Paradoks Ketaatan: Belajar Hukum dari Karakter Orang Manalu
Jakarta, 18 Agustus 2026
Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto, S.T., S.H., M.H.
Di tanah Nusa Utara, terhampar sebuah pesisir di Pulau Sangihe bernama Manalu. Dari tanah bahari ini lahir sebuah karakter manusia yang khas: apa yang dilihat, itu yang dipercaya; apa yang didengar, itu yang dikerjakan. Tidak ada tafsir ganda, tidak ada muslihat terselubung, dan tidak ada kompromi di balik kata.
Bagi pergaulan modern yang sarat basa-basi, watak orang Manalu kerap menjadi sasaran tawa. Cerita rakyat dan lelucon daerah kerap menggambarkan kepolosan mereka ketika berhadapan dengan bahasa kiasan dan dalih pergaulan.
Kisah yang paling melegenda adalah tentang seorang pelayan asal Manalu bernama Simon. Suatu hari, tiga orang tamu tak dikenal datang ke rumah saat sang majikan sedang mandi. Simon melapor dengan jujur dari balik pintu. Sang majikan yang ingin menunjukkan keramahan berteriak dalam dialek lokal:
"Aduh Simon, siram akang air panas pa dorang tiga itu!"
Bagi orang kebanyakan, kalimat itu adalah kiasan lumrah untuk menyeduhkan kopi atau teh panas. Namun di telinga orang Manalu, perintah adalah amanat mutlak: subjek, tindakan, dan objeknya jelas. Simon mendidihkan ceret air, melangkah mantap ke ruang tamu, lalu tanpa ragu menyiramkan air mendidih itu ke tubuh ketiga tamu.
Jeritan histeris pecah. Para tamu kocar-kacir. Ketika sang majikan selesai mandi dan bertanya apakah tugasnya sudah dikerjakan, Simon berdiri tegak dengan sikap sempurna dan menjawab lugas tanpa rasa bersalah:
"So laksanakan, Tuan! Satu orang so rubuh di lantai, dua orang so lari kaluar pagar!" Sang majikan pun pening memegangi kepalanya.
Kelurusan berpikir yang sama terlihat jelas saat orang Manalu berhadapan dengan alasan atau dalih yang tidak presisi. Ketika seseorang datang terlambat dan beralasan: "Maaf terlambat, di tengah jalan tadi hujan," orang Manalu dengan polos dan tanpa beban langsung menyela: "Kiapa nyanda jalan di pinggir?" Di mata orang Manalu, jika dikatakan hujan hanya terjadi di tengah jalan, maka berjalanlah di pinggir jalan agar tidak basah. Kalimat dalih yang kabur langsung rontok seketika di hadapan ketajaman logika harfiah mereka.
Kisah-kisah itu kerap berhenti sebatas lelucon di kedai kopi. Namun jika direnungkan secara mendalam, cara berpikir dan bertindak ala orang Manalu justru memegang kunci esensial bagi ilmu hukum:
· Saksi Fakta yang Murni: Di muka sidang, hukum tidak membutuhkan orator yang pandai merangkai asumsi atau saksi bayaran yang memoles kebohongan. Hukum membutuhkan orang Manalu: mata yang hanya bersaksi atas apa yang benar-benar dilihat, dan telinga yang hanya menyampaikan apa yang benar-benar didengar tanpa bumbu rekayasa.
· Kejelian Membedah Dalih dan Konstruksi Bahasa: Logika sederhana "hujan di pinggir jalan" mengajarkan ketelitian tingkat tinggi dalam merumuskan norma dan membongkar dalih (alibi). Seorang ahli hukum harus memiliki ketajaman semantik: melihat teks persis sebagaimana bunyinya, menguji kebenaran premis lawan bicara, dan tidak membiarkan celah logika bersembunyi di balik dalih yang longgar.
· Ketaatan Tanpa Penyelundupan Kepentingan: Tragedi hukum kerap lahir dari kelihaian praktisi memutarbalikkan teks perundang-undangan demi celah pasal pesanan. Orang Manalu menunjukkan integritas tegak lurus—menjalankan norma persis seperti yang diamanatkan tanpa ada niat jahat (mens rea) untuk membelokkan aturan demi keuntungan pribadi.
· Paradoks Moral di Tengah Dunia yang Rusak: Betapa getirnya ketika kejujuran yang murni dianggap sebagai kebodohan, sementara kelicikan bersilat lidah dipuji sebagai kecerdasan. Simon menyiramkan air panas karena instruksi majikannya yang cacat dan ambigu, namun kejujuran niat serta ketaatan tindakannya sama sekali tidak bernoda.
Maka, jika Anda ingin menjadi seorang ahli hukum sejati, belajarlah kepada orang Manalu. Belajarlah bagaimana menjadi saksi yang hanya bicara fakta, belajarlah bagaimana membaca norma tanpa menyelundupkan muslihat, dan belajarlah bagaimana membongkar dalih yang rapuh dengan logika yang lurus dan telanjang.
Dunia hukum kita hari ini tidak pernah kekurangan orang pintar yang lihai bersilat kata; dunia hukum kita sedang dahaga akan jiwa-jiwa yang jujur, cermat, lurus, dan berani hidup tanpa topeng kepalsuan—watak murni yang diwariskan dari tanah Manalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar