11 September 2026

GARIBALDI: PENSIUN DI ITALIA, STAND-UP DI INDONESIA

GARIBALDI: PENSIUN DI ITALIA, STAND-UP DI INDONESIA

Jakarta 10 September 2026
Oleh : Soleman B Ponto.

 

Selamat malam, Indonesia!

Perkenalkan, nama saya Giuseppe Garibaldi.

Saya kapal perang Italia.

Umur saya sudah tua.

Saya sudah pensiun.

Tapi rupanya di Indonesia, pensiun itu bukan akhir karier.

Pensiun itu cuma mutasi internasional.

Di Italia saya dibilang:

“Terima kasih atas pengabdianmu.”

Di Indonesia saya dibilang:

“Wah, ini masa depan!”

Saya langsung bingung.

Saya ini kapal atau politisi senior?


Katanya saya akan membantu penanggulangan bencana.

Saya senang.

Tugas kemanusiaan itu mulia.

Tapi saya agak kaget juga.

Dulu saya disiapkan menghadapi kapal perang.

Sekarang musuh saya...

titik api.

Dulu awak saya lihat radar cari musuh.

Sekarang lihat satelit cari asap.

Perubahan karier saya cepat sekali.

Besok-besok jangan kaget kalau saya diminta ikut operasi pasar minyak goreng.


Katanya flight deck saya bisa dipakai helikopter untuk water bombing.

Bagus.

Dulu helikopter datang bawa senjata.

Sekarang bawa air.

Saya tanya:

“Musuhnya mana?”

Dijawab:

“Di hutan.”

“Kapaknya?”

“Api.”

“Oke.”

Berarti doktrin baru Angkatan Laut:

Cari musuh, kalau tidak ada musuh, cari kebakaran.


Pendukung saya bilang:

“Garibaldi ini multifungsi.”

Nah, saya suka kata multifungsi.

Kalau kapal tua disebut multifungsi, itu terdengar keren.

Kalau mobil tua?

Namanya angkot.


Saya tanya:

“Untuk operasi bencana, kenapa harus saya?”

Dijawab:

“Karena Anda besar.”

Nah, ini logika yang menarik.

Kalau besar selalu lebih baik, seharusnya untuk memadamkan kebakaran kita beli kapal pesiar.

Deck lebih luas.

Kolam renangnya sudah ada.


Katanya saya hibah.

Wah, kata hibah itu indah sekali.

Begitu dengar hibah, semua senang.

Gratis!

Saya mau ingatkan:

Kapalnya mungkin hibah.

Tapi bahan bakarnya tidak tahu dia sedang ikut program sosial.

Saya sudah bilang kepada empat turbin saya:

“Teman-teman, kita sekarang hibah.”

Empat-empatnya menjawab:

“Terus kami minum apa?”


Ada yang bilang:

“Garibaldi akan meningkatkan deterrence.”

Saya tanya:

“Deterrence terhadap siapa?”

Musuh?

Negara tetangga?

Atau Kementerian Keuangan?

Karena kalau saya sering berlayar, yang paling cepat gentar mungkin bukan kapal lawan.

Yang paling cepat gentar adalah bendahara.


Orang bilang:

“Jangan lihat umur Garibaldi.”

Saya setuju.

Jangan lihat umur.

Kalau umur mulai dijadikan ukuran kemampuan, banyak orang di ruangan ini akan mulai tidak nyaman.

Jadi mari kita sepakat:

umur itu hanya angka.

Terutama kalau anggarannya juga hanya angka.


Saya sebenarnya kagum dengan cara orang Indonesia memberi nama.

Kapal tua?

Bukan tua.

Strategic asset.

Boros?

Bukan boros.

High operational energy requirement.

Perlu overhaul?

Bukan rusak.

Capability enhancement.

Mahal dirawat?

Bukan mahal.

Long-term sustainment commitment.

Luar biasa.

Kalau saya masuk bengkel tiga bulan, jangan bilang rusak.

Bilang saja:

“Sedang menjalani transformasi maritim.”


Saya juga dengar ada yang bilang:

“Ini untuk menuju 2045.”

Saya langsung hitung.

2045?

Saya lihat umur saya.

Saya bilang:

“Pak, 2045 itu masa depan Indonesia.”

“Bagi saya itu bonus umur.”


Tapi saya suka semangat pendukung saya.

Mereka optimistis sekali.

Saya tanya:

“Kalau untuk perang?”

“Bisa.”

“Untuk bencana?”

“Bisa.”

“Untuk karhutla?”

“Bisa.”

“Untuk evakuasi?”

“Bisa.”

“Untuk latihan?”

“Bisa.”

“Kalau tidak ada semua itu?”

Mereka diam sebentar.

Lalu jawab:

“Bisa untuk kunjungan persahabatan.”

Hebat.

Saya ini bukan kapal perang.

Saya ini Swiss Army Knife ukuran 180 meter.


Saya akhirnya sadar.

Saya memang sudah pensiun di Italia.

Tapi di Indonesia saya mengalami reinkarnasi.

Dari kapal perang menjadi kapal induk.

Dari kapal induk menjadi kapal bantuan bencana.

Dari kapal bantuan bencana menjadi pangkalan helikopter.

Kalau tren ini berlanjut, dua tahun lagi saya mungkin jadi:

gedung serbaguna terapung.

Tapi saya tidak marah.

Saya justru terharu.

Karena hanya di sini saya merasakan cinta sejati.

Kalau sudah cinta, semuanya terlihat bagus.

Umur tua disebut pengalaman.

Boros disebut kemampuan.

Mahal disebut strategis.

Bekas disebut peluang.

Dan pensiun disebut...

masa depan.

Jadi saya tutup dengan satu pesan:

Silakan pakai saya untuk perang.

Silakan pakai saya untuk bencana.

Silakan pakai saya untuk latihan.

Tapi kalau biaya operasi mulai bikin pusing...

jangan salahkan saya.

Saya dari awal sudah jujur.

Saya ini kapal tua.

Yang bilang saya masa depan...

bukan saya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar