20 September 2026

KITA BISA BIKIN KAPAL BARU, MENGAPA SIBUK MEMUDAKAN KAKEK GARIBALDI?



KITA BISA BIKIN KAPAL BARU, MENGAPA SIBUK MEMUDAKAN KAKEK GARIBALDI?

Kalau hanya untuk helikopter, drone dan bencana, jangan-jangan yang kita butuhkan bukan kapal induk tua, tetapi kapal baru buatan Indonesia.

Jakarta 20 September 2026
Oleh: Soleman B. Ponto

Giuseppe Garibaldi akhirnya datang ke Indonesia.

Besar.

Panjang.

Flight deck-nya luas.

Dan tentu saja, karena bentuknya kapal induk, siapa pun yang melihatnya bisa merasa bangga.

Tetapi kapal perang tidak dibeli untuk difoto.

Kapal perang dibeli—atau diterima sebagai hibah—untuk menjalankan suatu kebutuhan operasi.

Maka sebelum terlalu lama terpukau melihat Garibaldi, sebaiknya kita mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana:

Sebenarnya kapal ini mau kita pakai untuk apa?

Jawabannya sudah mulai diberikan.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Garibaldi akan diubah menjadi kapal induk helikopter dan drone. KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan kapal tersebut dapat membawa lebih dari 10 helikopter dan antara lain digunakan sebagai pangkalan helikopter untuk membantu penanggulangan kebakaran hutan melalui water bombing.

Garibaldi juga akan digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang, penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

Bagus.

Semua itu penting.

Tetapi justru karena tujuannya sudah semakin jelas, pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik:

Kalau hanya untuk itu, mengapa kita harus memudakan Kakek Garibaldi?

Kakeknya Sudah Berumur Lebih dari 40 Tahun

Ini bukan penghinaan.

Ini soal kalender.

Garibaldi mulai masuk dinas Angkatan Laut Italia pada 1985.

Artinya ketika tiba di Indonesia pada 2026, umurnya sudah sekitar empat dekade.

KSAL sendiri menyatakan kapal tersebut diperkirakan masih dapat digunakan sekitar 15–20 tahun lagi setelah menjalani retrofit.

Jadi kita sedang menghadapi kapal yang secara struktur dasarnya bukan kapal baru.

Radar bisa diganti.

Elektronik bisa diganti.

Kabin bisa diperbaiki.

Mesin bisa di-overhaul.

Cat tentu bisa dibuat mengkilap kembali.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibawa kembali ke tahun 1985:

umur lambungnya.

Kapal tidak mengenal operasi plastik.

Besi tetap mencatat perjalanan hidupnya sendiri.

Masalahnya, Kakek Ini Dahulu Pelari Cepat

Garibaldi bukan sejak awal dibuat untuk memadamkan kebakaran hutan.

Ia lahir sebagai kapal perang.

Garibaldi menggunakan empat gas turbine LM2500 dengan daya keseluruhan sekitar 60 MW untuk memberikan kemampuan kecepatan sekitar 30 knot.

Pada zamannya itu masuk akal.

Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat V/STOL dan menjadi bagian dari operasi tempur armada.

Tetapi sekarang kita mengatakan:

Garibaldi untuk helikopter.

Garibaldi untuk drone.

Garibaldi untuk bantuan bencana.

Garibaldi untuk OMSP.

Garibaldi untuk water bombing.

Kalau demikian saya bertanya:

Untuk memadamkan kebakaran hutan, apakah kapal harus berlari 30 knot?

Untuk membawa helikopter bantuan kemanusiaan, apakah kita membutuhkan propulsion sekitar 60 MW?

Untuk membawa rumah sakit dan bantuan bencana, apakah kita memerlukan karakteristik sebuah light aircraft carrier?

Jangan-jangan yang sebenarnya kita perlukan dari Garibaldi hanyalah:

flight deck-nya.

Bukan kecepatan 30 knotnya.

Lalu Muncul Ide: Ganti Saja Mesinnya

Karena gas turbine terkenal tidak ekonomis pada kondisi operasi tertentu, muncullah pemikiran yang kelihatannya sederhana:

“Kalau boros, ganti diesel.”

Nah, di sinilah Kakek mulai masuk ruang operasi.

Mengganti empat LM2500 dengan diesel bukan seperti mengganti mesin Toyota Kijang.

Diesel besar jauh lebih berat.

Putarannya berbeda.

Torsinya berbeda.

Dimensinya berbeda.

Gearbox-nya harus diperiksa atau bahkan didesain ulang.

Fondasi mesin berubah.

Cooling system berubah.

Exhaust berubah.

Piping berubah.

Kontrol berubah.

Distribusi berat berubah.

Dan kemudian kita sampai pada sesuatu yang sangat sensitif:

shaft alignment.

Poros kapal tidak boleh sekadar “kira-kira lurus”.

Mesin, gearbox, bearing dan shaft harus berada dalam alignment yang sangat presisi.

Sementara semua pekerjaan itu akan dilakukan pada lambung yang telah menjalani kehidupan laut selama sekitar empat dekade.

Maka harus diperiksa lagi:

korosi,

ketebalan pelat,

double bottom,

fondasi,

bearing,

shaft line,

deformasi,

dan kekuatan struktur machinery space.

Pada titik tertentu kita harus bertanya:

Ini masih retrofit atau kita sedang membangun kapal baru di dalam kapal tua?

Padahal Kita Sudah Bisa Membuat Kapal

Yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah Indonesia sebenarnya bukan negara yang tidak bisa membuat kapal besar.

PT PAL sudah membangun LPD.

PT PAL sudah membuat Strategic Sealift Vessel.

PT PAL sudah membangun Kapal Bantu Rumah Sakit.

Kapal BRS buatan PAL panjangnya 124 meter, displacement sekitar 7.290 ton, mempunyai fasilitas rumah sakit, mampu membawa helikopter, ambulance boat dan LCVP serta memiliki jangkauan sampai sekitar 10.000 mil laut.

Kecepatan desainnya sekitar 18 knot.

Mesin utamanya sekitar:

2 × 5.420 kW = 10,84 MW.

Tidak perlu 60 MW.

Tidak perlu 30 knot.

Tetapi ia bisa membawa rumah sakit ke daerah bencana.

Bahkan sekarang PT PAL sedang membangun LPD sepanjang 163 meter untuk Angkatan Laut Uni Emirat Arab.

Nilai kontraknya diberitakan sekitar US$408 juta.

Jadi pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah Indonesia bisa?”

Kita sudah membuktikan bisa.

Pertanyaannya:

“Mengapa tidak kita buat untuk diri kita sendiri?”

Buat Saja Kapal yang Memang Kita Butuhkan

Kalau memang kebutuhan Indonesia adalah membawa 10–15 helikopter dan drone, mengapa tidak kita mulai dari kertas kosong?

Katakan kepada engineer Indonesia:

Kita ingin kapal panjang sekitar 160–180 meter.

Kita ingin flight deck besar.

Kita ingin hanggar helikopter dan UAV.

Kita ingin command center.

Kita ingin rumah sakit.

Kita ingin gudang bantuan bencana.

Kita ingin ruang pengungsi.

Kita ingin workshop.

Kita ingin landing craft dan RHIB.

Kita ingin endurance panjang.

Kita ingin kecepatan cukup 20–22 knot.

Dan kita ingin mesin yang ekonomis.

Silakan desain.

Tidak perlu memaksakan kebutuhan Indonesia masuk ke dalam kapal yang dahulu dirancang berdasarkan kebutuhan Angkatan Laut Italia tahun 1970-an dan 1980-an.

Itulah keuntungan terbesar kapal baru.

Garibaldi memaksa kebutuhan Indonesia menyesuaikan diri kepada kapal.

Sedangkan kapal baru memungkinkan:

kapal menyesuaikan diri kepada kebutuhan Indonesia.

Jangan Terjebak Kata “Gratis”

Ada satu kata yang sangat berbahaya dalam pembicaraan mengenai kapal bekas:

hibah.

Telinga kita sering menerjemahkan hibah menjadi:

gratis.

Padahal kapal gratis belum tentu kapal murah.

Yang gratis mungkin harga memperoleh lambungnya.

Setelah itu datang:

retrofit.

BBM.

Maintenance.

Docking.

Overhaul.

Spare parts.

Crew.

Perbaikan struktur.

Modernisasi.

Dan kalau mesin hendak diganti, datang lagi biaya rekonstruksi propulsion.

Karena itu dalam ekonomi pertahanan yang harus dihitung bukan sekadar purchase price.

Yang harus dihitung adalah:

Total Cost of Ownership.

Berapa rupiah yang harus dikeluarkan sampai kapal itu akhirnya benar-benar pensiun?

Itulah harga sebenarnya.

Kapal Baru Mahal? Belum Tentu

Misalnya—sekali lagi hanya ilustrasi—kita mengeluarkan Rp15 triliun untuk membuat kapal tua dapat digunakan selama 20 tahun.

Maka biaya modal sederhananya:

Rp750 miliar per tahun.

Sekarang bayangkan kapal baru buatan Indonesia membutuhkan Rp20 triliun tetapi bisa digunakan 40 tahun.

Biaya modal sederhananya:

Rp500 miliar per tahun.

Jadi jangan buru-buru mengatakan:

“Kapal baru mahal.”

Pertanyaannya:

mahal dibandingkan apa?

Kalau dibandingkan dengan harga kapal hibah: tentu mahal.

Tetapi kalau dibandingkan dengan seluruh biaya mempertahankan kapal tua selama sisa hidupnya, ceritanya bisa berbeda.

Karena umur kapal tidak dapat di-reset dengan cat baru.

Yang Lebih Penting: Uangnya Tinggal di Indonesia

Ada keuntungan lain kalau kita membangun sendiri.

Uang pembangunan kapal tidak sekadar berubah menjadi besi yang mengapung.

Engineer Indonesia bekerja.

Welder Indonesia bekerja.

Galangan Indonesia berkembang.

Industri baja mendapat pekerjaan.

Industri elektronik ikut masuk.

Industri kelistrikan ikut berkembang.

Vendor lokal tumbuh.

Engineer muda mendapat pengalaman.

Dan yang paling penting:

Indonesia memiliki desain dan pengetahuan membangunnya.

Kapal pertama mungkin mahal.

Kapal kedua lebih mudah.

Kapal ketiga semakin matang.

Lalu suatu hari negara lain datang dan berkata:

“Kami mau beli kapal itu.”

Bukankah sekarang kita sendiri sedang membangun LPD 163 meter untuk UAE?

Kalau kita mampu membuat kapal besar untuk orang lain, mengapa untuk kebutuhan sendiri kita justru sibuk memudakan kapal orang lain?

Jadi Garibaldi Dibuang?

Tidak.

Justru jangan.

Garibaldi dapat menjadi sekolah yang sangat berharga.

Gunakan.

Pelajari.

Bongkar ilmunya.

Pelajari flight deck operation.

Pelajari hanggar.

Pelajari aviation fuel.

Pelajari pengaturan helikopter.

Pelajari operasi UAV.

Pelajari damage control.

Pelajari command and control.

Pelajari bagaimana kapal sebesar itu dioperasikan.

Biarkan PT PAL mengirim engineer sebanyak mungkin.

Biarkan TNI AL memperoleh pengalaman mengoperasikan aviation ship yang selama ini belum dimiliki.

Tetapi jangan keliru.

Belajar dari Garibaldi tidak sama dengan harus membuat Garibaldi hidup selamanya.

Guru yang baik bukan guru yang membuat muridnya terus bergantung kepadanya.

Guru yang berhasil adalah guru yang membuat muridnya akhirnya mampu berdiri sendiri.

Garibaldi Harus Melahirkan Kapal Indonesia

Karena itu ukuran keberhasilan Garibaldi jangan hanya:

“Kapal ini berhasil berlayar 20 tahun di Indonesia.”

Itu terlalu sederhana.

Ukuran keberhasilannya seharusnya:

“Setelah belajar dari Garibaldi, Indonesia mampu membuat kapal sendiri.”

Kalau dua puluh tahun lagi Garibaldi pensiun kemudian Indonesia mencari lagi kapal induk bekas dari negara lain, maka ada sesuatu yang salah.

Tetapi kalau sebelum Garibaldi pensiun sudah muncul kapal baru buatan PT PAL dengan flight deck besar, helikopter, UAV, rumah sakit dan kemampuan HADR, maka Garibaldi benar-benar berjasa.

Kakek boleh pensiun dengan tenang.

Karena cucunya sudah lahir.

Jadi Jangan Sibuk Memudakan Kakek

Garibaldi sekarang berada di depan mata.

Gunakanlah apa yang masih baik.

Perbaiki apa yang memang harus diperbaiki.

Ambil semua ilmu yang bisa diambil.

Tetapi sebelum mengeluarkan triliunan rupiah untuk membuatnya seolah-olah muda kembali, hitung dulu alternatifnya.

Bandingkan secara terbuka:

Garibaldi dengan retrofit terbatas.

Garibaldi dengan retrofit besar dan repowering.

Kapal baru buatan Indonesia dengan kemampuan yang sama.

Hitung semuanya selama 20, 30 dan 40 tahun.

Masukkan BBM.

Maintenance.

Overhaul.

Docking.

Spare parts.

Crew.

Modernisasi.

Dan risiko umur kapal.

Barulah kita tahu mana yang benar-benar murah.

Sebab kalau tujuan akhirnya hanya membawa helikopter, drone, rumah sakit dan bantuan bencana, kita sebenarnya tidak sedang mencari teknologi dari planet lain.

PT PAL sudah membuat kapal rumah sakit.

PT PAL sudah membuat LPD.

PT PAL bahkan sedang membuat kapal 163 meter untuk negara lain.

Jadi pertanyaannya sederhana:

Kalau kita bisa membuat kapal baru, mengapa kita terlalu sibuk memudakan Kakek Garibaldi?

Gunakan Garibaldi sebagai guru.

Ambil ilmunya.

Kemudian bangun kapal kita sendiri.

Sebab kebanggaan terbesar Indonesia seharusnya bukan ketika kapal bekas negara lain memakai Merah Putih.

Kebanggaan terbesar adalah ketika kapal buatan anak bangsa berlayar membawa Merah Putih—dan negara lain ingin membelinya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar