20 September 2026

US$900 Juta untuk Kapal Tua, US$700 Juta untuk Kapal Baru: Kalkulatornya di Mana ???



US$900 Juta untuk Kapal Tua, US$700 Juta untuk Kapal Baru: Kalkulatornya di Mana ???

Jakarta 20 September 2026
Oleh : Purnawirawan Perwira Korps Teknik TNI AL

Indonesia mampu membangun kapal besar untuk negara lain. Tetapi ketika membicarakan kebutuhan sendiri, kita masih mudah terpukau oleh kapal bekas negara lain.

Giuseppe Garibaldi memang memiliki sejarah panjang. Geladaknya luas, pernah mengoperasikan pesawat tempur dan helikopter, serta menjadi bagian penting Angkatan Laut Italia. Namun, sejarah pengabdian sebuah kapal tidak dapat menggantikan perhitungan biaya untuk mengoperasikannya kembali.

Pertanyaan yang perlu dijawab sederhana: berapa biaya untuk membuat Garibaldi siap menjalankan tugas Indonesia, dan kapal baru seperti apa yang dapat dibangun industri nasional dengan anggaran sebanding?

Di situlah angka US$450–900 juta untuk program Garibaldi perlu dibandingkan dengan perkiraan konseptual US$650–700 juta untuk kapal baru buatan Indonesia.

Kedua angka tersebut harus dibaca secara jujur. Angka pembiayaan, perkiraan retrofit, dan estimasi pembangunan kapal baru memiliki dasar yang berbeda. Perbandingan ini merupakan alasan untuk melakukan kajian terbuka, bukan bukti bahwa harga akhir kedua pilihan sudah diketahui.

INDONESIA SUDAH MEMILIKI TITIK BERANGKAT

PT PAL Indonesia sedang membangun kapal multirole sepanjang 163 meter untuk Angkatan Laut Uni Emirat Arab. Nilai kontrak yang menjadi acuan pembahasan ini adalah US$408 juta, atau sekitar AED1,5 miliar.

Kontrak tersebut merupakan titik berangkat yang penting. Indonesia sudah dipercaya membangun kapal besar untuk kebutuhan angkatan laut negara lain.

Spesifikasi publik desain multirole 163 meter PT PAL menyebut lebar sekitar 24 meter dan displacement sekitar 13.170 ton. Sebagai catatan, spesifikasi desain pemasaran tersebut belum tentu seluruhnya sama dengan konfigurasi kapal pesanan UEA.

Sebagai pembanding, Garibaldi memiliki panjang sekitar 180,2 meter dan displacement penuh sekitar 13.850 ton.

Selisih panjangnya 17,2 meter, atau sekitar 10,6 persen dari panjang desain PT PAL. Selisih displacement berdasarkan angka referensi tersebut sekitar 680 ton, atau 5,2 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa industri nasional sudah bekerja pada kelas ukuran kapal yang relevan. Namun, kedekatan ukuran tidak otomatis berarti kesamaan kemampuan. Kapal dengan geladak penerbangan penuh tetap memerlukan pengembangan desain, pengujian, dan integrasi sistem yang serius.

Justru pekerjaan itulah yang patut diberikan kepada industri sendiri.

AMBIL FUNGSI YANG DIPERLUKAN, KEMBANGKAN KAPALNYA

Indonesia tidak harus menyalin seluruh karakter Garibaldi.

Jika kebutuhan utamanya adalah mengoperasikan helikopter, mendukung drone, menyediakan pusat komando, mengangkut logistik, membantu operasi amfibi, serta menjalankan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, maka fungsi-fungsi tersebut dapat dijadikan dasar kapal baru.

Untuk pembahasan ini, konsep tersebut disebut Indonesian Multirole Helicopter Ship 180, atau IMHS-180.

Ini bukan desain resmi maupun penawaran PT PAL. IMHS-180 adalah gagasan awal saya untuk memperlihatkan skala kapal dan kebutuhan anggarannya.

Ukuran yang diusulkan adalah panjang sekitar 180 meter, lebar lambung sekitar 26 meter, dan displacement penuh sekitar 17.000 ton. Geladak penerbangannya ditargetkan sepanjang sekitar 174 meter dengan lebar maksimum sekitar 30,4 meter.

Kecepatannya direncanakan 20–22 knot, menggunakan propulsi diesel atau konfigurasi beberapa mesin diesel yang bekerja bersama.

Konfigurasi awal dapat mengkaji lima sampai enam posisi operasi helikopter, hanggar untuk sekitar delapan sampai sepuluh helikopter sedang, serta dua elevator pesawat. Jumlah akhirnya bergantung pada tipe helikopter, jarak aman, susunan hanggar, kebutuhan perawatan, dan hasil perancangan.

Kapal juga dapat dirancang dengan fasilitas drone, rumah sakit, pusat komando, ruang kendaraan, serta akomodasi sekitar 400–500 personel pasukan sesuai konfigurasi.

Kemungkinan mempertahankan well deck untuk kapal pendarat perlu dikaji bersamaan dengan kebutuhan hanggar, ruang mesin, bahan bakar, dan stabilitas. Semua fasilitas itu menggunakan ruang dan bobot yang sama-sama terbatas.

Target umur desain dapat ditetapkan sekitar 30–35 tahun, dengan pemeliharaan yang sesuai.

GELADAK LUAS TIDAK HARUS BERASAL DARI KAPAL TUA

Ukuran referensi geladak penerbangan Garibaldi adalah sekitar 173,8 meter dengan lebar maksimum 30,4 meter.

Perkalian kedua ukuran tersebut menghasilkan:

173,8 × 30,4 = sekitar 5.283,5 meter persegi.

Untuk konsep kapal baru:

174 × 30,4 = sekitar 5.289,6 meter persegi.

Dengan demikian, keduanya berada pada kisaran geometris sekitar 5.300 meter persegi.

Angka ini merupakan pendekatan bidang persegi panjang berdasarkan panjang dan lebar maksimum. Luas geladak yang benar-benar dapat digunakan untuk operasi akan lebih kecil atau berbeda, bergantung pada bentuk geladak, bangunan atas, elevator, dan jalur keselamatan.

Jika lebar lambung kapal baru 26 meter dan lebar geladaknya 30,4 meter, selisihnya adalah 4,4 meter. Secara simetris, perluasan geladak ke luar lambung sekitar 2,2 meter pada setiap sisi.

Perluasan itu harus diperhitungkan terhadap kekuatan struktur, stabilitas, titik berat, beban angin, dan beban pendaratan helikopter.

Jadi, pekerjaan ini bukan sekadar menambahkan pelat di sisi kapal. Namun, pekerjaan tersebut merupakan persoalan rekayasa yang layak dikaji melalui pengembangan kemampuan industri nasional.

PERHITUNGAN AWAL UKURAN KAPAL

Sebagai pendekatan awal, gunakan displacement referensi desain 163 meter sebesar 13.170 ton.

Jika panjang dinaikkan dari 163 menjadi 180 meter, dan lebar dari 24 menjadi 26 meter, pendekatan skala sederhana menghasilkan:

13.170 × (180 ÷ 163) × (26 ÷ 24) = sekitar 15.760 ton.

Jika ditambahkan kelonggaran konseptual sekitar delapan persen:

15.760 × 1,08 = sekitar 17.020 ton.

Dari sinilah muncul sasaran awal sekitar 17.000 ton.

Perhitungan ini mengasumsikan sarat dan karakter bentuk lambung relatif sebanding. Tambahan delapan persen merupakan asumsi awal, bukan hasil penjumlahan bobot peralatan yang telah dirancang.

Displacement akhirnya harus ditentukan melalui perhitungan berat kapal, kapasitas muatan, bahan bakar, sarat, stabilitas, dan cadangan daya apung.

Dengan kata lain, angka 17.000 ton cukup untuk membuka kajian, tetapi belum cukup untuk memesan kapal.

TIDAK HARUS MENGEJAR 30 KNOT

Garibaldi menggunakan empat turbin gas dengan total daya sekitar 60,4 megawatt untuk mendukung kecepatan maksimum sekitar 30 knot.

Konsep kapal baru dapat memilih sasaran 20–22 knot apabila sesuai kebutuhan operasi Indonesia. Pilihan ini berarti ada kemampuan yang berbeda: kapal baru dalam pembahasan ini tidak ditawarkan sebagai pengganti seluruh kemampuan Garibaldi, terutama kecepatannya dan operasi pesawat tempur.

Referensi desain PT PAL 163 meter menggunakan daya sekitar 14,56 megawatt untuk kecepatan sekitar 20 knot.

Dengan pendekatan Admiralty, kebutuhan daya diperkirakan berubah mengikuti displacement berpangkat dua pertiga dan kecepatan berpangkat tiga.

Pada displacement 17.000 ton dan kecepatan 20 knot:

14,56 × (17.000 ÷ 13.170) pangkat dua pertiga = sekitar 17,3 megawatt.

Dengan tambahan margin 15 persen:

17,3 × 1,15 = sekitar 19,9 megawatt.

Karena itu, daya propulsi sekitar 20–22 megawatt dapat menjadi titik awal kajian untuk sasaran 20 knot.

Untuk 22 knot, pendekatan yang sama menghasilkan sekitar 26,5 megawatt setelah margin. Kisaran awalnya menjadi sekitar 26–28 megawatt.

Angka ini harus diperiksa melalui analisis hambatan lambung, efisiensi propulsi, dan pengujian model. Daya pembangkit listrik untuk rumah sakit, radar, elevator, serta fasilitas lainnya juga perlu dihitung tersendiri.

Konsumsi bahan bakar tidak dapat disimpulkan hanya dari perbandingan daya mesin. Namun, kebutuhan geladak luas memang tidak dengan sendirinya mengharuskan penggunaan propulsi 60 megawatt.

DARI MANA ANGKA US$650–700 JUTA?

Perhitungan dimulai dari nilai kontrak kapal UEA sebesar US$408 juta.

Sebagai simulasi, digunakan pendekatan penskalaan biaya dengan eksponen asumsi 0,65:

US$408 juta × (17.000 ÷ 13.170) pangkat 0,65 = sekitar US$482 juta.

Angka US$482 juta digunakan sebagai perkiraan awal basis kapal yang diperbesar. Ini bukan harga yang dikeluarkan PT PAL dan bukan perhitungan biaya produksi terperinci.

Selanjutnya, simulasi memasukkan alokasi berikut:

1.     Basis kapal yang diperbesar: sekitar US$482 juta.

2.     Pengembangan geladak penerbangan penuh dan penguatan struktur: US$45–55 juta.

3.     Pengembangan hanggar dan elevator pesawat: US$30–40 juta.

4.     Sistem bahan bakar penerbangan dan pemadaman kebakaran: US$15–20 juta.

5.     Fasilitas drone dan dukungan penerbangan: US$10–15 juta.

6.     Penyesuaian rumah sakit, pusat komando, dan fasilitas bantuan bencana: US$10–15 juta.

7.     Rekayasa dan pengembangan desain: US$25–30 juta.

8.     Integrasi, pengujian, suku cadang, dan cadangan biaya: US$33–43 juta.

Penjumlahannya menghasilkan sekitar US$650–700 juta.

Namun, rincian kontrak UEA harus dibuka sebelum estimasi tersebut dapat diperkuat. Fasilitas yang sudah termasuk dalam kontrak dasar tidak boleh dihitung kembali sebagai tambahan.

Harga juga dipengaruhi tahun pembayaran, inflasi, sistem persenjataan, sensor, komponen impor, pajak, serta cakupan dukungan. Pesawat, helikopter, dan drone tidak boleh dianggap otomatis termasuk dalam estimasi ini.

Jadi, US$650–700 juta adalah skenario anggaran awal yang layak diuji, bukan jaminan harga kapal siap operasi.

BAGAIMANA DENGAN US$450–900 JUTA UNTUK GARIBALDI?

Laporan Associated Press tertanggal 18 September 2026 yang dirujuk dalam pembahasan ini menyebut persetujuan pembiayaan sebesar US$450 juta untuk program Garibaldi. Dalam laporan tersebut juga muncul perkiraan atau peringatan bahwa biaya retrofit dapat mencapai sekitar US$900 juta.

Kedua angka ini tidak boleh diperlakukan sebagai harga kontrak yang sama. Pembiayaan yang disetujui belum tentu identik dengan seluruh biaya program, sedangkan US$900 juta merupakan perkiraan, bukan harga akhir yang sudah pasti.

Karena itu, rentang US$450–900 juta digunakan di sini sebagai skenario pembanding.

Garibaldi diluncurkan pada 1983 dan masuk dinas pada 1985. Usia tersebut membuat pemeriksaan kondisi aktual menjadi penentu utama biaya.

Pemeriksaan harus mencakup struktur lambung, mesin, gearbox, poros, generator, perpipaan, kabel, tangki, elevator, serta sistem keselamatan penerbangan.

Tidak semuanya pasti harus diganti. Tetapi besarnya kebutuhan penggantian hanya dapat diketahui melalui survei teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

TITIK PERTEMUANNYA ADA PADA US$650–700 JUTA

Jika seluruh kebutuhan Garibaldi benar-benar dapat diselesaikan dengan US$450 juta, investasi awalnya lebih rendah sekitar US$200–250 juta dibanding estimasi kapal baru.

Keunggulan biaya awal itu patut diakui.

Namun, jika biaya program Garibaldi mendekati US$650–700 juta, nilainya mulai bertemu dengan skenario pembangunan kapal baru.

Jika biaya Garibaldi mencapai US$900 juta, selisihnya menjadi sekitar US$200–250 juta lebih mahal daripada estimasi konseptual kapal baru.

Kesimpulan tersebut bersyarat: cakupan pengadaan dan tingkat kesiapan yang dibandingkan harus setara.

Penilaian juga harus memasukkan waktu penyerahan, sisa umur struktur, biaya operasi, ketersediaan suku cadang, risiko pekerjaan tambahan, dan kemampuan yang benar-benar diperoleh.

Kapal baru memiliki risiko pengembangan desain. Kapal lama memiliki risiko kondisi material dan sistem yang baru terlihat setelah pekerjaan berjalan. Keduanya harus dihitung secara terbuka.

HIBAH TIDAK MENGHAPUS BIAYA

Harga perolehan lambung yang nol tidak membuat keseluruhan program menjadi gratis.

Penerima tetap harus membayar pemeriksaan, perbaikan, penyesuaian sistem, pelatihan, suku cadang, bahan bakar, pemeliharaan, dan akhirnya penghapusan kapal.

Karena itu, yang patut dibandingkan adalah total biaya untuk memperoleh kemampuan operasional selama masa penggunaan yang ditetapkan.

Di sinilah pembangunan dalam negeri memiliki nilai tambahan: pekerjaan galangan, keterlibatan pemasok, pengalaman integrasi, penguasaan desain, dan dukungan pemeliharaan dapat berkembang di Indonesia.

Manfaat tersebut perlu dihitung secara nyata, termasuk bagian pekerjaan dan komponen yang masih bergantung pada luar negeri.

KEMAMPUAN SENDIRI JANGAN HANYA DIJUAL KEPADA ORANG LAIN

Kontrak kapal 163 meter untuk UEA menunjukkan bahwa Indonesia memiliki dasar industri yang patut dikembangkan.

Memperpanjang kapal, membangun geladak penerbangan penuh, menambah hanggar, dan memasang elevator tetap membutuhkan pekerjaan besar. Namun, kebutuhan itulah yang dapat menjadi program pengembangan industri nasional dengan sasaran yang jelas.

Pemerintah seharusnya meminta kajian teknis dan penawaran resmi untuk kapal baru, lalu membandingkannya dengan biaya lengkap Garibaldi pada lingkup kemampuan yang sama.

Jika hasil kajian menunjukkan Garibaldi lebih menguntungkan, jelaskan dasar perhitungannya. Jika kapal baru lebih bernilai untuk kebutuhan jangka panjang, berikan pekerjaan itu kepada industri Indonesia.

Kita boleh mengagumi sejarah kapal Italia. Tetapi keputusan anggaran Indonesia harus berpijak pada kebutuhan Indonesia.

Kalau biaya memperbaiki kapal berusia lebih dari empat dasawarsa sudah mendekati biaya kapal baru, kekaguman seharusnya berhenti sejenak untuk memberi tempat kepada kalkulator.

Indonesia sudah dipercaya membangun kapal besar untuk negara lain.

Mengapa ketika tiba giliran memenuhi kebutuhan sendiri, kita justru kehilangan kepercayaan kepada kemampuan yang sudah kita jual?
Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.

 

KITA BISA BIKIN KAPAL BARU, MENGAPA SIBUK MEMUDAKAN KAKEK GARIBALDI?



KITA BISA BIKIN KAPAL BARU, MENGAPA SIBUK MEMUDAKAN KAKEK GARIBALDI?

Kalau hanya untuk helikopter, drone dan bencana, jangan-jangan yang kita butuhkan bukan kapal induk tua, tetapi kapal baru buatan Indonesia.

Jakarta 20 September 2026
Oleh: Soleman B. Ponto

Giuseppe Garibaldi akhirnya datang ke Indonesia.

Besar.

Panjang.

Flight deck-nya luas.

Dan tentu saja, karena bentuknya kapal induk, siapa pun yang melihatnya bisa merasa bangga.

Tetapi kapal perang tidak dibeli untuk difoto.

Kapal perang dibeli—atau diterima sebagai hibah—untuk menjalankan suatu kebutuhan operasi.

Maka sebelum terlalu lama terpukau melihat Garibaldi, sebaiknya kita mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana:

Sebenarnya kapal ini mau kita pakai untuk apa?

Jawabannya sudah mulai diberikan.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Garibaldi akan diubah menjadi kapal induk helikopter dan drone. KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan kapal tersebut dapat membawa lebih dari 10 helikopter dan antara lain digunakan sebagai pangkalan helikopter untuk membantu penanggulangan kebakaran hutan melalui water bombing.

Garibaldi juga akan digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang, penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

Bagus.

Semua itu penting.

Tetapi justru karena tujuannya sudah semakin jelas, pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik:

Kalau hanya untuk itu, mengapa kita harus memudakan Kakek Garibaldi?

Kakeknya Sudah Berumur Lebih dari 40 Tahun

Ini bukan penghinaan.

Ini soal kalender.

Garibaldi mulai masuk dinas Angkatan Laut Italia pada 1985.

Artinya ketika tiba di Indonesia pada 2026, umurnya sudah sekitar empat dekade.

KSAL sendiri menyatakan kapal tersebut diperkirakan masih dapat digunakan sekitar 15–20 tahun lagi setelah menjalani retrofit.

Jadi kita sedang menghadapi kapal yang secara struktur dasarnya bukan kapal baru.

Radar bisa diganti.

Elektronik bisa diganti.

Kabin bisa diperbaiki.

Mesin bisa di-overhaul.

Cat tentu bisa dibuat mengkilap kembali.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibawa kembali ke tahun 1985:

umur lambungnya.

Kapal tidak mengenal operasi plastik.

Besi tetap mencatat perjalanan hidupnya sendiri.

Masalahnya, Kakek Ini Dahulu Pelari Cepat

Garibaldi bukan sejak awal dibuat untuk memadamkan kebakaran hutan.

Ia lahir sebagai kapal perang.

Garibaldi menggunakan empat gas turbine LM2500 dengan daya keseluruhan sekitar 60 MW untuk memberikan kemampuan kecepatan sekitar 30 knot.

Pada zamannya itu masuk akal.

Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat V/STOL dan menjadi bagian dari operasi tempur armada.

Tetapi sekarang kita mengatakan:

Garibaldi untuk helikopter.

Garibaldi untuk drone.

Garibaldi untuk bantuan bencana.

Garibaldi untuk OMSP.

Garibaldi untuk water bombing.

Kalau demikian saya bertanya:

Untuk memadamkan kebakaran hutan, apakah kapal harus berlari 30 knot?

Untuk membawa helikopter bantuan kemanusiaan, apakah kita membutuhkan propulsion sekitar 60 MW?

Untuk membawa rumah sakit dan bantuan bencana, apakah kita memerlukan karakteristik sebuah light aircraft carrier?

Jangan-jangan yang sebenarnya kita perlukan dari Garibaldi hanyalah:

flight deck-nya.

Bukan kecepatan 30 knotnya.

Lalu Muncul Ide: Ganti Saja Mesinnya

Karena gas turbine terkenal tidak ekonomis pada kondisi operasi tertentu, muncullah pemikiran yang kelihatannya sederhana:

“Kalau boros, ganti diesel.”

Nah, di sinilah Kakek mulai masuk ruang operasi.

Mengganti empat LM2500 dengan diesel bukan seperti mengganti mesin Toyota Kijang.

Diesel besar jauh lebih berat.

Putarannya berbeda.

Torsinya berbeda.

Dimensinya berbeda.

Gearbox-nya harus diperiksa atau bahkan didesain ulang.

Fondasi mesin berubah.

Cooling system berubah.

Exhaust berubah.

Piping berubah.

Kontrol berubah.

Distribusi berat berubah.

Dan kemudian kita sampai pada sesuatu yang sangat sensitif:

shaft alignment.

Poros kapal tidak boleh sekadar “kira-kira lurus”.

Mesin, gearbox, bearing dan shaft harus berada dalam alignment yang sangat presisi.

Sementara semua pekerjaan itu akan dilakukan pada lambung yang telah menjalani kehidupan laut selama sekitar empat dekade.

Maka harus diperiksa lagi:

korosi,

ketebalan pelat,

double bottom,

fondasi,

bearing,

shaft line,

deformasi,

dan kekuatan struktur machinery space.

Pada titik tertentu kita harus bertanya:

Ini masih retrofit atau kita sedang membangun kapal baru di dalam kapal tua?

Padahal Kita Sudah Bisa Membuat Kapal

Yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah Indonesia sebenarnya bukan negara yang tidak bisa membuat kapal besar.

PT PAL sudah membangun LPD.

PT PAL sudah membuat Strategic Sealift Vessel.

PT PAL sudah membangun Kapal Bantu Rumah Sakit.

Kapal BRS buatan PAL panjangnya 124 meter, displacement sekitar 7.290 ton, mempunyai fasilitas rumah sakit, mampu membawa helikopter, ambulance boat dan LCVP serta memiliki jangkauan sampai sekitar 10.000 mil laut.

Kecepatan desainnya sekitar 18 knot.

Mesin utamanya sekitar:

2 × 5.420 kW = 10,84 MW.

Tidak perlu 60 MW.

Tidak perlu 30 knot.

Tetapi ia bisa membawa rumah sakit ke daerah bencana.

Bahkan sekarang PT PAL sedang membangun LPD sepanjang 163 meter untuk Angkatan Laut Uni Emirat Arab.

Nilai kontraknya diberitakan sekitar US$408 juta.

Jadi pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah Indonesia bisa?”

Kita sudah membuktikan bisa.

Pertanyaannya:

“Mengapa tidak kita buat untuk diri kita sendiri?”

Buat Saja Kapal yang Memang Kita Butuhkan

Kalau memang kebutuhan Indonesia adalah membawa 10–15 helikopter dan drone, mengapa tidak kita mulai dari kertas kosong?

Katakan kepada engineer Indonesia:

Kita ingin kapal panjang sekitar 160–180 meter.

Kita ingin flight deck besar.

Kita ingin hanggar helikopter dan UAV.

Kita ingin command center.

Kita ingin rumah sakit.

Kita ingin gudang bantuan bencana.

Kita ingin ruang pengungsi.

Kita ingin workshop.

Kita ingin landing craft dan RHIB.

Kita ingin endurance panjang.

Kita ingin kecepatan cukup 20–22 knot.

Dan kita ingin mesin yang ekonomis.

Silakan desain.

Tidak perlu memaksakan kebutuhan Indonesia masuk ke dalam kapal yang dahulu dirancang berdasarkan kebutuhan Angkatan Laut Italia tahun 1970-an dan 1980-an.

Itulah keuntungan terbesar kapal baru.

Garibaldi memaksa kebutuhan Indonesia menyesuaikan diri kepada kapal.

Sedangkan kapal baru memungkinkan:

kapal menyesuaikan diri kepada kebutuhan Indonesia.

Jangan Terjebak Kata “Gratis”

Ada satu kata yang sangat berbahaya dalam pembicaraan mengenai kapal bekas:

hibah.

Telinga kita sering menerjemahkan hibah menjadi:

gratis.

Padahal kapal gratis belum tentu kapal murah.

Yang gratis mungkin harga memperoleh lambungnya.

Setelah itu datang:

retrofit.

BBM.

Maintenance.

Docking.

Overhaul.

Spare parts.

Crew.

Perbaikan struktur.

Modernisasi.

Dan kalau mesin hendak diganti, datang lagi biaya rekonstruksi propulsion.

Karena itu dalam ekonomi pertahanan yang harus dihitung bukan sekadar purchase price.

Yang harus dihitung adalah:

Total Cost of Ownership.

Berapa rupiah yang harus dikeluarkan sampai kapal itu akhirnya benar-benar pensiun?

Itulah harga sebenarnya.

Kapal Baru Mahal? Belum Tentu

Misalnya—sekali lagi hanya ilustrasi—kita mengeluarkan Rp15 triliun untuk membuat kapal tua dapat digunakan selama 20 tahun.

Maka biaya modal sederhananya:

Rp750 miliar per tahun.

Sekarang bayangkan kapal baru buatan Indonesia membutuhkan Rp20 triliun tetapi bisa digunakan 40 tahun.

Biaya modal sederhananya:

Rp500 miliar per tahun.

Jadi jangan buru-buru mengatakan:

“Kapal baru mahal.”

Pertanyaannya:

mahal dibandingkan apa?

Kalau dibandingkan dengan harga kapal hibah: tentu mahal.

Tetapi kalau dibandingkan dengan seluruh biaya mempertahankan kapal tua selama sisa hidupnya, ceritanya bisa berbeda.

Karena umur kapal tidak dapat di-reset dengan cat baru.

Yang Lebih Penting: Uangnya Tinggal di Indonesia

Ada keuntungan lain kalau kita membangun sendiri.

Uang pembangunan kapal tidak sekadar berubah menjadi besi yang mengapung.

Engineer Indonesia bekerja.

Welder Indonesia bekerja.

Galangan Indonesia berkembang.

Industri baja mendapat pekerjaan.

Industri elektronik ikut masuk.

Industri kelistrikan ikut berkembang.

Vendor lokal tumbuh.

Engineer muda mendapat pengalaman.

Dan yang paling penting:

Indonesia memiliki desain dan pengetahuan membangunnya.

Kapal pertama mungkin mahal.

Kapal kedua lebih mudah.

Kapal ketiga semakin matang.

Lalu suatu hari negara lain datang dan berkata:

“Kami mau beli kapal itu.”

Bukankah sekarang kita sendiri sedang membangun LPD 163 meter untuk UAE?

Kalau kita mampu membuat kapal besar untuk orang lain, mengapa untuk kebutuhan sendiri kita justru sibuk memudakan kapal orang lain?

Jadi Garibaldi Dibuang?

Tidak.

Justru jangan.

Garibaldi dapat menjadi sekolah yang sangat berharga.

Gunakan.

Pelajari.

Bongkar ilmunya.

Pelajari flight deck operation.

Pelajari hanggar.

Pelajari aviation fuel.

Pelajari pengaturan helikopter.

Pelajari operasi UAV.

Pelajari damage control.

Pelajari command and control.

Pelajari bagaimana kapal sebesar itu dioperasikan.

Biarkan PT PAL mengirim engineer sebanyak mungkin.

Biarkan TNI AL memperoleh pengalaman mengoperasikan aviation ship yang selama ini belum dimiliki.

Tetapi jangan keliru.

Belajar dari Garibaldi tidak sama dengan harus membuat Garibaldi hidup selamanya.

Guru yang baik bukan guru yang membuat muridnya terus bergantung kepadanya.

Guru yang berhasil adalah guru yang membuat muridnya akhirnya mampu berdiri sendiri.

Garibaldi Harus Melahirkan Kapal Indonesia

Karena itu ukuran keberhasilan Garibaldi jangan hanya:

“Kapal ini berhasil berlayar 20 tahun di Indonesia.”

Itu terlalu sederhana.

Ukuran keberhasilannya seharusnya:

“Setelah belajar dari Garibaldi, Indonesia mampu membuat kapal sendiri.”

Kalau dua puluh tahun lagi Garibaldi pensiun kemudian Indonesia mencari lagi kapal induk bekas dari negara lain, maka ada sesuatu yang salah.

Tetapi kalau sebelum Garibaldi pensiun sudah muncul kapal baru buatan PT PAL dengan flight deck besar, helikopter, UAV, rumah sakit dan kemampuan HADR, maka Garibaldi benar-benar berjasa.

Kakek boleh pensiun dengan tenang.

Karena cucunya sudah lahir.

Jadi Jangan Sibuk Memudakan Kakek

Garibaldi sekarang berada di depan mata.

Gunakanlah apa yang masih baik.

Perbaiki apa yang memang harus diperbaiki.

Ambil semua ilmu yang bisa diambil.

Tetapi sebelum mengeluarkan triliunan rupiah untuk membuatnya seolah-olah muda kembali, hitung dulu alternatifnya.

Bandingkan secara terbuka:

Garibaldi dengan retrofit terbatas.

Garibaldi dengan retrofit besar dan repowering.

Kapal baru buatan Indonesia dengan kemampuan yang sama.

Hitung semuanya selama 20, 30 dan 40 tahun.

Masukkan BBM.

Maintenance.

Overhaul.

Docking.

Spare parts.

Crew.

Modernisasi.

Dan risiko umur kapal.

Barulah kita tahu mana yang benar-benar murah.

Sebab kalau tujuan akhirnya hanya membawa helikopter, drone, rumah sakit dan bantuan bencana, kita sebenarnya tidak sedang mencari teknologi dari planet lain.

PT PAL sudah membuat kapal rumah sakit.

PT PAL sudah membuat LPD.

PT PAL bahkan sedang membuat kapal 163 meter untuk negara lain.

Jadi pertanyaannya sederhana:

Kalau kita bisa membuat kapal baru, mengapa kita terlalu sibuk memudakan Kakek Garibaldi?

Gunakan Garibaldi sebagai guru.

Ambil ilmunya.

Kemudian bangun kapal kita sendiri.

Sebab kebanggaan terbesar Indonesia seharusnya bukan ketika kapal bekas negara lain memakai Merah Putih.

Kebanggaan terbesar adalah ketika kapal buatan anak bangsa berlayar membawa Merah Putih—dan negara lain ingin membelinya.