29 Maret 2026

KETIKA KOLONEL TERHENTI: AWAL DARI ORGANISASI YANG KEHILANGAN KENDALI

KETIKA KOLONEL TERHENTI: AWAL DARI ORGANISASI YANG KEHILANGAN KENDALI

Jakarta 29 Maret 2026
Oleh : Laksda TNI Purn Soleman B Ponto. ST, SH, MH

 

I. REALITAS YANG TERJADI

Ada satu fenomena yang sering tidak disadari, tetapi dampaknya sangat nyata.

Dalam banyak satuan, termasuk di lingkungan strategis seperti BAIS, saat ini muncul kondisi dimana : alur komando dari Perwira Tinggi berhenti di tingkat Kolonel.

Perintah ada. Arahan ada. Kebijakan ada.

Tetapi : tidak lagi mengalir secara efektif ke bawah.

Akibatnya, di tingkat Kapten dan Letnan:

  • mereka mulai menafsirkan sendiri perintah, 
  • mereka mulai bertindak berdasarkan pemahaman masing-masing, 
  • dan pada akhirnya: 

mereka berjalan sendiri-sendiri.

II. MENGAPA INI TERJADI?

Jawabannya sederhana, tetapi sering diabaikan:

Kolonel sebagai penghubung utama kehilangan daya dorong.

Ketika Kolonel:

  • tidak punya harapan naik, 
  • terjebak dalam stagnasi karier, 
  • dan melihat jalur di atasnya tertutup, 

maka secara psikologis dan struktural:

ia tidak lagi menjadi penggerak, tetapi hanya menjadi penyambung formal.

Perintah tetap diteruskan, tetapi tidak lagi diinternalisasi dan dikawal dengan kekuatan penuh.

III. DAMPAK LANGSUNG DI LAPANGAN.

Ketika Kolonel melemah, maka yang terjadi bukan langsung chaos.
Yang terjadi lebih halus—dan justru lebih berbahaya:

1. Fragmentasi komando

Kapten dan Letnan tidak lagi mendapat arahan yang kuat dan konsisten.

2. Interpretasi liar

Perintah ditafsirkan berbeda-beda, tergantung persepsi masing-masing.

3. Inisiatif tanpa kontrol

Muncul tindakan-tindakan sendiri tanpa koordinasi yang memadai.

4. Hilangnya disiplin operasional

Bukan karena melawan, tetapi karena tidak ada lagi pengendali yang benar-benar mengikat.

IV. INI BUKAN MASALAH TEKNIS—INI MASALAH STRUKTUR.

Kesalahan terbesar adalah menganggap ini sebagai masalah individu.

Padahal ini adalah: masalah struktural yang dimulai dari kebijakan.

Ketika:

  • Perwira Tinggi diperpanjang masa dinasnya, 
  • tetapi Kolonel tidak diberi ruang yang cukup, 

maka yang terjadi adalah: penyumbatan di tengah.

Dan setiap penyumbatan di tengah sistem: pasti merusak aliran di bawahnya.

V. BAHAYA YANG SESUNGGUHNYA

Bahaya ini tidak langsung terlihat oleh Jenderal. Tidak juga oleh Letjen.

Tetapi di bawah, realitasnya berbeda.

Ketika Kapten dan Letnan mulai: “jalan sendiri-sendiri, suka-suka mereka,”

maka itu bukan karena mereka tidak disiplin.

Tetapi karena: sistem pengendalian melalui Kolonel sudah melemah.

VI. KESIMPULAN 

Tidak perlu ditutup-tutupi: Ketika Kolonel terhenti, organisasi kehilangan kendali.

Dan lebih jauhlagi : Perpanjangan usia pensiun yang tidak diimbangi dengan pengelolaan Kolonel yang baik, berpotensi menciptakan kondisi di mana perintah ada, tetapi kendali tidak ada.

VII. PENUTUP. 

“Organisasi tidak runtuh karena tidak ada perintah, tetapi karena perintah tidak lagi dikendalikan.”

Dan ketika itu terjadi: yang berjalan bukan lagi sistem, tetapi individu-individu yang bergerak sendiri-sendiri. Seperti terlihat pada kasus Andri.

“Jika keadilan masih memiliki arti dalam tubuh militer, maka satu prinsip tidak boleh ditawar: usia pensiun harus sama untuk semua. Perpanjangan usia hanya untuk segelintir perwira tinggi bukanlah kebijakan, melainkan bentuk ketidakadilan yang dilegalkan. Kolonel bekerja, berjuang, dan memikul beban operasional paling berat, tetapi justru dipaksa berhenti ketika mereka berada di puncak kematangan. Sementara itu, perwira tinggi diberi ruang untuk memperpanjang masa jabatan demi kepentingan struktural, bukan kepentingan organisasi.”

“Ini bukan sekadar soal usia pensiun. Ini soal penghancuran moral organisasi. Ketika keadilan hilang di tingkat menengah, maka yang lahir adalah frustrasi, stagnasi, dan pada akhirnya pembangkangan diam-diam. Sejarah dunia sudah membuktikan: kolonel yang tidak dipelihara dengan baik adalah sumber instabilitas paling berbahaya. Mereka adalah tulang punggung operasi, tetapi diperlakukan sebagai korban sistem.”

“Mengembalikan usia pensiun yang sama bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan tindakan strategis untuk menyelamatkan militer dari keretakan internal. Jika tidak, maka kita sedang menanam bom waktu dalam tubuh sendiri—bom yang tidak meledak dengan suara, tetapi menghancurkan dari dalam.”

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar