3 Januari 2026

SURAT UNTUK PAPUA: JANGAN SAMPAI AIR MATA ACEH MENGALIR DI PAPUA

SURAT UNTUK PAPUA: JANGAN SAMPAI AIR MATA ACEH MENGALIR DI PAPUA

Saudara-saudaraku di Tanah Papua, dan Tuan-Tuan Pembuat Kebijakan di Jakarta.

Hari ini, kita harus bicara jujur. Tanpa tedeng aling-aling. Tanpa bahasa birokrasi yang membius.

Lihatlah ke Barat. Lihatlah Aceh yang tenggelam dalam lumpur. Lihatlah Sumatera Barat yang luluh lantak dihantam galodo dan longsor. Apakah kalian pikir itu murka Tuhan semata? Tidak. Itu adalah hasil panen dari keserakahan manusia yang melawan hukum alam. Itu adalah akibat ketika hutan penyangga di lereng gunung diganti dengan tanaman sawit demi mengejar cuan.

Dan kini, kita melihat monster yang sama sedang mengetuk pintu Papua.

Ilusi Malaysia dan Kebohongan Geografi.

Tuan-tuan investor sering berbisik manis, "Lihat Malaysia, mereka kaya raya karena sawit. Papua bisa seperti mereka."

Itu adalah kebohongan terbesar abad ini.

Mereka lupa memberitahu satu hal: Tanah Papua itu BUKAN Malaysia. Malaysia menanam sawit di tanah mineral yang datar dan landai. Sedangkan Papua? Papua adalah punggung naga. Papua adalah hamparan pegunungan tinggi yang curam dan terjal, dikelilingi oleh rawa-rawa basah yang dalam.

Alam Papua itu "kembar identik" dengan Aceh dan Sumatera Barat. Ia indah, tapi ia rapuh.

Skenario Kiamat Kecil.

Jika kebijakan membuka jutaan hektar sawit dan Food Estate di Papua diteruskan, kita tidak perlu menjadi peramal untuk tahu apa yang akan terjadi. Fisika dan gravitasi akan memberikan jawabannya:

  1. Di Lereng Gunung: Ketika hutan hujan Boven Digoel dan pegunungan tengah dibabat untuk sawit, kalian sedang mencabut "paku bumi". Akar sawit yang serabut tidak akan mampu menahan tanah Papua yang curam saat dihajar hujan badai. Hasilnya? Tanah itu akan meluncur ke bawah. Kampung-kampung di lembah akan terkubur. Sungai akan tersumbat lumpur. Kalian akan mengimpor banjir bandang Aceh ke halaman rumah orang Papua.
  2. Di Dataran Rendah Merauke: Di Selatan, kalian mengeringkan rawa dan gambut untuk Tebu dan Sawit. Kalian membuat kanal untuk membuang air. Tahukah kalian apa yang terjadi? Tanah gambut itu akan kering, menyusut, dan amblas. Permukaan tanah akan turun di bawah permukaan laut. Air asin akan masuk, sumur akan mati, dan lahan itu akan tenggelam selamanya.

Jangan Lebih Bodoh dari Keledai

Ada pepatah tua yang menyakitkan: "Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali."

Kita, Bangsa Indonesia, sudah jatuh ke lubang itu di Sumatera. Kita sudah melihat air mata saudara kita di Aceh dan Minang. Kita sudah melihat rumah hanyut dan nyawa melayang karena salah urus hutan.

Lalu, apakah kita akan nekat menggali lubang yang sama di Papua? Jika kita tahu itu bahaya tapi tetap melakukannya, maka maafkan saya jika saya berkata: Kita lebih menyedihkan daripada keledai. Keledai tidak punya akal, tapi kita punya.

Pilihan di Tangan Kita.

Tuan-tuan, hentikan kegilaan ini. Jangan korbankan benteng terakhir hutan tropis kita demi grafik ekonomi semu.

Papua tidak butuh menjadi Malaysia KW. Papua tidak butuh menjadi lumbung sawit jika harganya adalah nyawa rakyatnya. Biarkan Sagu tetap tegak, biarkan hutan tetap hijau.

Jangan sampai 10 tahun lagi, kita menangis melihat berita banjir bandang di Papua, sambil menyesal dan berkata: "Dulu kita sudah diingatkan, tapi kita menutup telinga."

Selamatkan Papua. Sebelum ia menjadi cermin retak dari Aceh dan Sumatera.

Padalarang, 3 Januari 2026,
Laksda TNI (Purn) Soleman B Ponto, ST, SH, MH

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar