis kapal yang sama.
Ada wilayah yang lebih membutuhkan frigat.
Ada yang lebih membutuhkan kapal selam.
Ada yang membutuhkan FAC.
Ada yang membutuhkan ranjau.
Ada yang membutuhkan radar dan drone.
Ada yang membutuhkan logistik dan pangkalan udara.
Maka prinsip pembangunan kekuatan harus berubah dari:
PEMERATAAN PLATFORM
menjadi:
PENYESUAIAN KEKUATAN DENGAN MEDAN DAN ANCAMAN.
XII. PERAN MARINIR HARUS BERUBAH
Dalam Archipelagic Network Navy, Marinir mempunyai fungsi yang jauh lebih strategis.
Marinir bukan hanya pasukan yang bergerak dari laut untuk merebut pantai.
Marinir harus mampu:
MENGENDALIKAN LAUT DARI DARAT.
Satu unit kecil Marinir dapat ditempatkan di sebuah pulau dengan:
rudal anti-kapal;
air defence;
UAV;
radar;
electronic warfare;
dan komunikasi.
Setelah beberapa waktu ia berpindah ke pulau lain.
Musuh tidak mengetahui posisi sebenarnya.
Dengan demikian Marinir menjadi:
MOBILE ISLAND SEA-DENIAL FORCE.
Ini sangat sesuai dengan geografi Indonesia.
XIII. PERANG RANJAU HARUS MENJADI KEUNGGULAN NEGARA KEPULAUAN
Indonesia mempunyai banyak selat strategis.
Dalam geografi seperti ini, ranjau mempunyai nilai yang sangat besar.
Ranjau dapat membatasi manuver lawan.
Ranjau dapat mengubah jalur pergerakan.
Ranjau dapat menciptakan ketidakpastian.
Ranjau juga dapat memaksa lawan menggunakan waktu yang panjang untuk membersihkan sebuah jalur.
Karena itu TNI AL harus mempunyai kemampuan kuat dalam:
mine warfare;
mine laying;
mine hunting;
mine countermeasures;
serta UUV untuk operasi ranjau.
Negara yang mempunyai banyak choke point seharusnya menjadi ahli peperangan ranjau.
XIV. INDUSTRI PERTAHANAN HARUS MENJADI BAGIAN DARI DOKTRIN PERANG
Kita tidak dapat mengatakan mempunyai kekuatan laut yang mandiri apabila sebagian besar rudal, amunisi, sensor dan suku cadangnya hanya dapat diperoleh dari luar negeri.
Dalam perang panjang, negara pemasok dapat mengalami keterbatasan.
Jalur logistik dapat terputus.
Embargo dapat terjadi.
Karena itu pada 2045 Indonesia harus mampu memproduksi sebanyak mungkin kebutuhan dasar peperangan laut:
kapal;
drone;
USV;
UUV;
radar;
amunisi;
rudal tertentu;
electronic warfare;
komunikasi;
dan suku cadang.
Kemandirian industri bukan semata-mata kebijakan ekonomi.
KEMANDIRIAN INDUSTRI ADALAH BAGIAN DARI SURVIVABILITY DALAM PERANG.
XV. DARI PLATFORM SUPERIORITY MENUJU SYSTEM SUPERIORITY
Ini mungkin perubahan pemikiran terpenting.
Selama ini mudah sekali membandingkan:
frigat kita dengan frigat mereka;
kapal selam kita dengan kapal selam mereka;
rudal kita dengan rudal mereka.
Tetapi peperangan modern tidak selalu dimenangkan oleh platform terbaik.
Yang lebih penting adalah:
SISTEM SIAPA YANG LEBIH BAIK.
Kapal lawan mungkin lebih besar.
Tetapi apabila kita mengetahui posisinya lebih dahulu, sementara ia tidak mengetahui posisi kita, keadaan sudah berubah.
Kapal lawan mungkin mempunyai radar lebih besar.
Tetapi jika kita memperoleh data sasaran dari satelit, drone dan radar darat, ukuran radar kapal tidak lagi menentukan semuanya.
Karena itu sasaran pembangunan TNI AL harus berubah:
dari PLATFORM SUPERIORITY
menuju
SYSTEM SUPERIORITY.
XVI. APA YANG HARUS DIMULAI PADA USIA 81 TAHUN?
Transformasi menuju 2045 tidak dapat menunggu 2040.
Harus dimulai sekarang.
Pada usia 81 tahun, paling sedikit tujuh perubahan harus dimulai.
Pertama, rumuskan secara resmi konsep peperangan laut berdasarkan karakter negara kepulauan.
Kedua, audit seluruh rencana pembangunan kapal berdasarkan kebutuhan Archipelagic Network Warfare.
Ketiga, petakan pulau-pulau strategis yang akan menjadi node pertahanan.
Keempat, bangun jaringan sensor nasional yang benar-benar terintegrasi.
Kelima, percepat pengembangan kapal selam, unmanned systems dan coastal defence.
Keenam, bangun sistem logistik tersebar dan pangkalan alternatif.
Ketujuh, integrasikan pembangunan industri pertahanan dengan kebutuhan peperangan jangka panjang.
Dengan demikian menuju 2045 terjadi transformasi:
2026–2030
NETWORK FOUNDATION.
Membangun doktrin, komunikasi, sensor dan interoperabilitas.
2030–2035
DISTRIBUTED FORCE DEVELOPMENT.
Memperbanyak kapal selam, kapal kombatan litoral, unmanned systems dan pertahanan pulau.
2035–2040
FULL ARCHIPELAGIC INTEGRATION.
Menghubungkan laut, udara, darat, bawah laut, ruang angkasa dan cyber.
2040–2045
ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY.
Seluruh jaringan siap bertempur sebagai satu sistem nasional.
XVII. TNI AL PADA USIA 100 TAHUN
Pada tahun 2045, ketika TNI Angkatan Laut berusia 100 tahun, saya tidak membayangkan TNI AL hanya sebagai Angkatan Laut yang mempunyai lebih banyak kapal daripada sekarang.
Saya membayangkan sesuatu yang jauh lebih besar.
TNI AL 2045 adalah Angkatan Laut yang mengetahui siapa yang memasuki ruang maritim Indonesia.
Mengetahui dari mana ia datang.
Mengetahui ke mana ia bergerak.
Dapat mengikuti pergerakannya.
Dapat menghalanginya.
Dan apabila diperlukan:
dapat menghancurkannya.
Tetapi lawan tidak mengetahui dari mana serangan Indonesia akan datang.
Dari kapal selam?
Dari frigat?
Dari kapal rudal kecil?
Dari pesawat?
Dari drone?
Dari USV?
Atau dari sebuah pulau yang beberapa jam sebelumnya kelihatan tidak mempunyai instalasi militer?
Itulah deterrence.
XVIII. MUSUH JANGAN DIHADAPKAN KEPADA ARMADA — HADAPKAN KEPADA NUSANTARA
Inilah puncak gagasan Archipelagic Network Navy.
Dalam konsep Fleet-Centric Navy, musuh mencari armada kita.
Jika armada ditemukan dan dihancurkan, pusat kekuatan kita mengalami pukulan besar.
Dalam Archipelagic Network Navy, pusat gravitasi tidak berada pada satu tempat.
Kekuatan tersebar.
Sensor tersebar.
Rudal tersebar.
Pangkalan tersebar.
Platform tersebar.
Komando mempunyai cadangan.
Logistik tersebar.
Maka lawan menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit.
Ia tidak dapat menghancurkan TNI AL hanya dengan menghancurkan satu gugus kapal.
Sebab:
TNI AL bukan lagi sekadar kumpulan kapal. TNI AL telah menjadi jaringan pertahanan kepulauan.
Itulah sebabnya lawan tidak seharusnya kita hadapkan hanya kepada armada.
HADAPKAN LAWAN KEPADA SELURUH NUSANTARA.
PENUTUP
Pada usia ke-81 tahun, TNI Angkatan Laut harus mulai meninggalkan cara berpikir lama yang terlalu berpusat pada armada.
Bukan meninggalkan armadanya.
Tetapi meninggalkan:
FLEET-CENTRIC THINKING.
Sebab masa depan peperangan laut bukan lagi sekadar pertempuran kapal melawan kapal.
Perang laut masa depan adalah perang:
sensor,
informasi,
jaringan,
rudal,
bawah laut,
drone,
cyber,
ruang angkasa,
logistik,
dan kemampuan bertahan hidup.
Bagi Indonesia, semua itu mempunyai satu tambahan yang sangat penting:
GEOGRAFI KEPULAUAN.
Kita mempunyai sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh negara lain.
Kita mempunyai ribuan pulau.
Kita mempunyai banyak selat.
Kita mempunyai laut sempit dan laut dalam.
Kita mempunyai jalur-jalur strategis.
Semua itu jangan hanya dianggap sebagai wilayah yang harus dipertahankan.
JADIKAN SEMUANYA BAGIAN DARI SISTEM PERTAHANAN.
Maka perjalanan TNI AL dari usia 81 menuju usia 100 tahun harus menjadi perjalanan:
DARI ARMADA MENUJU JARINGAN.
DARI KONSENTRASI MENUJU DISTRIBUSI.
DARI PLATFORM MENUJU SISTEM.
DARI FLEET-CENTRIC NAVY MENUJU ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY.
Pada tahun 2045, TNI AL tidak harus menjadi Angkatan Laut dengan kapal terbesar di kawasan.
Tidak pula harus mempunyai kapal terbanyak.
Tetapi TNI AL harus menjadi:
ANGKATAN LAUT YANG PALING SULIT DIKALAHKAN DI MEDAN KEPULAUANNYA SENDIRI.
Karena setiap pulau dapat menjadi mata.
Setiap selat dapat menjadi perangkap.
Setiap kapal dapat menjadi pemukul.
Setiap drone dapat menjadi sensor.
Setiap kapal selam dapat menjadi ancaman yang tidak terlihat.
Dan semuanya terhubung dalam satu jaringan peperangan.
Itulah bentuk TNI Angkatan Laut Indonesia pada usia 100 tahun.
ARCHIPELAGIC NETWORK NAVY 2045.
Angkatan Laut yang tidak meniru geografi negara lain.
Angkatan Laut yang lahir dari Nusantara.
Angkatan Laut yang menjadikan geografi sebagai kekuatan.
Angkatan Laut yang membuat setiap calon lawan mengerti bahwa memasuki wilayah kepulauan Indonesia berarti menghadapi bukan hanya kapal-kapal perang Indonesia—
TETAPI MENGHADAPI SELURUH NUSANTARA.
Geografi menentukan strategi.
Strategi menentukan doktrin.
Doktrin menentukan kekuatan.
Dan kekuatan menentukan kapal—bukan kapal yang menentukan strategi.
Jalesveva Jayamahe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar