2 Januari 2026

Bukti Sudah Terpampang Nyata: Membuka Sawit di Papua Adalah Mengundang Bencana

Bukti Sudah Terpampang Nyata: Membuka Sawit di Papua Adalah Mengundang Bencana

Jakarta 02 Januari 2026
Oleh : Laksda TNI Purn Soleman B Ponto, ST, SH, MH.

Banjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh dan Sumatera Barat baru-baru ini bukanlah sekadar "amukan alam". Itu adalah fakta berdarah dan bukti tak terbantahkan dari kegagalan kita mengelola lingkungan. Lumpur yang menimbun rumah warga dan air bah yang menghanyutkan nyawa adalah "tagihan" yang harus dibayar akibat hilangnya hutan penyangga demi ambisi perkebunan monokultur, terutama sawit.

Kini, dengan bukti kehancuran yang sudah terpampang jelas di depan mata, sungguh mengerikan melihat pemerintah dan investor justru bernafsu melakukan hal yang sama di Tanah Papua.

Geografi Kembar: Resep Bencana yang Sama

Kita harus berhenti menipu diri sendiri dengan mengatakan "Papua berbeda". Secara geografis, alam Papua memiliki kerawanan yang mirip—bahkan lebih ekstrem—dibandingkan Sumatera. Papua memiliki tulang punggung pegunungan yang curam dan dikelilingi oleh hamparan rawa basah yang luas.

Jika sawit dipaksakan masuk ke sana, skenario bencananya sudah bisa diprediksi secara ilmiah:

  1. Di Lereng Gunung (Skenario Aceh/Sumbar): Hutan hujan tropis dengan akar tunjangnya yang kokoh adalah satu-satunya penahan tanah di lereng pegunungan Papua yang curam. Sawit, dengan akar serabutnya, tidak memiliki daya cengkeram yang sama. Mengganti hutan lereng dengan sawit sama dengan melucuti "paku bumi". Saat curah hujan ekstrem turun—dan Papua punya curah hujan sangat tinggi—tanah itu pasti longsor. Sungai di hilir akan tersumbat lumpur, memicu banjir bandang yang menyapu segalanya.
  2. Di Dataran Rendah (Skenario Kematian Lahan): Dataran rendah Papua adalah rawa dan gambut. Untuk menanam sawit, rawa ini harus "dibunuh" dengan cara dikeringkan lewat kanalisasi. Akibatnya fatal: Tanah gambut yang kering akan menyusut dan amblas (subsidence). Ketika permukaan tanah turun, air laut akan masuk mengintrusi daratan. Tanah menjadi asin, air tawar hilang, dan wilayah tersebut akan tenggelam permanen. Kita tidak hanya mengundang banjir, tapi kita sedang menenggelamkan pulau.


Jangan Lebih Bodoh dari Keledai.

Ada pepatah lama yang menohok: "Keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali."

Keledai, hewan yang sering dianggap bodoh, punya insting untuk menghindari bahaya yang pernah ia alami. Lalu, bagaimana dengan kita manusia yang mengaku berakal budi?

Kita sudah melihat Sumatera hancur. Kita sudah melihat ribuan rakyat Aceh dan Minang menderita akibat banjir yang dipicu alih fungsi lahan. Jika kita nekat mengulang pola yang sama persis di Papua—membabat hutan hulu dan mengeringkan rawa—maka kita menempatkan derajat kita lebih rendah daripada keledai.

Itu bukan lagi kelalaian, itu adalah kebodohan yang disengaja.

Hentikan Romantisasi "Emas Hijau"

Narasi bahwa sawit akan menyejahterakan Papua adalah ilusi jika bayarannya adalah kerusakan lingkungan permanen. Apa gunanya pendapatan daerah naik jika rakyatnya harus hidup di pengungsian karena kampungnya tenggelam atau tertimbun longsor?

Papua adalah benteng terakhir. Biarkan ia tetap hijau dengan sagu dan hutannya. Jangan paksa Papua menanggung dosa ekologis yang sama seperti Sumatera. Cukup sudah kita melihat air mata di Barat Indonesia, jangan kita ciptakan air mata baru di Timur Indonesia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar