JANGAN SRIWIJAYA, JANGAN GAJAH MADA
EKS-GARIBALDI LEBIH PANTAS BERNAMA KRI DJUANDA
Jakarta 13 September 2026
Oleh : Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto. ST, SH, MH
Indonesia sedang berbicara tentang nama untuk eks-Giuseppe Garibaldi, kapal besar Italia yang akan memperkuat TNI Angkatan Laut.
Nama Gajah Mada muncul.
Nama Sriwijaya juga terdengar menarik.
Keduanya memang besar dalam sejarah Nusantara.
Tetapi pertanyaannya bukan sekadar:
Siapa yang paling terkenal?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Siapa yang paling tepat menjadi simbol persatuan Indonesia dari laut?
Kalau ukuran itu yang dipakai, menurut saya jawabannya bukan Sriwijaya.
Bukan pula Gajah Mada.
Jawabannya adalah:
DJUANDA.
SRIWIJAYA MEMANG BESAR, TETAPI PERNAH DIPUKUL DARI LAUT
Sriwijaya adalah kerajaan maritim besar.
Tidak ada yang perlu menyangkal itu.
Selama berabad-abad Sriwijaya membangun kekuatannya melalui perdagangan, pelayaran, dan penguasaan jalur laut.
Sriwijaya memahami satu hal yang sangat penting:
Laut adalah sumber kekuatan.
Tetapi sejarah juga mencatat luka besar Sriwijaya.
Pada tahun 1025, armada Dinasti Chola dari India Selatan di bawah Rajendra Chola I melancarkan serangan besar terhadap pusat-pusat kekuasaan Sriwijaya.
Ironinya sangat jelas.
Kerajaan yang besar karena laut justru dipukul oleh kekuatan asing yang datang dari laut.
Serangan itu memang tidak langsung menghapus Sriwijaya dalam satu malam.
Tetapi ia menjadi pukulan besar terhadap jaringan politik, perdagangan, dan kewibawaannya.
Sriwijaya akhirnya memberi kita sebuah pelajaran:
Negara maritim bisa menjadi besar karena laut, tetapi juga bisa jatuh ketika tidak mampu mempertahankan lautnya.
Pelajaran itu sangat berharga.
Tetapi apakah nama kerajaan yang pernah mengalami pukulan besar oleh armada asing merupakan pilihan terbaik untuk kapal utama TNI AL?
Kita perlu berpikir lebih jauh.
LALU GAJAH MADA?
Gajah Mada juga tokoh besar.
Sumpah Palapa telah menjadi bagian dari narasi nasional mengenai cita-cita penyatuan Nusantara.
Tetapi kita juga harus jujur membaca sejarah.
Gajah Mada hidup dalam dunia politik kerajaan.
Konsep persatuan pada zamannya bukan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana kita mengenalnya sekarang.
Hubungan antarkerajaan ketika itu juga dibentuk oleh perang, ekspansi, penaklukan, dan dominasi politik.
Karena itu ketika nama Gajah Mada dibawa menjadi simbol pemersatu Indonesia modern, selalu tersedia ruang perdebatan sejarah.
Ada daerah yang mungkin melihat Majapahit sebagai pusat kejayaan.
Tetapi ada pula daerah yang memiliki ingatan sejarah berbeda terhadap ekspansi Majapahit.
Untuk sebuah kapal utama Republik Indonesia, apakah kita perlu membawa beban perdebatan itu?
Bukankah lebih baik mencari nama yang benar-benar berdiri di atas semua daerah, kerajaan, suku, dan pulau?
Di sinilah Djuanda menjadi sangat menarik.
DJUANDA TIDAK MENAKLUKKAN NUSANTARA
Djuanda tidak datang dengan pedang.
Ia tidak memimpin pasukan untuk menaklukkan kerajaan.
Ia tidak memaksa daerah tunduk kepada pusat kekuasaan tertentu.
Djuanda mempersatukan Indonesia dengan:
gagasan, hukum, diplomasi, dan keberanian politik.
Pada 13 Desember 1957, Perdana Menteri Ir. H. Djuanda Kartawidjaja mengeluarkan apa yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Djuanda.
Intinya sangat penting:
Laut di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Indonesia.
Kalimat itu mengubah cara kita memandang Indonesia.
Indonesia bukan kumpulan pulau.
Indonesia adalah:
satu kesatuan pulau dan laut.
LAUT YANG DAHULU MEMISAHKAN, MENJADI PEMERSATU
Sebelum Deklarasi Djuanda, hukum laut warisan kolonial masih memberikan ruang bagi adanya laut bebas di antara pulau-pulau Indonesia.
Secara politik kita telah merdeka.
Tetapi secara hukum laut, wilayah Indonesia masih dapat terlihat seperti pulau-pulau yang terpisah.
Jawa Indonesia.
Kalimantan Indonesia.
Sulawesi Indonesia.
Maluku Indonesia.
Papua Indonesia.
Tetapi bagaimana dengan laut di antaranya?
Djuanda memberikan jawabannya.
Laut itu juga Indonesia.
Sejak itulah lahir sebuah cara berpikir yang sangat penting:
Laut bukan memisahkan Sabang dari Merauke.
Laut justru menghubungkannya.
Laut bukan ruang kosong di antara pulau.
Laut adalah bagian dari tubuh Indonesia.
Inilah hakikat negara kepulauan.
DJUANDA BENAR-BENAR MEMPERSATUKAN WILAYAH INDONESIA
Di sinilah perbedaannya dengan tokoh kerajaan.
Sriwijaya membangun kekuasaan maritim.
Majapahit membangun kekuasaan politik.
Tetapi Djuanda membangun konsep keutuhan wilayah Republik Indonesia.
Gagasan itu kemudian diperjuangkan Indonesia selama puluhan tahun hingga prinsip negara kepulauan mendapat pengakuan dalam hukum laut internasional melalui UNCLOS 1982.
Artinya, apa yang pada mulanya merupakan kepentingan nasional Indonesia kemudian diterima menjadi prinsip hukum internasional.
Itu adalah kemenangan diplomasi yang sangat besar.
GARIBALDI DAN DJUANDA: ADA BENANG MERAH SEJARAH
Di sinilah ada sesuatu yang menarik.
Giuseppe Garibaldi dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam proses penyatuan Italia.
Kalau kapal bernama Garibaldi kemudian menjadi milik Indonesia, bukankah akan sangat indah apabila nama barunya juga mengambil tokoh pemersatu?
Tetapi bukan sekadar pemersatu.
Harus pemersatu yang sesuai dengan karakter Indonesia.
Italia dipersatukan terutama sebagai negara kontinental.
Indonesia adalah negara kepulauan.
Maka pemersatu Indonesia harus mempunyai hubungan dengan laut.
Dan tokoh itu adalah Djuanda.
Garibaldi:
simbol pemersatu Italia.
Djuanda:
simbol pemersatu wilayah Indonesia melalui laut.
Maka perubahan nama:
Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Djuanda
mempunyai filosofi yang sangat kuat.
Bukan sekadar ganti nama.
Tetapi:
Dari simbol pemersatu Italia kepada simbol pemersatu Indonesia.
MENGAPA BUKAN SRIWIJAYA?
Karena Sriwijaya adalah bagian dari sejarah kerajaan.
Ia sangat besar.
Tetapi sejarahnya juga membawa cerita mengenai ekspansi, persaingan perdagangan, dan akhirnya serangan besar armada Chola.
Sriwijaya lebih tepat menjadi pelajaran besar bagi TNI AL:
Jangan pernah kehilangan kemampuan menguasai laut.
Sriwijaya mengajarkan bahwa kekuatan laut dapat membangun kejayaan.
Tetapi ia juga mengajarkan bahwa dominasi laut dapat runtuh ketika kekuatan asing mampu menembus pertahanan maritim.
Itu pelajaran strategis yang luar biasa.
Namun untuk simbol persatuan nasional, Djuanda mempunyai fondasi yang lebih kuat.
MENGAPA BUKAN GAJAH MADA?
Karena Gajah Mada berasal dari zaman kerajaan.
Ia merupakan tokoh besar Majapahit.
Tetapi Republik Indonesia bukan Majapahit.
Indonesia modern lahir dari kesepakatan bangsa-bangsa di Nusantara untuk hidup dalam satu negara.
Persatuan Indonesia tidak seharusnya dibangun atas narasi:
satu kerajaan menundukkan kerajaan lain.
Persatuan Indonesia seharusnya dibangun atas narasi:
semua daerah menyatu sebagai satu bangsa.
Djuanda mewakili gagasan itu.
Tidak ada Sumatra yang ditaklukkan.
Tidak ada Sulawesi yang dikalahkan.
Tidak ada Maluku yang dipaksa tunduk.
Tidak ada Papua yang dianggap daerah taklukan.
Semua menjadi satu karena laut yang berada di antaranya dinyatakan sebagai bagian dari Indonesia.
Itulah persatuan yang sesungguhnya.
KRI DJUANDA AKAN MENJADI NAMA YANG HIDUP
Bayangkan kapal itu berlayar dari Natuna.
Masuk ke Laut Jawa.
Berlayar ke Laut Banda.
Menuju Maluku.
Kemudian menuju Papua.
Setiap mil laut yang dilaluinya adalah bagian dari ruang yang dahulu diperjuangkan agar diakui sebagai satu kesatuan wilayah Indonesia.
Maka setiap pelayaran KRI Djuanda mempunyai arti.
Djuanda dahulu memperjuangkan laut itu melalui hukum.
Kapal yang memakai namanya kemudian menjaga laut itu dengan kekuatan negara.
Filosofinya sederhana:
Djuanda mempersatukan laut Indonesia.
KRI Djuanda menjaga laut yang mempersatukan Indonesia.
Sulit mencari hubungan nama dan fungsi kapal yang lebih tepat daripada itu.
NAMA KAPAL UTAMA HARUS MILIK SEMUA INDONESIA
Sebuah kapal utama TNI AL jangan terlalu mudah diasosiasikan dengan satu kerajaan.
Jangan terlalu mudah diasosiasikan dengan satu daerah.
Jangan pula mengandung beban sejarah penaklukan antara satu bagian Nusantara terhadap bagian lainnya.
Ia harus menjadi kapal milik semua.
Milik Aceh.
Milik Sumatra.
Milik Jawa.
Milik Kalimantan.
Milik Sulawesi.
Milik Maluku.
Milik Papua.
Milik seluruh Indonesia.
Djuanda memenuhi itu.
Ia tidak berbicara tentang kerajaan.
Ia berbicara tentang negara.
Ia tidak berbicara tentang penaklukan.
Ia berbicara tentang persatuan.
Ia tidak berbicara tentang masa lalu semata.
Ia berbicara tentang wilayah Indonesia yang kita pertahankan sampai hari ini.
SRIWIJAYA ADALAH PELAJARAN, DJUANDA ADALAH FONDASI
Sriwijaya tetap harus dihormati.
Dari Sriwijaya kita belajar:
Negara maritim harus mempunyai kekuatan laut.
Dari serangan Chola kita belajar:
Laut yang tidak mampu dipertahankan dapat menjadi jalan masuk kekuatan asing.
Tetapi dari Djuanda kita memperoleh sesuatu yang lebih fundamental:
Laut adalah bagian dari Indonesia dan menjadi pemersatu seluruh wilayahnya.
Karena itu Sriwijaya adalah pelajaran.
Djuanda adalah fondasi.
JANGAN SEKADAR MENCARI NAMA BESAR
Nama kapal perang tidak boleh dipilih hanya karena terdengar gagah.
Lebih-lebih bila kapal itu kelak menjadi salah satu kapal paling penting dalam armada Indonesia.
Namanya harus menjelaskan siapa kita.
Indonesia adalah negara kepulauan.
Indonesia disatukan oleh laut.
Dan salah satu tokoh terpenting yang membuat prinsip itu menjadi kenyataan adalah Djuanda.
Maka bila eks-Garibaldi benar-benar menjadi bagian dari TNI Angkatan Laut, pilihan namanya seharusnya dipikirkan sekali lagi.
Bukan hanya:
siapa pahlawan terbesar?
Tetapi:
siapa yang paling tepat mewakili Indonesia sebagai negara kepulauan?
Jawabannya menurut saya sangat jelas:
KRI DJUANDA
Karena Garibaldi pernah menjadi simbol pemersatu Italia.
Maka ketika kapal itu menjadi milik Indonesia, biarlah ia membawa nama seorang pemersatu Indonesia.
Bukan dengan pedang.
Bukan dengan penaklukan.
Tetapi dengan laut.
DJUANDA.
PEMERSATU INDONESIA MELALUI LAUT.
Dan jika kapal itu kelak berlayar dengan Merah Putih di buritannya, semboyan yang pantas menyertainya adalah:
KRI DJUANDA — PENJAGA LAUT PEMERSATU NUSANTARA.


