4 Oktober 2026

Seribu Tahun Setelah Sriwijaya: Ketika Kapal Besar Mengubah Cara Kita Berpikir


 

Seribu Tahun Setelah Sriwijaya: Ketika Kapal Besar Mengubah Cara Kita Berpikir

Esai untuk generasi muda, refleksi 81 Tahun TNI

JAKARTA 05 OKTOBER 2026

OLEH : LAKSDA TNI (PURN) Dr. Soleman B Ponto*)

Bayangkan rumahmu punya sepuluh pintu. Suatu malam ada kabar akan datang pencuri. Seluruh keluarga lalu berkumpul di ruang tamu untuk menjaga satu barang paling mahal, misalnya sebuah televisi besar. Sembilan pintu lain dibiarkan tidak terkunci. Pencurinya tentu tidak perlu repot: ia masuk lewat pintu dapur.

Kedengarannya konyol. Tapi kesalahan seperti ini pernah meruntuhkan kerajaan maritim terbesar dalam sejarah kita, dan kini berisiko terulang.

Doktrin yang dulu: menjaga selat

Doktrin adalah cara berpikir sebuah angkatan perang: di mana musuh akan datang, apa yang harus dijaga, dan dengan alat apa.

Sriwijaya kaya karena menguasai Selat Malaka, jalan tol laut antara India dan Tiongkok. Siapa yang menguasai selat, ia menguasai perdagangan. Pada 1025, armada Sriwijaya berjaga di Selat Malaka. Lalu musuh dari India, Kerajaan Chola, memilih jalan memutar dan masuk lewat Selat Sunda. Palembang dijarah, rajanya ditawan, dan Sriwijaya tidak pernah bangkit lagi.

Pelajarannya sederhana: Sriwijaya tidak kalah karena kurang kapal, tetapi karena menjaga satu pintu dan lupa pada pintu lain.

Setelah merdeka, Indonesia memahami pelajaran itu. Lewat Deklarasi Djuanda 1957, laut di antara pulau-pulau kita dinyatakan sebagai pemersatu, bukan pemisah. Konsep negara kepulauan ini kemudian diakui dunia dalam hukum laut internasional. Dari situ lahir cara berpikir pertahanan laut kita: Indonesia dijaga di selat-selatnya, yaitu Malaka, Sunda, Lombok, Makassar, dan perairan Maluku. Alatnya adalah kapal-kapal yang lincah dan tersebar, kapal selam, serta pulau-pulau yang menjadi benteng alami.

Singkatnya, doktrin kita dulu berbunyi: jaga semua pintu.

Doktrin yang sekarang: godaan televisi besar

Pada September 2026, Indonesia menerima hibah kapal induk dari Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, yang kini bernama KRI Sriwijaya. Kapal ini besar, megah, dan membanggakan. Tapi coba lihat lebih dekat:

•         Umurnya 41 tahun. Senjatanya berasal dari era 1980-an.

•         Kapal induk tanpa pesawat. Indonesia tidak punya pesawat tempur yang bisa mendarat di geladaknya, jadi kapal ini hanya bisa membawa helikopter.

•         Mahal. Retrofitnya Rp 7,5 triliun, dan BBM-nya sekitar Rp 95 juta untuk setiap jam berlayar.

•         Tidak bisa berjalan sendiri. Ke mana pun ia pergi, ia harus dikawal kapal-kapal perang lain.

Poin terakhir itulah masalah terbesarnya. Kapal pengawal adalah kapal-kapal yang sama yang seharusnya menjaga selat. Begitu ada kapal induk, sebagian kekuatan laut kita harus berkumpul di sekelilingnya. Kita kembali ke ruang tamu, menjaga televisi besar, sementara pintu-pintu lain terbuka.

Kalau perang benar-benar terjadi, komandan hanya punya dua pilihan, dan keduanya buruk. Kalau pengawal tetap menjaga kapal induk, selat terbuka bagi musuh. Kalau pengawal dikirim ke selat, kapal induk tua itu tertinggal sendirian dan menjadi sasaran empuk. Pada 2022, kapal perang Rusia Moskva tenggelam hanya oleh dua rudal yang ditembakkan dari pantai.

Yang paling berbahaya: rusaknya cara berpikir

Kapal bisa diganti dan uang bisa dicari lagi. Yang paling sulit diperbaiki adalah cara berpikir manusia yang mengawakinya.

Coba bayangkan seorang taruna yang lulus dari Akademi Angkatan Laut tahun depan. Sepuluh tahun pertama kariernya akan diisi latihan, tugas, dan ujian di sekitar kapal induk. Inilah beberapa hal yang perlahan bisa bergeser di kepalanya.

1. Pertanyaannya berubah. Perwira yang baik selalu bertanya, “Dari pintu mana musuh akan datang?” Perwira yang terbiasa dengan kapal induk akan bertanya, “Bagaimana melindungi kapal kita?” Kedengarannya mirip, tapi hasilnya berlawanan. Yang pertama menjaga negara, yang kedua menjaga sebuah benda.

2. Gengsi mengalahkan fungsi. Kapal besar terlihat gagah di foto, di parade, dan di upacara. Lama-lama, ukuran keberhasilan bergeser dari “apakah selat kita aman?” menjadi “seberapa megah armada kita terlihat?” Padahal musuh tidak takut pada foto. Mereka takut pada selat yang dijaga ketat.

3. “Sudah terlanjur, sayang kalau tidak dipakai.” Ini jebakan yang sangat manusiawi. Karena sudah keluar triliunan rupiah, orang merasa wajib terus memakai dan membela kapal itu, walaupun tidak cocok dengan kebutuhan. Thailand mengalaminya: kapal induknya sudah hampir 30 tahun jarang berlayar dan pesawatnya sudah lama pensiun, tapi kapalnya terus dipertahankan dengan berbagai alasan baru.

4. Karier mengikuti kapal. Jabatan paling bergengsi akan melekat pada kapal induk, sehingga perwira-perwira terbaik berlomba ke sana. Kapal selam, kapal cepat rudal, dan pasukan rudal pantai, yang justru menjadi penjaga pintu yang sebenarnya, ditinggalkan oleh orang-orang terbaiknya.

5. Naluri berkumpul. Apa yang dilatih bertahun-tahun akan menjadi naluri. Perwira yang sepuluh tahun berlatih berkumpul di sekitar satu kapal akan secara refleks mengumpulkan kekuatan saat krisis datang. Padahal geografi kepulauan menuntut sebaliknya: menyebar dan menjaga semua pintu.

Berapa lama kerusakannya bertahan?

Kalau kapal ini dipakai 15 tahun, sekitar 15 angkatan perwira akan dibentuk dengan pola pikir itu. Taruna yang lulus pada 2041 baru akan menjadi laksamana sekitar 25–30 tahun kemudian. Artinya, cara berpikir yang keliru itu bisa ikut menentukan kebijakan pertahanan laut kita sampai sekitar tahun 2070.

Lima belas tahun memakai satu kapal bisa berarti hampir setengah abad cara berpikir yang salah arah. Sriwijaya juga begitu: kekalahan dalam satu musim serangan, lalu berabad-abad tidak pernah pulih.

Untuk generasi muda

Kamu mungkin tidak akan pernah memakai seragam angkatan laut. Tapi kamu tinggal di negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, dan masa depanmu ikut ditentukan oleh siapa yang menguasai selat-selatnya. Jalur kapal pembawa barang yang kamu beli, bahan bakar yang kamu pakai, dan ikan yang kamu makan semuanya melewati pintu-pintu itu.

Karena itu, pahamilah satu hal sederhana yang sudah diajarkan sejarah kita sendiri:

Negara kepulauan tidak dijaga oleh satu kapal yang besar, tetapi oleh banyak mata dan banyak penjaga di setiap pintunya.

Kapal besar boleh membuat kita bangga. Tapi kebanggaan yang memaksa kita meninggalkan pintu-pintu lain adalah kebanggaan yang dulu meruntuhkan Sriwijaya.

Di usia ke-81 TNI, mari kita ingat pelajaran seribu tahun itu. Jaga semua pintu. Jangan sampai kita mengulang 1025.

Dirgahayu TNI ke-81.

*Kabais TNI 2011-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar