BENANG ITALIA
Dari KRI Pattimura sampai KRI Prabu Siliwangi
Jakarta 28 Juli 2026
oleh :
Soleman B Ponto*
Livorno, 1956
Di sebuah galangan di Livorno, pantai barat Italia, pada 8 Januari 1956 sebuah lunas kapal
mulai dipasang. Pesanannya datang dari negara yang baru sepuluh tahun merdeka dan
letaknya belasan ribu kilometer jauhnya.
Enam bulan kemudian kapal itu diluncurkan. Pada 28 Januari 1958 dia resmi masuk dinas
dengan nama RI Pattimura, nomor lambung 257. Adiknya, RI Sultan Hasanuddin,
menyusul enam minggu berikutnya.
Ini bukan kapal bekas. Ini kapal baru, dibeli gres — sesuatu yang jarang terjadi dalam
sejarah pengadaan kita, dulu maupun sekarang.
Kapalnya sendiri sederhana. Kelas Albatros, korvet anti-kapal selam standar NATO yang
dirancang Italia di awal 1950-an dan dibiayai dana Amerika. Bobot standar 800 ton, penuh
950 ton. Panjang 76,3 meter, lebar 9,7 meter. Empat mesin diesel Fiat M409, dua poros,
jarak jelajah sekitar 5.000 mil laut. Awak 110 orang.
Perangkatnya juga apa adanya: radar MLN-1A, sonar QCU-2, empat pucuk meriam 40 mm
Bofors, dua set tabung torpedo Mark 32, dua peluncur Hedgehog, dan rak bom laut di
buritan.
Tidak ada yang spektakuler. Tapi perhatikan satu hal — semua yang dibutuhkan kapal
itu untuk bekerja sudah terpasang sejak hari pertama. Simpan poin ini, nanti kita
kembali ke sini.
Pattimura datang satu paket dengan empat kapal pengawal kelas Almirante Clemente, juga
dari Italia. Jadi dalam waktu singkat, ALRI mendapat enam kapal Italia sekaligus.
Laut Arafura, 1962
Kapal-kapal itu tidak lama menganggur.
Ketika Operasi Trikora bergulir, korvet dan kapal pengawal buatan Italia itu ikut
dikerahkan. Bukan sebagai pajangan, tapi sebagai kekuatan yang benar-benar dipakai
dalam kampanye politik-militer paling menentukan di dekade itu.
Benang Italia · 1Di sinilah letak nilai kapal-kapal ini. Ukurannya pas untuk perairan kepulauan — dangkal,
sempit, banyak selat. Awaknya terjangkau. Ongkos rawatnya masuk akal. Kapal seperti ini
bisa hadir di banyak tempat, terus-menerus, tanpa membangkrutkan negara.
Bandingkan dengan KRI Irian yang datang di periode yang sama: penjelajah 16.000 ton,
megah luar biasa, dan berakhir tanpa pernah benar-benar berguna.
Dua-duanya dibeli di era yang sama. Satu bekerja dua dekade, satu jadi beban. Bedanya
bukan kecanggihan — bedanya kesesuaian.
Surabaya, 1976
Belasan tahun berlalu. Politik Indonesia berubah total, dan pasokan suku cadang dari Barat
maupun Timur jadi rumit.
Meriam asli Pattimura mulai sulit dirawat. Solusinya? Dicopot.
Antara 1976 dan 1977, kedua kapal itu dilucuti persenjataan aslinya dan dipasangi senjata
Soviet — meriam 85 mm 90K, kanon 25 mm 2M-3M, dan senapan mesin 14,5 mm.
Bayangkan itu sebentar. Lambung Italia, meriam Soviet, awak Indonesia. Secara estetika
berantakan. Secara teknis? Kapalnya jalan terus.
Sultan Hasanuddin baru dicoret tahun 1979. Pattimura bertahan sampai 1985 — dua puluh
tujuh tahun dinas.
Inilah pelajaran kedua, dan mungkin yang paling penting untuk hari ini: kapal yang bisa
dioprek, umurnya panjang. Bukan kapal yang paling canggih yang bertahan, tapi kapal
yang tidak terkunci pada satu pemasok.
Sebagai perbandingan, unit terakhir kelas Albatros di Angkatan Laut Italia sendiri baru
pensiun tahun 1991. Desain sederhana itu menemani hampir seluruh Perang Dingin.
Benang yang menipis, tapi tak pernah putus
Setelah Pattimura pensiun, hubungan kapal Indonesia–Italia meredup.
Tahun 1993 kita justru membeli borongan dari Jerman: 16 korvet Parchim eks-Jerman
Timur, plus belasan kapal angkut dan penyapu ranjau. Salah satu korvet itu diberi nama
KRI Kapitan Pattimura — mewarisi nama, tapi bukan garis keturunan. Itu kapal
Jerman.
Dari situ orang sering tertukar. “Pattimura” yang Italia dan “Kapitan Pattimura” yang
Jerman adalah dua kapal yang sama sekali berbeda.
Tapi benang Italia tidak pernah benar-benar putus. Dia cuma pindah bentuk: dari lambung
menjadi perangkat.
Meriam 76 mm buatan OTO Melara — sekarang bagian dari Leonardo — diam-diam
menjadi meriam paling umum di jajaran TNI AL selama puluhan tahun, terpasang di
Benang Italia · 2berbagai kelas kapal dari berbagai asal negara. Kita berhenti membeli kapal Italia, tapi
tidak pernah berhenti memakai senjata Italia.
Detail ini penting, dan nanti akan jadi inti rekomendasi.
Roma, 2021: janji yang tak pernah berlaku
Juni 2021, kabar besar. Fincantieri mengumumkan kontrak dengan Kementerian
Pertahanan RI: enam fregat FREMM baru plus dua fregat bekas kelas Maestrale. PT
PAL disebut sebagai mitra. Media menyebutnya lompatan terbesar sejak era Sukarno.
Lalu… tidak terjadi apa-apa.
Dua tahun kemudian, menjelang IMDEX 2023, Fincantieri mengonfirmasi bahwa kontrak
itu belum berlaku efektif — syarat-syaratnya belum terpenuhi. Sampai hari ini statusnya
masih menggantung.
Ini bukan cerita gagal yang unik. Ini pola. Banyak nota kesepahaman, sedikit realisasi. Tapi
ada hikmahnya, dan kita bahas nanti.
Muggiano, 2025: benangnya menebal lagi
Yang akhirnya jalan justru bukan FREMM.
Maret 2024, Kemhan meneken kontrak senilai €1,18 miliar untuk dua kapal PPA —
Pattugliatore Polivalente d’Altura — yang aslinya dipesan Angkatan Laut Italia dan sedang
dibangun di galangan terpadu Riva Trigoso–Muggiano.
Kapal pertama, eks-Marcantonio Colonna, menjadi KRI Brawijaya-320. Dia berangkat
dari Italia 29 Juli 2025 dan tiba di Surabaya sekitar 10 September 2025.
Kapal kedua, eks-Ruggiero di Lauria, diberi nama KRI Prabu Siliwangi-321 dalam
upacara di Muggiano pada 29 Januari 2025, lalu diserahkan resmi 22 Desember 2025 di
galangan yang sama, dihadiri KSAL Laksamana Muhammad Ali dan KSAL Italia
Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto.
Pelayaran pulangnya sendiri layak dicatat. Berangkat dari Pangkalan La Spezia 11 Februari
2026, kapal ini tidak lewat Terusan Suez seperti kakaknya, melainkan memutari Afrika
lewat Tanjung Harapan — singgah di Maroko, Nigeria, Afrika Selatan, dan Mauritius.
Tidak ada penjelasan resmi, tapi situasi keamanan di Laut Merah dan Teluk Aden
kemungkinan besar jadi pertimbangan.
Dia tiba 22 Maret 2026, disambut di Selat Sunda oleh KRI Bung Karno (369) — korvet
buatan dalam negeri. Ada simbolisme yang manis di situ: kapal Italia terbaru disambut
kapal buatan sendiri, di selat yang sama yang dulu dilewati Pattimura.
Dan kapal ini besar. Panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, bobot penuh sekitar 6.270 ton,
kecepatan di atas 31 knot dengan kombinasi diesel, gas turbin, dan penggerak listrik. Awak
171 orang. Persenjataannya: 16 sel peluncur vertikal dengan rudal Aster 15 di peluncur
Benang Italia · 3Silver A43, delapan rudal anti-kapal Teseo Mk-2E, meriam 127 mm yang bisa
menembakkan amunisi berpemandu Vulcano, meriam 76 mm Strales, kanon 25 mm
dengan radar kendali tembak RTN 10X Dardo, dan torpedo.
Dari korvet 800 ton di tahun 1958 ke kapal 6.270 ton di tahun 2026. Enam puluh delapan
tahun, galangan yang sama-sama di Italia utara.
2026: tahun paling sibuk
Setelah dua PPA, keran Italia terbuka lebar.
Februari 2026 — Drass menyerahkan dua unit Swimmer Delivery Vehicle ke Kemhan,
disebut sebagai fase pertama rencana yang lebih besar. Sebelumnya, kerangka kerja untuk
kapal selam kompak kelas DGK sudah diteken bersama PT Republik Palindo. Kapalnya
kecil — panjang 34 meter, bobot permukaan 219 ton — sanggup membawa 6+1 operator
pasukan khusus plus SDV, dengan tabung torpedo untuk amunisi berat. Enam unit
direncanakan, dan Indonesia jadi pengguna perdana.
Maret–April 2026 — Parlemen Italia menyetujui transfer kapal induk ITS Giuseppe
Garibaldi. Media Italia melaporkan kapal itu sempat ditawarkan sekitar USD 450 juta, lalu
berubah jadi hibah sebagai bagian dari paket kerja sama industri pertahanan senilai €1,53
miliar — mencakup enam kapal selam DGK, 24 pesawat latih M-346 Leonardo, dan tiga
pesawat patroli maritim ATR-72.
16 Juni 2026, Eurosatory, Paris — Fincantieri dan Republikorp lewat PT Republik
Palindo Internasional meneken nota kesepahaman untuk membentuk usaha patungan.
Isinya membangun LPD, LHD, fregat dan korvet multi-misi, OPV, kapal serang cepat,
sampai kapal selam — di dalam negeri, disertai transfer teknologi di bidang desain,
rekayasa, dan integrasi sistem.
21 Juli 2026 — Rapat Paripurna DPR menyetujui hibah Garibaldi. Kedatangannya
dijadwalkan sebelum HUT ke-81 TNI, 5 Oktober 2026.
Enam puluh delapan tahun setelah Pattimura, Italia sekali lagi menjadi mitra kapal perang
paling aktif untuk Indonesia.
Sekarang bagian yang tidak enak
Ceritanya bagus. Tapi kalau kita berhenti di sini, kita cuma jadi penonton yang senang.
Ada satu hal yang harus dilihat jujur: kita sekarang jago membuat lambung, tapi
lemah mengisinya.
PT PAL sudah membangun fregat Merah Putih Arrowhead 140 — panjang 140 meter, bobot
5.700 ton. KRI Balaputradewa 322 diluncurkan 18 Desember 2025, dan Januari 2026 kita
menambah dua unit lagi jadi total empat.
Tapi kapal itu kemungkinan besar diserahkan dalam status FFBNW — Fit For But Not
With. Struktur siap, dudukan senjata ada, kabel tertarik, tapi sistem senjata dan elektronik
Benang Italia · 4utamanya baru dipasang bertahap kemudian. Yang benar-benar terpasang saat serah
terima biasanya cuma meriam haluan.
Orang menyebutnya “kapal ompong”.
Dan bukan cuma itu. Enam belas korvet Parchim kita — termasuk yang bernama Kapitan
Pattimura — sampai hari ini tidak punya satu pun rudal anti-kapal. Senjatanya masih
meriam 57 mm dan kanon 30 mm desain akhir 1970-an. Torpedonya sudah dicopot.
Sementara di sisi lain, dua PPA kita datang dalam konfigurasi Light — versi paling hemat
dari tiga varian yang tersedia.
Jadi gambarannya: kita punya lambung baru yang kosong, lambung lama yang usang
isinya, dan lambung terbaik yang belum dipakai maksimal.
Ini bukan masalah jumlah kapal. Ini masalah perangkat.
Di sinilah Italia paling berguna
Kalau kita tarik benang sejarahnya, pola yang muncul jelas: kontribusi Italia yang
paling awet ke TNI AL bukan lambungnya, tapi perangkatnya.
Pattimura pensiun 1985. Tapi meriam OTO Melara 76 mm terus terpasang di kapal-kapal
kita sampai hari ini, di berbagai kelas dari berbagai asal negara. Lambung datang dan pergi.
Perangkat bertahan.
Maka titik berat kerja sama dengan Italia sebaiknya diarahkan ke sana. Empat hal konkret:
Pertama, isi dulu yang kosong. Fregat 5.700 ton tanpa rudal itu pemborosan paling
mahal yang bisa dilakukan angkatan laut. Anggaran perangkat harus dikunci bersamaan
dengan anggaran lambung — satu paket, bukan dua keputusan terpisah di tahun anggaran
berbeda. Dan tenggat pemasangannya ditulis, misalnya maksimal 36 bulan setelah serah
terima.
Kedua, jadikan meriam 76 mm sebagai standar seluruh armada. Ini pilihan yang
membosankan dan tidak fotogenik, tapi paling masuk akal. Ekosistemnya sudah ada di TNI
AL selama puluhan tahun — operatornya familiar, dokumennya tersedia, rantai suku
cadangnya jalan. Tinggal ditegaskan sebagai baseline, dituntaskan rantai amunisinya
termasuk jalur produksi lokal, dan diseragamkan sistem kendali tembaknya. Untuk
pekerjaan sehari-hari TNI AL — mengusir kapal ikan asing, mencegat penyelundup,
menegakkan hukum di ZEE — yang menentukan justru meriam yang akurat dan amunisi
pintar, bukan rudal jarak jauh.
Ketiga, pasang perangkat Italia di lambung buatan sendiri. Meriam 76 mm,
amunisi Vulcano, rudal Teseo, radar dan sensor Leonardo — semua bisa diintegrasikan ke
kapal yang dibangun di Surabaya. Teknologi masuk tanpa menambah jenis lambung baru
ke armada, suku cadangnya nyambung dengan yang sudah ada, dan nilai tambahnya
tinggal di dalam negeri. Ini titik temu paling produktif antara kemampuan galangan kita
dan keunggulan industri mereka.
Benang Italia · 5Keempat, dan ini yang paling penting — minta hak oprek, tertulis.
Balik ke Surabaya tahun 1976. Pattimura bisa ganti meriam karena kapal era itu memang
sederhana; sistemnya tidak saling terkunci.
Kapal modern kebalikannya. Ganti satu radar bisa berarti menulis ulang perangkat lunak
sistem tempur, dan vendor bisa bilang garansi hangus. Kalau itu terjadi, umur kapal kita
ditentukan oleh jadwal vendor, bukan jadwal kita.
Jadi di setiap kontrak dengan Italia — PPA, DGK, apa pun berikutnya — empat klausul ini
harus ada sejak awal:
• Hak modifikasi dan integrasi sistem pihak ketiga tanpa membatalkan garansi
• Akses ke antarmuka sistem tempur, bukan cuma manual pengguna
• Jaminan suku cadang jangka panjang dengan harga terkunci
• Kewajiban alih produksi komponen habis pakai ke dalam negeri setelah periode
tertentu
Ini bukan sikap curiga terhadap mitra. Ini pelajaran dari kapal kita sendiri.
Dan dua hal yang perlu direm
Kapal selam DGK. Konsepnya cocok — selat-selat kita memang menyulitkan kapal selam
besar. Tapi desainnya belum pernah dibangun atau dioperasikan angkatan laut mana pun,
dan kita mau pesan enam sekaligus. Pecah jadi 2 + 4: bangun dua dulu, uji sungguhan di
perairan sendiri minimal dua siklus musim, hasilnya jadi syarat melanjutkan. Dan sejak
unit pertama, integrasi serta perawatan di Batam — bukan di Italia.
Garibaldi. Keputusannya sudah diambil, jadi yang tersisa bukan menolak tapi mengerem
risiko. Kapal buatan pertengahan 1980-an ini bukan cuma lambungnya yang tua —
elektroniknya juga. Batasi perannya jadi kapal markas, dukungan bencana, dan pangkalan
helikopter, maka kebutuhan perangkatnya sederhana dan tagihannya terkendali. Kalau
berambisi menjadikannya kapal tempur penuh, siap-siap biaya yang tak berujung.
Tetapkan pagu perawatan tahunan sebelum kapalnya tiba, umumkan terbuka, dan pasang
batas evaluasi sejak awal.
Ini persis pola KRI Irian. Gratis di depan bukan berarti murah.
Dan FREMM sebaiknya ditutup resmi. Kontrak 2021 itu tidak pernah berlaku dan
sekarang sudah kehilangan relevansi — kita sudah memilih Arrowhead 140 sebagai fregat
utama. Kontrak menggantung yang tak pernah dieksekusi cuma menyandera ruang
perencanaan.
Kembali ke Livorno
Kapal yang dibangun di Livorno tahun 1956 itu tidak pernah jadi kebanggaan nasional.
Tidak pernah masuk kalender, tidak pernah difoto untuk sampul majalah. Bobotnya cuma
800 ton — hari ini kalah besar dari banyak kapal patroli.
Benang Italia · 6Tapi dia bekerja. Dua puluh tujuh tahun. Ikut Trikora. Ganti meriam di tengah jalan dan
jalan terus.
Dan alasannya sederhana: dia lengkap sejak hari pertama, dan dia bisa diperbaiki
dengan apa pun yang tersedia.
Hari ini kita bisa membangun lambung yang jauh lebih besar dan lebih canggih daripada
Pattimura, di galangan sendiri, dengan tangan sendiri. Itu kemajuan nyata yang layak
dibanggakan — dan sesuatu yang tidak terbayangkan tahun 1958.
Yang belum selesai tinggal satu: isinya.
Kapal perang itu bukan lambung. Kapal perang itu lambung plus apa yang ada di atasnya.
Selama kita lebih bersemangat meluncurkan daripada melengkapi, angka armada kita akan
terus terlihat bagus di atas kertas — sambil terasa kurang di laut.
Benang dari Livorno itu sudah tersambung lagi setelah enam puluh delapan tahun. Sayang
kalau cuma dipakai untuk menambah lambung.
*) KKM Kri Keris dan KRI Badik
Kajian dari sumber terbuka per Juli 2026. Sebagian detail — terutama konfigurasi persenjataan Fregat Merah
Putih, status kontrak FREMM, dan isi paket kerja sama di balik hibah Garibaldi — masih berupa laporan industri
atau usulan, belum tentu final. Beberapa data historis Pattimura, khususnya nomor lambung dan tahun
purnatugas, berbeda antar sumber. Penilaian dan saran di sini bersifat analisis, bukan posisi resmi lembaga mana
pun.
Benang Italia · 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar