Kabar dari Angin Sepoi di Laut Jawa
Sebuah naskah tentang nama kapal, jabatan tua, dan luka lama yang sebaiknya tidak usah dibangunkan
Jakarta 10 September 2026
Oleh : Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto, ST, SH, MH
Satu — Angin itu datang
Tidak ada surat resmi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada tanda tangan di atas materai.
Yang ada hanya angin sepoi di Laut Jawa, yang bertiup pelan dari arah utara, dan membawa satu kalimat pendek:
"Katanya, nama Gajah Mada mau diganti jadi Sriwijaya."
Angin memang begitu sifatnya. Ia tidak menjatuhkan genting. Ia tidak menumbangkan pohon. Ia cuma lewat — dan sampai ke telinga semua orang.
Sampai hari ini kabar itu belum bisa dipastikan. Yang resmi masih Gajah Mada, dan kapalnya sendiri masih dalam perjalanan pulang: lewat Terusan Suez, singgah di Kolombo, menuju Jakarta.
Tapi angin ini menarik. Karena alasannya sama sekali bukan soal kapal.
Alasannya jauh lebih tua dari kapal mana pun.
Dua — Tahun 1357
Rombongan dari Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk sebuah pernikahan. Raja Sunda mengantar putrinya, Dyah Pitaloka, yang akan dinikahkan dengan Raja Hayam Wuruk.
Mereka datang membawa harapan. Mereka pulang tanpa nyawa.
Di lapangan Bubat, Mahapatih Gajah Mada tidak menerima mereka sebagai besan. Ia menuntut sang putri diserahkan sebagai tanda takluk. Raja Sunda menolak — bagi orang Sunda waktu itu, lebih baik mati berdiri daripada hidup menunduk.
Perangnya tidak seimbang. Hampir seluruh rombongan gugur. Dyah Pitaloka mengakhiri hidupnya sendiri.
Enam ratus tahun lebih sudah lewat. Tapi cerita itu belum benar-benar jadi masa lalu. Ia masih seperti luka lama dalam keluarga besar: jarang dibicarakan, tapi semua orang tahu ia ada.
Tiga — Yang bikin angin ini bertiup
Kapal induk itu nanti akan dijemput dan dikawal masuk oleh dua kapal: KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi.
Sekarang lihat siapa mereka.
Brawijaya itu gelar raja Majapahit. Bos besar.
Gajah Mada itu Mahapatih. Perdana menteri. Hebat sekali, iya — tapi secara struktur, bawahan.
Jadi kalau kapal induknya bernama Gajah Mada, yang terjadi adalah: raja berlayar keluar menjemput patihnya.
Di kantor mana pun di dunia ini, itu tidak lazim. Bos tidak menjemput staf di bandara.
Brawijaya: "Mahapatih, kami di sebelah kiri. Siap mengawal."
Gajah Mada: "Kalian... mengawal saya?"
Brawijaya: "Betul, Ndan."
Gajah Mada: "Ndan? Saya bawahan, Baginda."
Brawijaya: "Iya, tapi kapal Anda lebih besar."
Gajah Mada: "Oh. Jadi sekarang jabatan diukur dari tonase."
Brawijaya: "Sejak dulu begitu, Pat. Anda saja yang baru sadar."
Dan yang bikin makin kacau: keduanya bahkan tidak sezaman. Gajah Mada mengabdi di abad ke-14. Gelar Brawijaya baru muncul di abad ke-15, jauh setelah beliau wafat.
Jadi ini bukan sekadar bos menjemput anak buah. Ini bos yang belum lahir waktu anak buahnya masih dinas. Semacam cucu menjemput kakek di pelabuhan, lalu memanggilnya "Dik".
Lalu ada Prabu Siliwangi di sisi satunya.
Kalau Brawijaya bermasalah dengan urutan jabatan, Siliwangi bermasalah dengan urutan sejarah. Ini nama besar dari Pajajaran — dan sekarang beliau ditugaskan mengawal kapal yang bernama... orang itu.
Gajah Mada: "Prabu? Radio Anda nyala?"
Siliwangi: "Nyala."
Gajah Mada: "Kok diam?"
Siliwangi: "Saya sedang profesional."
Gajah Mada: "Itu bukan jawaban."
Siliwangi: "Itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan hari ini."
Enam ratus tahun canggung, dipadatkan jadi satu pelayaran.
Sementara di haluan, arwah Giuseppe Garibaldi cuma geleng-geleng:
"Saya cuma menyatukan Italia. Kenapa saya ikut kena?"
Empat — Kenapa Sriwijaya
Di sinilah nama itu masuk, dan masuknya rapi sekali.
Sriwijaya itu kerajaan dagang. Bukan kerajaan penakluk, bukan kerajaan yang sibuk menaklukkan tetangga. Ia besar karena pelabuhan, karena Selat Malaka, karena kapal-kapal dari India dan Tiongkok yang singgah membawa barang. Kerjanya berdagang, bukan berperang.
Dan pedagang punya satu keahlian yang tidak dimiliki panglima: membuat semua orang pulang dengan senang hati.
Sriwijaya kerajaan laut. Majapahit dikenang lewat sumpah dan tanah. Sriwijaya dikenang lewat air. Untuk sebuah kapal induk, itu bukan cuma aman — itu memang cocok.
Sriwijaya tidak punya lawan di dalam rumah sendiri. Ia tidak pernah berperang melawan siapa pun yang namanya kini terpasang di lambung kapal lain. Sebut "Sriwijaya" di Bandung, di Surabaya, di Palembang — orang sama-sama mengangguk.
Sriwijaya nama tempat, bukan nama orang. Nama orang membawa serta seluruh riwayatnya: keputusannya, kesalahannya, korbannya. Nama kerajaan lebih lapang, lebih mudah dimiliki bersama. Tidak ada yang bisa marah pada sebuah selat.
Dan jalannya sudah terbuka. TNI AL memang biasa memakai nama kerajaan lama untuk kapal besar. Fregat KRI Balaputradewa bahkan sudah lebih dulu memakai nama raja Sriwijaya.
Kekurangannya cuma satu: akan selalu ada orang di kolom komentar yang bertanya, "itu kapal atau maskapai?"
Tapi itu jauh lebih murah daripada membangunkan Bubat setiap tahun di media sosial. Hehehe.
Lima — Penutup
Angin sepoi itu mungkin benar, mungkin juga cuma angin.
Tapi ada yang bagus dari kabar yang dibawanya. Artinya kita masih memikirkan nama kita sendiri. Masih menimbang siapa yang akan bangga dan siapa yang akan terluka.
Bangsa yang sudah tidak peduli pada nama, biasanya juga sudah lupa pada sejarahnya.
Jadi biarkan angin itu bertiup dulu di Laut Jawa. Kita lihat ke mana arahnya nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar