Kapal dan Pelabuhan: Kisah Cinta yang Tidak Perlu Dimerger
Jakarta 2 Oktober 2026
Oleh : Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B Ponto. ST, SH, MH
Konon, di dunia maritim ada sepasang kekasih yang paling setia sepanjang sejarah, yaitu Kapal dan Pelabuhan.
Kapal itu lelaki sejati. Tubuhnya gagah, mesinnya menderu, dan hobinya berlayar ke sana kemari. Hari ini di Tanjung Priok, besok di Makassar, lusa sudah menyapa Sorong. Kalau ditanya mau ke mana, jawabannya selalu sama: "Tergantung trayek, Dik." Kalau ditanya kapan pulang: "Tergantung cuaca, Dik."
Pelabuhan itu perempuan yang setia. Ia tidak ke mana-mana, karena memang tugasnya menanti. Dermaganya selalu bersih, lampunya menyala sepanjang malam, dan alur pelayarannya dikeruk rapi supaya sang kekasih tidak kandas waktu pulang.
Begitu Kapal bersandar, Pelabuhan langsung sigap melayani kebutuhan 4R:
- Repair: "Mas, ini lambungnya kok penyok? Sini diperbaiki dulu."
- Replenishment: bahan bakar diisi, air tawar ditambah, logistik dimuat. "Jangan lupa makan, perjalanan masih jauh."
- Rest: awak kapal dipersilakan istirahat. Mesin dimatikan, jangkar diturunkan, hati ditenangkan.
- Recreation: para pelaut turun ke darat mencari kopi, sinyal, dan sedikit hiburan, sebelum kembali melaut.
Setelah semua beres, Kapal pamit lagi. Klakson kapal berbunyi panjang, tuuut..., dan Pelabuhan hanya bisa melambaikan tali tambat sambil berbisik, "Hati-hati, Mas. Jangan lupa bayar jasa labuh."
Hubungan ini sudah harmonis puluhan tahun. Kapal tahu ke mana harus pulang, dan Pelabuhan tahu siapa yang akan datang. Bahkan negara sudah meresmikan hubungan mereka lewat UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Kapal diatur dalam bab Angkutan di Perairan, Pelabuhan dalam bab Kepelabuhanan. Satu ikatan, dua peran.
Lalu suatu hari datang seorang konsultan yang bersemangat sekali membawa infografis. Katanya: "Bagaimana kalau Kapal dan Pelabuhan kita merger saja? Biar efisien!"
Semua orang terdiam.
Kalau dimerger, siapa yang menanti? Pelabuhan ikut berlayar, atau Kapal disuruh diam di tempat dan dicor ke dermaga? Yang satu disuruh setia sekaligus kelayapan, yang satu lagi disuruh kelayapan sambil menjaga rumah. Ini bukan efisiensi, ini krisis identitas rumah tangga.
Belum lagi urusan kapal-kapal lain. Selama ini Pelabuhan ramah kepada semua kapal yang singgah, termasuk kapal swasta, kapal rakyat, dan kapal asing, karena memang itulah profesinya. Kalau Pelabuhan sudah "satu KK" dengan PELNI dan ASDP, kapal lain pasti curiga: "Dermaga kosong kok kami disuruh antre? Oh, nunggu suami pulang dulu, ya?"
Kapal dan Pelabuhan itu memang jodoh, tapi jodoh yang saling melengkapi, bukan saling meleburkan diri. Seperti suami istri yang bahagia: rumahnya boleh satu tujuan, tapi KTP-nya tetap dua.
Jadi kepada para perancang roadmap, izinkan Kapal tetap berlayar dan Pelabuhan tetap menanti. Kalau mau mesra, sinkronkan jadwalnya, satukan datanya, dan rapikan komunikasinya. Tidak perlu dinikahkan dua kali dalam satu akta holding.
Sebab cinta di laut itu sederhana: kapal yang pergi, pelabuhan yang menanti. Kalau keduanya pergi, siapa yang menyalakan lampu suar?
Salam bahari,
Soleman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar