Tragedi di Balik Selembar Stiker
Jakarta 24 Februari 2024
Oleh : Laksda TNI Purn Soleman B Ponto, ST, SH, MH, CPM, CPARB
"Selamat datang di era di mana kejujuran tidak lagi cukup hanya dengan perilaku, melainkan harus dibuktikan dengan tempelan kertas.
Belakangan ini, ruang publik kita diramaikan oleh sebuah rencana besar dari pemerintah. Sebuah kebijakan yang lahir dari niat untuk memberikan kepastian, namun justru berpotensi memicu kebingungan massal di meja makan. Melalui BPJPH, pemerintah berencana mewajibkan setiap produk atau rumah makan yang tidak bersertifikat halal untuk memasang label atau stiker 'Non-Halal'.
Logikanya terdengar sangat administratif: dunia ini hanya dibagi dua, yaitu Hitam dan Putih. Barangsiapa yang tidak memegang sertifikat 'Putih', maka secara otomatis ia harus melabeli dirinya sebagai 'Hitam'. Tidak boleh ada ruang abu-abu, tidak boleh ada wilayah 'tahu sama tahu', dan tidak boleh ada kearifan lokal yang tersisa.
Namun, apa yang terjadi jika aturan yang kaku ini masuk ke sela-sela warung kopi, kedai sate, hingga dapur-dapur kecil di pinggir jalan? Di sana, ada sebuah hukum yang lebih tua dari undang-undang manapun—sebuah hukum yang tidak tertulis namun ditaati dengan rasa percaya, yang kita kenal sebagai Living Law.
Kisah berikut ini adalah sebuah potret lucu, sekaligus getir, tentang bagaimana sebuah rencana stikerisasi dari pemerintah mencoba menabrak insting dan logika sehat masyarakat yang selama puluhan tahun sudah hidup rukun dalam perbedaan tanpa perlu saling melabeli..."
Ironi di Rumah Haji Komar.
Haji Komar adalah sosok yang sangat dihormati di kampungnya. Beliau baru pulang haji tahun lalu, sering mengimami salat, dan sangat rajin bersedekah. Namun, selain taat beribadah, Haji Komar adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa lini bisnis, termasuk peternakan dan rumah makan khusus yang menyajikan kuliner khas daerah untuk segmen pasar tertentu—yang kebetulan semuanya non-halal.
Suatu sore, petugas dari badan pelabelan datang ke rumah besar Haji Komar. Karena rumah tersebut juga menjadi kantor pusat bisnisnya dan tempat penyimpanan stok, petugas itu membawa satu truk stiker sesuai instruksi terbaru dari pusat.
"Pak Haji," kata petugas dengan sopan tapi tegas, "Sesuai aturan baru tentang kewajiban labelisasi ganda, karena semua unit usaha Bapak belum atau tidak masuk kategori halal, maka seluruh area operasional, termasuk gudang dan kantor di rumah ini, harus dipasangi stiker 'NON-HALAL' secara mencolok."
Haji Komar yang baru saja selesai salat Ashar dan masih memakai peci putih serta sarung, hanya bisa melongo.
Satu jam kemudian, pemandangan di rumah Haji Komar berubah total. Di pagar depan terpampang stiker merah besar: "DI SINI AREA NON-HALAL". Di pintu ruang tamu ditempeli: "KHUSUS NON-HALAL". Bahkan di dispenser air di teras rumah yang sering dipakai warga yang lewat, tertempel stiker: "AIR NON-HALAL".
Tak lama kemudian, datanglah Pak Bon untuk bertamu. Beliau berhenti di depan pagar, mengucek mata berkali-kali melihat rumah Haji Komar yang sekarang sudah mirip seperti zona karantina.
"Assalamu’alaikum, Pak Haji!" seru Pak Bon dari luar pagar sambil tertawa tertahan.
Haji Komar keluar dengan wajah masygul. "Wa’alaikumussalam, Pak Bon. Aduh, jangan tertawa. Saya pusing ini."
"Wah, Pak Haji," kata Pak Bon sambil menunjuk stiker besar di jidat pintu rumah, "Kalau orang lewat tidak tahu urusan bisnis Anda, mereka bakal mengira yang 'Non-Halal' itu orangnya, bukan dagangannya! Lihat itu, ada Haji pakai peci putih, tapi di sampingnya ada tulisan 'NON-HALAL' besar sekali. Ini namanya pembunuhan karakter lewat stiker!"
Haji Komar mengeluh, "Itulah, Pak Bon! Tadi si petugas bilang, kalau tidak ditempeli, rumah saya dianggap tempat ilegal. Sekarang, gara-gara stiker ini, tadi tukang sayur lewat sampai istighfar tiga kali lihat pagar saya. Dia pikir saya sudah murtad atau pindah aliran!"
Pak Bon tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya. "Inilah lucunya kalau birokrasi cuma main tempel tanpa pakai logika Living Law. Mereka ingin melindungi konsumen, tapi malah bikin tetangga curiga. Di mata aturan, Pak Haji ini 'Administratif Non-Halal'. Tapi di mata warga, stiker itu malah bikin Pak Haji jadi 'Haji yang Diharamkan'!"
Haji Komar hanya bisa mengurut dada. "Kalau begini terus, besok-besok mungkin saya mau ke masjid pun harus ditempeli stiker di punggung: 'ORANGNYA HALAL, DAGANGANNYA SAJA YANG TIDAK' supaya tidak dilempari sandal oleh warga!"
Pak Bon menepuk bahu Haji Komar, "Itulah Masalahnya, Pak Haji. Ketika pemerintah memaksa semua yang 'tidak putih' harus dicap 'hitam', mereka lupa kalau di tengah-tengah itu ada Pak Haji yang jiwanya putih tapi bisnisnya warna-warni!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar