BAIS TNI DAN CAMBUK PEMBENAHAN
Jakarta 19 Maret 2026
Oleh : Laksda TNI Purn Adv Soleman B Ponto, ST, SH, MH, CPM, CPARB
KABAIS TNI 2011-2013
Pernyataan Danpuspom TNI bahwa empat prajurit yang diduga melakukan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus merupakan anggota Denma BAIS TNI menempatkan perkara ini tidak lagi sekadar sebagai tindak pidana biasa, tetapi sebagai persoalan serius yang menyentuh profesionalitas dan kehormatan institusi intelijen militer.
Namun dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa para pelaku berasal dari matra Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU). Di sinilah muncul persoalan yang perlu dikritisi secara tajam dan proporsional.
Bahaya Penyebutan Matra: Distorsi Tanggung Jawab Komando.
Secara organisatoris telah ditegaskan bahwa:
para pelaku adalah anggota Denma BAIS TNI
Artinya:
- mereka berada dalam struktur BAIS
- mereka bekerja dalam sistem intelijen yang terintegrasi
- mereka tidak lagi bertindak dalam kapasitas operasional matra asal
Dengan demikian, penyebutan matra AL dan AU dalam konteks ini menjadi problematik karena:
1. Mengaburkan Struktur Tanggung Jawab.
Dalam sistem militer, tanggung jawab melekat pada:
- struktur komando saat ini, bukan asal pembinaan
Ketika seorang prajurit sudah:
- ditempatkan
- ditugaskan
- dan bekerja di BAIS
maka:
tanggung jawab operasional sepenuhnya berada pada BAIS, bukan pada matra asal
2. Berpotensi Mengkambinghitamkan Matra.
Penyebutan matra dalam konteks negatif seperti ini berpotensi:
- menyeret nama baik AL dan AU
- menciptakan persepsi publik bahwa matra tertentu terlibat
- padahal tidak memiliki hubungan komando dalam peristiwa tersebut
Ini berbahaya karena:
menyebarkan beban kesalahan ke institusi yang tidak relevan secara operasional
3. Mengganggu Prinsip Integrasi Intelijen.
BAIS TNI dibentuk sebagai:
- organisasi intelijen terpadu lintas matra
Ketika seorang prajurit masuk ke BAIS:
- ia tidak lagi mewakili AL, AU, atau AD
- tetapi menjadi bagian dari satu entitas: BAIS TNI
Maka, mengembalikan identitas matra dalam konteks kesalahan:
bertentangan dengan prinsip integrasi intelijen itu sendiri
4. Menciptakan Disorientasi Publik
Publik yang tidak memahami struktur militer dapat dengan mudah menyimpulkan:
- ini adalah persoalan matra
- bukan persoalan BAIS
Padahal yang seharusnya dipahami adalah:
ini adalah persoalan di dalam tubuh BAIS sebagai satuan intelijen.
Adagium Intelijen: Ukuran Kegagalan Profesional.
Dalam dunia intelijen dikenal adagium:
“Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari, gagal dicaci maki, menang tidak dipuji.”
Maknanya:
- keberhasilan adalah kewajiban
- kegagalan adalah tanggung jawab yang harus dievaluasi keras
Dalam konteks ini:
- pelaku terungkap
- peristiwa terbuka ke publik
- institusi terseret
Maka:
ini adalah indikator kegagalan profesional yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Peran Asintel Panglima TNI dan Asintel Matra: Wajib Membentuk Tim Investigasi Bersama.
Dalam struktur TNI, fungsi intelijen berada dalam koordinasi Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI. Namun karena personel BAIS berasal dari lintas matra, maka dalam kasus ini:
Asintel Panglima TNI harus bertindak bersama-sama dengan Asintel KSAL dan Asintel KSAU untuk membentuk Tim Investigasi Internal Terpadu.
Pendekatan bersama ini penting karena:
- personel berasal dari pembinaan matra (AL dan AU)
- penugasan berada di BAIS
- sehingga terdapat irisan antara fungsi pembinaan dan fungsi operasional
Tujuan Pembentukan Tim Bersama.
- Menjamin objektivitas lintas matra dan BAIS
- Menghindari konflik kepentingan internal
- Menutup celah saling lempar tanggung jawab
- Memastikan pertanggungjawaban komando dari hulu ke hilir
- Menjaga kehormatan seluruh matra sekaligus BAIS sebagai satu kesatuan
Mandat Investigasi Terpadu.
Tim gabungan ini harus bekerja secara sistematis dengan mandat sebagai berikut:
1. Menguji Status Penugasan
- apakah ada sprint resmi
- apakah ada penggunaan fasilitas kedinasan
- bagaimana posisi personel saat kejadian
melibatkan data BAIS dan data pembinaan matra
2. Menelusuri Rantai Komando Ganda.
Karena personel berasal dari matra tetapi bertugas di BAIS, maka harus ditelusuri:
- rantai komando operasional di BAIS
- rantai pembinaan dari matra asal
- kemungkinan irisan atau celah koordinasi
ini penting untuk memastikan:
tidak ada kekosongan tanggung jawab komando.
3. Mengurai Perencanaan dan Pelaksanaan.
- bagaimana target ditentukan
- siapa yang menginisiasi
- bagaimana koordinasi dilakukan
termasuk kemungkinan:
- perintah formal
- perintah informal
- atau pembiaran sistem
4. Audit Penyalahgunaan Institusi.
- apakah BAIS dijadikan tameng
- apakah ada rasa kebal hukum
- apakah ada penyalahgunaan jaringan intelijen
jika ada:
ini menunjukkan kegagalan sistemik, bukan sekadar individual
5. Evaluasi Sistem Pembinaan dan Pengawasan.
Karena melibatkan lintas matra:
- bagaimana pembinaan personel dilakukan
- apakah ada kelemahan dalam kontrol perilaku
- apakah ada kegagalan dalam deteksi dini
ini menjadi tanggung jawab bersama:
- BAIS
- matra asal
BAIS Tidak Boleh Defensif.
BAIS TNI tidak boleh merespons dengan:
- kemarahan
- pembelaan diri
- atau pengalihan isu
Sebaliknya:
harus menjadikan ini sebagai cambuk pembenahan internal lintas struktur.
OUTPUT YANG HARUS DIHASILKAN.
Tim investigasi bersama harus menghasilkan:
- Penetapan tanggung jawab komando lintas struktur
- Pemetaan kegagalan sistem BAIS dan matra
- Rekomendasi reformasi intelijen terpadu
- Langkah disiplin terhadap pihak yang lalai
- Penguatan integrasi BAIS sebagai satu entitas, bukan agregasi matra
PENUTUP.
Kasus ini adalah ujian bagi BAIS TNI dan seluruh sistem intelijen TNI.
Penyebutan matra AL dan AU dalam konteks ini harus diluruskan:
karena ketika prajurit telah berada di BAIS, maka ia bukan lagi representasi matra, tetapi bagian dari satu sistem intelijen terpadu.
Dan karena itu:
tanggung jawab tidak boleh dipecah, tetapi harus ditarik ke satu kesatuan komando yang utuh.
Akhirnya, adagium intelijen harus dimaknai dengan benar:
“Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari, gagal dicaci maki, menang tidak dipuji.”
Maka “caci maki” di sini adalah:
evaluasi keras lintas struktur, koreksi menyeluruh, dan keberanian membersihkan sistem secara kolektif.
Jika itu dilakukan, maka:
- kehormatan BAIS terjaga
- nama baik matra tidak tercemar
- kepercayaan publik pulih
Jika tidak:
yang rusak bukan hanya individu, tetapi sistem intelijen TNI secara keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar