27 Juli 2026

GARIBALDI KAPAL INDUK PENGHISAP ANGGARAN

 GARIBALDI KAPAL INDUK PENGHISAP ANGGARAN

Diterima Gratis, Dibiayai Triliunan

Jakarta 27 Juli 2026
Oleh : Soleman B Ponto, ex Kepala Kamar Mesin KRI Badik dan KRI Keris.

Empat Turbin Gas Tua, Teknologi Lama, dan Tagihan Baru untuk Indonesia.

Bayangkan sebuah kapal induk besar memasuki pelabuhan Indonesia.

Panjangnya sekitar 180 meter. Dek penerbangannya luas. Bendera Merah Putih berkibar. Prajurit berbaris di sepanjang geladak. Helikopter terbang melintas di atas kapal.

Kapal itu tentu akan terlihat gagah.

Lebih menarik lagi, kapal tersebut dikatakan akan diterima secara gratis. Indonesia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli badan kapalnya.

Tetapi kapal perang tidak dapat dinilai hanya dari harga penyerahannya.

Kapal harus diisi bahan bakar. Mesinnya harus dirawat. Awak kapalnya harus dilatih, digaji, dan diberi makan. Suku cadangnya harus tersedia. Kapal harus masuk dok. Kerusakan harus diperbaiki.

Karena itu, pertanyaan yang sebenarnya bukan:

Berapa harga Garibaldi ketika diserahkan kepada Indonesia?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Berapa besar uang rakyat yang harus dikeluarkan agar empat turbin gas tua Garibaldi tetap dapat berputar?

Empat LM2500 tua di dalam Garibaldi

Giuseppe Garibaldi menggunakan empat turbin gas FIAT/General Electric LM2500 dalam konfigurasi COGAG. Keempat turbin tersebut menggerakkan dua poros melalui dua reduction gear, dengan total daya propulsi sekitar 60.400 kilowatt. Kapal ini dirancang pada akhir 1970-an, diluncurkan pada 1983, dan mulai berdinas pada pertengahan 1980-an.

Artinya, yang akan diterima Indonesia bukan empat mesin baru.

Yang diterima adalah empat turbin gas beserta seluruh instalasi pendukung yang telah digunakan selama lebih dari empat puluh tahun.

Yang sudah berumur bukan hanya inti turbinnya, tetapi juga:

  • sistem pengendalian mesin;
  • pompa bahan bakar;
  • pipa;
  • filter;
  • sistem pelumasan;
  • sistem pendinginan;
  • sensor temperatur;
  • sensor getaran;
  • saluran udara masuk;
  • saluran gas buang;
  • reduction gear;
  • poros;
  • baling-baling;
  • panel listrik;
  • sistem pengamanan ruang mesin.

Dokumen resmi Angkatan Laut Italia pada 2022 bahkan secara khusus menyebut perlunya pemeliharaan, intervensi korektif, bantuan rekayasa, penyediaan suku cadang, serta penyelesaian masalah keusangan teknologi pada turbin LM2500 Garibaldi.

Keterangan itu sangat penting.

Masalah Garibaldi bukan sekadar mesin perlu diganti oli atau dibersihkan. Negara asalnya sendiri telah menghadapi persoalan komponen dan sistem yang mengalami keusangan.

Jika kapal dipindahkan ke Indonesia, keusangan itu tidak hilang.

Keusangan tersebut ikut diserahkan bersama kapalnya.

Indonesia sebenarnya sudah pernah memiliki empat LM2500 tua

LM2500 bukan teknologi yang sama sekali baru bagi Indonesia.

Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Indonesia menerima empat kapal cepat rudal kelas Mandau, yang juga dikenal sebagai KCR-PSK. Keempat kapal tersebut adalah:

  1. KRI Mandau-621;
  2. KRI Rencong-622;
  3. KRI Badik-623;
  4. KRI Keris-624.

Setiap kapal menggunakan satu turbin gas General Electric-Fiat LM2500 dan dua mesin diesel MTU dalam konfigurasi CODOG. Mesin diesel digunakan untuk pelayaran biasa, sedangkan LM2500 digunakan ketika kapal membutuhkan kecepatan tinggi.

Dengan demikian, Indonesia pernah mempunyai empat LM2500 lama:

  • satu pada KRI Mandau;
  • satu pada KRI Rencong;
  • satu pada KRI Badik;
  • satu pada KRI Keris.

Garibaldi akan membawa empat LM2500 lama lagi.

Artinya, Indonesia bukan sedang diperkenalkan kepada teknologi baru.

Indonesia sedang diminta kembali berhadapan dengan jenis teknologi lama yang sudah dikenalnya sejak sekitar tahun 1980.

Pengalaman KRI Badik dan KRI Keris harus menjadi pelajaran

Pada kapal kelas Mandau, LM2500 tidak digunakan untuk pelayaran rutin.

Kapal dapat berlayar menggunakan dua mesin diesel. Turbin gas hanya dihidupkan apabila diperlukan kecepatan tinggi.

Secara operasional, sebagaimana pengalaman yang menjadi dasar tulisan ini, LM2500 pada KRI Badik dan KRI Keris sudah sangat jarang digunakan.

Hal itu mudah dipahami.

Turbin gas:

  • sangat boros bahan bakar;
  • mahal dipelihara;
  • menambah jam kerja komponen setiap kali digunakan;
  • memerlukan suku cadang khusus;
  • membutuhkan tenaga ahli khusus;
  • lebih berisiko apabila lama tidak dioperasikan secara rutin.

Untuk patroli biasa, menggunakan mesin diesel jauh lebih ekonomis.

Karena itu, pada KRI Badik dan KRI Keris, turbin gas dapat “disimpan” dan hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan.

Data jumlah jam kerja turbin kedua kapal tersebut tidak dipublikasikan secara terbuka. Namun, konfigurasi CODOG membuktikan bahwa kapal memang dirancang agar pelayaran biasa dapat dilakukan dengan mesin diesel, tanpa terus-menerus menggunakan LM2500.

Pada 2023, Kementerian Pertahanan masih membicarakan kemungkinan kerja sama maintenance, repair and overhauluntuk LM2500 yang dipakai KRI Keris dan KRI Badik. Hal itu menunjukkan bahwa pemeliharaan mendalam mesin tersebut memerlukan kerja sama dan kemampuan MRO khusus.

Jadi, pengalaman Indonesia sendiri sudah memberikan peringatan:

Satu LM2500 tua saja jarang digunakan karena boros, mahal, dan sulit dirawat.

Lalu sekarang Indonesia akan menerima kapal yang penggerak utamanya bergantung pada empat LM2500 tua sekaligus.

KRI Rencong juga memberikan peringatan

KRI Rencong-622 mengalami kebakaran dan tenggelam pada 11 September 2018 di perairan Sorong.

Menurut keterangan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut saat itu, api berasal dari ruang turbin gas setelah proses pemanasan turbin mengalami gangguan.

Peristiwa tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap LM2500 pasti akan terbakar.

Namun, peristiwa itu menunjukkan bahwa pengoperasian instalasi turbin gas tua memerlukan:

  • prosedur yang ketat;
  • teknisi yang benar-benar terlatih;
  • sistem keselamatan yang baik;
  • pemeliharaan yang disiplin;
  • pemeriksaan sebelum mesin dihidupkan;
  • kesiapan menghadapi kebakaran ruang mesin.

Pada kapal kelas Mandau hanya terdapat satu LM2500.

Garibaldi mempunyai empat.

Semakin banyak mesin tua yang harus dioperasikan, semakin banyak pula komponen yang dapat mengalami gangguan.

Perbedaan besar antara PSK dan Garibaldi

Inilah perbedaan yang paling penting.

Pada KRI Mandau, KRI Badik, KRI Keris, dan dahulu KRI Rencong, turbin gas bukan satu-satunya pilihan.

Kapal mempunyai dua mesin diesel.

Jika turbin tidak digunakan, kapal masih dapat berlayar menggunakan mesin diesel dengan kecepatan yang lebih rendah.

Garibaldi tidak memiliki pilihan seperti itu.

Empat LM2500 merupakan penggerak utama kapal.

Artinya:

Pada kapal PSK, LM2500 dapat dihemat penggunaannya. Pada Garibaldi, LM2500 harus digunakan agar kapal dapat berlayar.

Teknologi yang pada KRI Badik dan KRI Keris sudah sangat jarang digunakan, justru akan diterima kembali dalam jumlah empat unit dan dijadikan jantung penggerak kapal induk.

Ini bukan langkah maju.

Ini adalah kembali kepada teknologi lama dalam ukuran yang jauh lebih besar, lebih rumit, dan lebih mahal.

Delapan mesin lama, bukan transfer teknologi baru

Jika dihitung secara historis, persoalannya menjadi sangat jelas.

Indonesia pernah mempunyai empat LM2500 tua melalui:

  • KRI Mandau;
  • KRI Rencong;
  • KRI Badik;
  • KRI Keris.

Sekarang Garibaldi membawa empat LM2500 tua lagi.

Jadi pembahasannya bukan mengenai teknologi baru.

Pembahasannya adalah mengenai delapan instalasi turbin lama:

  • empat yang sudah dikenal Indonesia sejak tahun 1980;
  • empat lagi yang akan diterima bersama kapal berusia lebih dari empat puluh tahun.

Pengadaan kapal perang biasanya diharapkan membawa transfer of technology.

Indonesia seharusnya memperoleh:

  • desain baru;
  • metode produksi baru;
  • sistem kendali baru;
  • teknologi propulsi baru;
  • kemampuan membangun komponen;
  • kemampuan melakukan overhaul;
  • kemampuan mengembangkan kapal generasi berikutnya.

Namun, dari Garibaldi, khususnya dari sisi permesinan, teknologi baru apa yang sebenarnya akan diperoleh?

Indonesia sudah mengenal LM2500 sejak lebih dari empat dekade lalu.

Indonesia bahkan sudah mengetahui kelemahannya dalam operasi:

  • boros bahan bakar;
  • mahal dipelihara;
  • jarang digunakan;
  • membutuhkan MRO khusus;
  • memerlukan teknisi khusus;
  • membutuhkan suku cadang khusus.

Kalaupun awak Indonesia diberi pelatihan untuk menjalankan empat mesin Garibaldi, itu bukan transfer teknologi.

Itu hanya pelatihan untuk mengoperasikan kembali teknologi lama.

Transfer teknologi baru seharusnya membuat Indonesia mampu:

  • memproduksi komponennya;
  • memperbaiki ruang bakar;
  • memperbaiki sudu turbin;
  • mengatasi komponen yang sudah tidak diproduksi;
  • melakukan overhaul penuh;
  • melakukan pengujian setelah overhaul;
  • mengubah dan memperbarui sistem kontrol.

Jika kemampuan tersebut tidak diserahkan, maka yang diterima Indonesia bukan teknologi baru.

Yang diterima adalah pekerjaan baru untuk merawat mesin tua.

Kru harus belajar kembali sesuatu yang sudah jarang dipakai

Karena LM2500 pada KRI Badik dan KRI Keris sangat jarang digunakan, pengalaman praktis untuk mengoperasikannya juga menjadi terbatas.

Pengetahuan teknis yang jarang digunakan akan berkurang.

Personel berpindah tugas.

Teknisi memasuki masa pensiun.

Peralatan pengujian menjadi tua.

Dokumentasi tidak selalu lengkap.

Suku cadang semakin sulit diperoleh.

Jika Garibaldi diterima, Indonesia harus kembali menyiapkan:

  • operator empat turbin gas;
  • teknisi ruang bakar;
  • teknisi pompa bahan bakar;
  • teknisi sistem kontrol;
  • teknisi sistem pelumasan;
  • teknisi reduction gear;
  • teknisi poros dan baling-baling;
  • teknisi pemeriksaan getaran;
  • teknisi pemeriksaan borescope;
  • personel pemadam kebakaran ruang mesin;
  • tenaga perencana pemeliharaan;
  • tenaga pengadaan suku cadang.

Mereka bukan belajar teknologi masa depan.

Mereka harus belajar kembali sistem yang berasal dari kapal generasi awal 1980-an.

Empat mesin berarti empat kemungkinan masalah

Satu LM2500 tua mempunyai banyak komponen yang harus diawasi.

Antara lain:

  • nozzle bahan bakar;
  • ruang bakar;
  • kompresor;
  • bearing;
  • seal;
  • sudu turbin;
  • pompa;
  • filter;
  • sistem pelumasan;
  • sensor temperatur;
  • sensor getaran;
  • sistem kontrol.

Garibaldi mempunyai empat mesin.

Artinya terdapat:

  • empat mesin yang harus diperiksa;
  • empat mesin yang memerlukan suku cadang;
  • empat mesin yang dapat mengalami gangguan;
  • empat mesin yang mungkin memerlukan overhaul;
  • empat mesin yang harus dijaga agar tetap mempunyai kinerja seimbang.

Selain itu masih terdapat dua reduction gear, dua poros, dua baling-baling, dan seluruh jaringan pendukung yang juga telah berumur puluhan tahun.

Jadi persoalannya bukan sekadar:

“Apakah LM2500 dapat dihidupkan?”

Persoalannya adalah:

“Berapa lama empat LM2500 tua itu dapat terus bekerja, berapa sering rusak, dan berapa biaya untuk mempertahankannya?”

Bahan bakarnya tidak dapat memakai B50 secara langsung

Dalam perhitungan ini digunakan Pertamina Dex sebagai bahan bakar yang paling mendekati dan paling mudah tersedia di Indonesia.

Harga yang digunakan adalah:

Rp20.000 per liter

Pertamina Dex tidak dianggap sama persis dengan bahan bakar naval F-76.

Namun, Pertamina Dex digunakan sebagai asumsi karena Garibaldi tidak dapat begitu saja dioperasikan menggunakan B50.

B50 mengandung biodiesel atau FAME dalam jumlah tinggi. Sementara itu, tangki, pipa, filter, pompa, seal, nozzle, dan ruang bakar Garibaldi merupakan sistem lama yang tidak boleh langsung dianggap kompatibel dengan B50.

Pertamina Dex pun tetap membawa risiko karena spesifikasinya tidak identik dengan bahan bakar yang sebelumnya digunakan kapal.

Risikonya antara lain:

  • penyemprotan bahan bakar tidak sempurna;
  • filter cepat kotor;
  • nozzle membentuk endapan;
  • temperatur pembakaran tidak merata;
  • timbul titik panas;
  • korosi pada bagian turbin;
  • konsumsi meningkat;
  • tenaga mesin menurun;
  • interval perawatan menjadi lebih pendek;
  • mesin harus dioverhaul lebih cepat.

Jadi, Pertamina Dex dipakai sebagai dasar hitungan karena merupakan pilihan yang paling mungkin.

Namun, pilihan tersebut tetap tidak menghilangkan risiko pada empat turbin lama.

Menghitung lama operasi setahun

Pola operasi yang digunakan adalah:

  • tiga minggu di laut;
  • satu minggu di dermaga.

Dalam satu tahun terdapat 52 minggu.

Kapal berada di laut selama:

52 minggu × 3 ÷ 4 = 39 minggu

Jumlah harinya:

39 minggu × 7 hari = 273 hari

Jumlah jamnya:

273 hari × 24 jam = 6.552 jam

Jadi Garibaldi diasumsikan berlayar selama:

6.552 jam per tahun

Waktu di dermaga:

13 minggu × 7 hari × 24 jam = 2.184 jam per tahun

Contoh hitungan pada kecepatan 15 knot

Daya maksimum Garibaldi adalah 60.400 kilowatt pada acuan kecepatan sekitar 30 knot.

Untuk memperkirakan daya pada 15 knot:

15 ÷ 30 = 0,5

Kemudian:

0,5 × 0,5 × 0,5 = 0,125

Kebutuhan daya:

60.400 × 0,125 = 7.550 kilowatt

Dengan asumsi konsumsi spesifik 0,233 kilogram per kilowatt-jam dan berat bahan bakar 0,84 kilogram per liter:

7.550 × 0,233 = 1.759 kilogram per jam

Ubah menjadi liter:

1.759 ÷ 0,84 = 2.094 liter per jam

Tambahan kondisi laut dan operasi 15 persen:

2.094 × 1,15 = 2.408 liter per jam

Tambahan faktor kapal tua 20 persen:

2.408 × 1,20 = 2.890 liter per jam

Jadi, pada 15 knot, Garibaldi diperkirakan menghabiskan:

2.890 liter per jam

Dalam sehari:

2.890 × 24 = 69.360 liter

Dengan harga Pertamina Dex Rp20.000 per liter:

69.360 × Rp20.000 = Rp1.387.200.000

Artinya, pada kecepatan 15 knot:

sekitar Rp1,39 miliar terbakar setiap hari

Biaya propulsi selama setahun:

2.890 × 6.552 × Rp20.000 = sekitar Rp378,71 miliar

Setelah ditambah kebutuhan generator di dermaga, totalnya menjadi sekitar:

Rp400,55–422,39 miliar per tahun

Biaya bahan bakar pada beberapa kecepatan

Kecepatan

Konsumsi total per tahun

Biaya bahan bakar

15 knot

20,03–21,12 juta liter

Rp400,55–422,39 miliar

18 knot

33,81–34,90 juta liter

Rp676,25–698,09 miliar

20 knot

45,98–47,07 juta liter

Rp919,52–941,36 miliar

25 knot

88,76–89,85 juta liter

Rp1,775–1,797 triliun

Angka tersebut baru bahan bakar.

Belum termasuk:

  • pelumas;
  • suku cadang;
  • penggantian filter;
  • pembersihan nozzle;
  • pemeriksaan ruang bakar;
  • perbaikan turbin;
  • perbaikan reduction gear;
  • pelatihan ulang kru;
  • pembangunan fasilitas MRO;
  • docking;
  • gaji dan makanan awak;
  • pesawat dan helikopter;
  • kapal pengawal.

Biaya sepuluh tahun

Apabila harga bahan bakar tetap Rp20.000 per liter dan tidak terjadi kenaikan harga:

Kecepatan

Biaya BBM setahun

Biaya BBM sepuluh tahun

15 knot

Rp400,55–422,39 miliar

Rp4,01–4,22 triliun

18 knot

Rp676,25–698,09 miliar

Rp6,76–6,98 triliun

20 knot

Rp919,52–941,36 miliar

Rp9,20–9,41 triliun

25 knot

Rp1,775–1,797 triliun

Rp17,75–17,97 triliun

Itu baru biaya bahan bakar agar empat turbin lama dapat menggerakkan kapal.

Belum termasuk kemungkinan bahwa satu atau beberapa mesin harus menjalani overhaul besar.

Tidak ada teknologi yang layak dibanggakan

Kalau Indonesia membeli kapal baru, biaya besar masih dapat dibenarkan apabila Indonesia memperoleh teknologi baru.

Tetapi dalam Garibaldi, Indonesia tidak mendapatkan mesin generasi baru.

Indonesia akan menerima empat mesin tua dari jenis yang sudah pernah dimiliki sejak sekitar 1980.

Pengalaman di KRI Badik dan KRI Keris menunjukkan bahwa mesin tersebut sudah sangat jarang digunakan.

Sekarang Indonesia justru akan menjadikan empat mesin sejenis sebagai penggerak utama sebuah kapal induk.

Kita harus mengeluarkan uang untuk:

  • belajar kembali;
  • menyiapkan kembali teknisi;
  • mencari kembali suku cadang;
  • membangun kembali kemampuan MRO;
  • menyediakan kembali bahan bakar khusus;
  • menanggung kembali masalah mesin tua.

Jadi, yang terjadi bukan transfer of technology.

Yang terjadi adalah:

Transfer of Old Technology

Bahkan lebih tepat lagi:

Transfer of Old Problems and New Bills

Teknologinya lama.

Masalahnya lama.

Tetapi tagihannya baru dan harus dibayar Indonesia.

Gagah untuk upacara, tetapi belum tentu ditakuti

Garibaldi dapat terlihat gagah ketika memasuki pelabuhan.

Kapal itu dapat dipakai untuk parade, upacara, diplomasi pertahanan, atau membawa helikopter.

Namun, dalam peperangan modern, bentuk yang besar tidak otomatis membuat kapal ditakuti.

Kapal besar yang teknologinya tua, mesinnya bermasalah, bahan bakarnya mahal, dan tidak mempunyai sistem pengawal lengkap justru dapat menjadi sasaran bernilai tinggi.

Musuh tidak akan takut karena kapal itu panjang.

Musuh akan menghitung:

  • apakah mesinnya dapat terus bekerja;
  • apakah kapal mampu bergerak cepat;
  • apakah mempunyai pesawat tempur;
  • apakah dilindungi dari rudal;
  • apakah dilindungi dari kapal selam;
  • apakah mampu bertahan dari drone;
  • apakah dapat terus beroperasi tanpa menunggu suku cadang.

Apabila empat LM2500 mengalami masalah dan kapal sering berada di dermaga, maka yang dimiliki Indonesia bukan kapal induk yang menakutkan.

Yang dimiliki adalah kapal besar yang mahal diparkir dan lebih mahal lagi untuk dijalankan.

Penutup

Indonesia sudah pernah memiliki empat LM2500 lama pada:

  • KRI Mandau;
  • KRI Rencong;
  • KRI Badik;
  • KRI Keris.

Satu tenggelam bersama KRI Rencong.

Turbin pada KRI Badik dan KRI Keris sangat jarang digunakan.

Pemeliharaan mendalamnya masih memerlukan pembicaraan kerja sama MRO.

Sekarang Indonesia akan menerima empat LM2500 lama lagi pada Garibaldi.

Perbedaannya, empat turbin Garibaldi tidak dapat disimpan seperti turbin pada kapal PSK.

Keempatnya merupakan jantung penggerak kapal.

Jika turbin tidak digunakan, Garibaldi tidak berlayar.

Jika turbin digunakan, bahan bakarnya menghabiskan ratusan miliar sampai hampir dua triliun rupiah setahun.

Jika turbin rusak, Indonesia harus membayar perbaikannya.

Jika kru belum mampu, Indonesia harus melatih mereka kembali.

Jika suku cadang tidak tersedia, kapal akan menunggu di dermaga.

Pada akhirnya, Indonesia tidak menerima teknologi masa depan.

Indonesia menerima empat mesin tua tambahan untuk melengkapi pengalaman empat mesin tua yang sudah pernah dimiliki sebelumnya.

Kapalnya diberikan gratis.

Teknologinya bukan barang baru.

Mesinnya telah berusia puluhan tahun.

Risikonya harus ditanggung sendiri.

Dan tagihannya harus dibayar oleh rakyat.

KAPAL INDUK PENGHISAP ANGGARAN

Diterima Gratis, Dibiayai Triliunan

Empat Turbin Gas Tua, Teknologi Lama, dan Tagihan Baru untuk Indonesia

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar