28 Juli 2026

Kapal Terbesar di Asia, dan Kita Lupa Di Mana Kuburannya

CATATAN SANTAI

Kapal Terbesar di Asia,

dan Kita Lupa Di Mana Kuburannya

Sepuluh tahun KRI Irian, dan kenapa ceritanya belum selesai

 

JAKARTA 28 Juli 2026

Oleh : Soleman B Ponto
KKM KRI BADIK DAN KRI KERIS

 

Lima Agustus 1962. Pelabuhan Surabaya penuh orang. Bukan penuh seperti pasar — penuh seperti orang menunggu sesuatu yang belum pernah mereka lihat seumur hidup. Dan memang belum pernah.

Yang masuk hari itu panjangnya 210 meter. Bobot penuh 16.640 ton. Dua belas meriam 152 milimeter dalam empat kubah. Kapal perang terbesar di Asia. Bukan terbesar di Asia Tenggara — terbesar di Asia, titik. Bahkan terbesar di seluruh belahan bumi selatan.

Namanya KRI Irian, nomor lambung 201. Sebelumnya dia bernama Ordzhonikidze dan bekerja untuk Armada Baltik.

Sepuluh tahun kemudian dia lenyap, dan sampai hari ini kita tidak tahu pasti bagaimana.

Ini bukan cerita tentang kapal yang kalah perang. Ini cerita tentang kapal yang tidak pernah sempat ikut perangnya.

Kita tidak bisa menyalahkan cuaca

Argumen paling malas soal KRI Irian adalah: "ya wajar, kapal Baltik dibawa ke tropis." Masalahnya, argumen itu tidak berdiri.

Sebelas Januari 1961 — setahun setengah sebelum kapal itu berangkat — pemerintah Soviet sudah mengeluarkan instruksi ke Biro Desain Pusat untuk memodifikasi Ordzhonikidze secara besar-besaran. Targetnya spesifik dan tertulis: kapal harus sanggup beroperasi pada suhu udara 40 derajat Celsius, kelembapan 95 persen, dan suhu air laut 30 derajat.

Artinya orang Rusia sudah memikirkan Surabaya sebelum kapalnya sampai Surabaya. Mereka melakukan pekerjaan rumahnya.

Jadi ketika kapal itu rusak, penyebabnya bukan matahari.

Tiga bulan

November 1962. Tiga dari enam ketel uap KRI Irian rusak.

Mari kita diamkan angka itu sebentar. Kapal tiba awal Agustus. Rusak setengah ketelnya di November. Tiga bulan. Ada garansi kulkas yang lebih panjang dari itu.

Dan bukan cuma dia. Di periode yang sama tercatat sebuah mesin diesel kapal selam rusak karena benturan hidrolis saat naik ke permukaan, dan sebuah destroyer ikut rusak. Ini bukan satu kapal apes. Ini pola.

Sebabnya sederhana dan tidak enak didengar: ALRI belum pernah punya armada sebesar itu, dan belajar mengoperasikannya dengan cara coba-coba. Kita dikasih instrumen orkestra lengkap padahal belum pernah main musik. Not baloknya ada, gurunya ada, tapi jam terbangnya tidak bisa dibeli bersama kapalnya.

Kita membeli kapalnya dalam satu tanda tangan. Kemampuan merawatnya butuh dua puluh tahun, dan itu tidak dijual satu paket.

Perang yang dia lewatkan

KRI Irian dibeli untuk satu tujuan yang sangat jelas: merebut Irian Barat dari Belanda. Nama kapalnya saja diambil dari operasi itu. Ini bukan pembelian serba-guna — ini pembelian dengan alamat tujuan yang ditulis di lambungnya.

Sepanjang konfrontasi itu, KRI Irian tidak pernah sekali pun terlibat pertempuran dengan kapal Belanda.

Yang dia lakukan adalah bolak-balik masuk dok untuk perawatan.

Pembelaan yang biasa muncul: "tapi efek psikologisnya besar, Belanda gentar." Mungkin benar. Kehadiran kapal sebesar itu memang menaikkan tensi diplomatik, dan tekanan diplomatik memang bagian dari kenapa Irian Barat akhirnya kembali. Saya tidak mau meremehkan itu.

Tapi kalau harga sebuah efek psikologis adalah kapal terbesar di Asia yang menghabiskan perangnya di bengkel, kita perlu jujur menyebutnya efek psikologis termahal dalam sejarah republik ini.

Keran itu dimatikan dari Moskow

Lalu datang 1965, dan geopolitik melakukan apa yang selalu dilakukan geopolitik.

Hubungan dengan Uni Soviet putus. Bersama hubungan itu, putus pula pasokan suku cadang. Tidak ada gudang cadangan. Tidak ada pabrik alternatif. Tidak ada lisensi produksi dalam negeri. Ketel yang rusak tetap rusak, dan sekarang tidak ada seorang pun di dunia yang mau menjual gantinya kepada kita.

Ini pelajaran yang paling sering dilewatkan orang ketika membahas KRI Irian. Kita suka membahasnya sebagai kegagalan teknis atau kegagalan perawatan. Padahal inti masalahnya politis:

–    Membeli platform besar berarti mengikat diri pada satu negara pemasok selama 30–40 tahun ke depan.

–    Hubungan bilateral berumur jauh lebih pendek daripada umur kapal.

–    Ketika hubungan itu putus, yang kita miliki bukan lagi kapal perang, melainkan 16.640 ton besi yang sangat mahal untuk diparkir.

Kapal punya masa pakai empat dekade. Persahabatan antarnegara jarang bertahan satu dekade tanpa berubah bentuk. Itu ketimpangan yang tidak pernah muncul di brosur mana pun.

Kalimat paling menyakitkan dalam arsip

Tahun 1970, KRI Irian sudah sedemikian terbengkalai hingga mulai kemasukan air.

Catatan arsip melanjutkan dengan satu kalimat yang, menurut saya, adalah kalimat paling telak dalam seluruh sejarah kapal ini:

"Tidak ada orang yang peduli untuk menyelamatkan kapal penjelajah ini."

Delapan tahun sebelumnya, ribuan orang berdiri di dermaga Surabaya untuk menyambutnya. Delapan tahun kemudian, dia tenggelam pelan-pelan di tempat sandar dan tidak ada yang mengangkat telepon.

Bukan karena orang Indonesia kejam. Karena prioritas berpindah, anggaran berpindah, rezim berpindah, dan kapal itu sudah lama berhenti menjadi simbol apa pun kecuali tagihan.

Kita bahkan tidak tahu bagaimana dia mati

Ini bagian yang membuat cerita KRI Irian melampaui satir dan masuk ke wilayah absurd sungguhan.

Ada tiga versi mengenai akhir hidupnya, dan sampai hari ini tidak ada kesepakatan:

–    Versi satu: dibesituakan di Taiwan pada 1972, dengan alasan resmi kekurangan suku cadang kronis.

–    Versi dua: dijual ke Jepang setelah persenjataannya dipreteli lebih dulu.

–    Versi tiga: dalam perjalanan menuju pembesituaan, dia dicegat kapal-kapal Uni Soviet dan diambil kembali, karena Moskow tidak ingin teknologi kelas Sverdlov jatuh ke tangan Blok Barat.

Dari empat belas kapal kelas Sverdlov yang pernah dibangun, hanya satu yang nasib akhirnya masih misterius sampai sekarang. Yang satu itu adalah milik kita.

Kita pernah punya kapal perang terbesar di Asia, dan kita kehilangan jejaknya seperti orang kehilangan payung di angkutan umum.

 

Lalu apa yang sebenarnya harus diambil dari ini

Godaan terbesar dari cerita KRI Irian adalah menariknya jadi kesimpulan yang salah, yaitu: "makanya negara kepulauan jangan beli kapal besar, beli kapal kecil saja yang lincah."

Itu kesimpulan yang enak diucapkan tapi tidak tahan diuji. Filipina adalah negara kepulauan yang armadanya nyaris seluruhnya kapal kecil dan tua, dan itu sama sekali tidak menolong mereka di Scarborough Shoal. Kapal 30 meter tidak bisa bertahan tujuh hari di Laut Natuna Utara ketika gelombang naik, tidak punya radar jauh, dan tidak punya payung udara. Sabang ke Merauke lebih jauh daripada London ke Teheran. Itu bukan pekerjaan untuk sekoci.

Pelajaran sesungguhnya dari KRI Irian ada empat, dan tidak satu pun berhubungan dengan ukuran lambung:

–    Harga beli bukan harga milik. KRI Irian relatif murah didapat. Yang tidak terbayar adalah dok, ketel, suku cadang, dan sekolah teknisi selama sepuluh tahun.

–    Rantai suku cadang adalah keputusan politik luar negeri, bukan keputusan logistik. Tandatangani kontrak kapal, dan Anda ikut menandatangani asumsi tentang hubungan bilateral tiga dekade ke depan.

–    Awak dan doktrin tidak bisa dihibahkan. Kapal bisa datang dalam satu pelayaran; kemampuan mengoperasikannya butuh satu generasi.

–    Kapal yang tidak bisa berlayar nilainya nol, sebesar apa pun dia. Bahkan negatif, karena dia tetap makan anggaran perawatan yang seharusnya menghidupkan kapal-kapal yang masih jalan.

Kapal induk tidak gagal karena besar. Dia gagal kalau biaya hidupnya memakan anggaran untuk semua hal lain yang membuatnya berguna.

Dan itu poin yang relevan hari ini. Ketika sebuah kapal datang lewat skema hibah, angka "nol rupiah" di kolom harga beli adalah angka yang paling tidak penting dalam seluruh dokumen. Yang menentukan nasibnya adalah kolom-kolom sesudahnya: pengerukan dermaga, retrofit sistem, pelatihan awak, bahan bakar per hari layar, dan — yang paling menentukan — apakah suku cadangnya masih akan dijual kepada kita pada tahun kedua puluh.

KRI Irian sudah menjawab pertanyaan itu untuk kita, gratis, lima puluh empat tahun yang lalu. Sayangnya jawaban gratis biasanya yang paling mudah dilupakan.

 

Kakek-kakek kita menangis di dermaga Surabaya tahun 1962. Mereka tidak salah menangis — perasaan itu tulus, dan negara memang butuh momen seperti itu.

Yang kita utang kepada mereka bukan janji untuk tidak pernah lagi membeli kapal besar. Yang kita utang adalah janji bahwa kali ini kita menyiapkan dermaganya, teknisinya, dan gudang suku cadangnya dulu — supaya tiga puluh tahun lagi, cucu kita tidak perlu menulis catatan seperti ini lagi dengan nama kapal yang berbeda.

 

Catatan sumber: seluruh data teknis dan kronologi dalam tulisan ini berasal dari catatan sejarah publik mengenai KRI Irian (eks-Ordzhonikidze, kelas Sverdlov Proyek 68-bis) — tanggal kedatangan 5 Agustus 1962, dimensi dan bobot, instruksi modifikasi tropis Januari 1961, kerusakan tiga dari enam ketel pada November 1962, kondisi terbengkalai pada 1970, dan tiga versi akhir hidupnya pada 1972. Versi akhir hidupnya memang masih diperdebatkan; ketiganya dicantumkan apa adanya, bukan untuk dipilih salah satu.

CATATAN SANTAI SOAL KAPAL INDUK Dikasih Gajah Gratis

C A T A T A N   S A N T A I   S O A L   K A P A L   I N D U K

Dikasih Gajah Gratis

Gajahnya memang gratis. Makannya yang tidak.

oleh : Soleman B Ponto * 

1. Selamat, Kita Dapat Kapal Gratis

Mari kita mulai dari kabar baiknya. Italia memberikan kapal induk ringan eks-Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia. Cuma-cuma. Nol rupiah. Rencananya dinamai KRI Gajah Mada dan tiba September 2026.

Sekarang kabar buruknya: yang gratis cuma kapalnya.

Ini persis seperti dikasih gajah gratis. Gajahnya memang tidak bayar. Kandangnya, pawangnya, dan tujuh puluh kilogram makanan per hari selama tiga puluh tahun — itu urusan Anda.

Dan kebetulan sekali, kapal ini memang mau dinamai Gajah Mada.

Sedikit trivia yang agak menyayat

Juli 2024, tak lama sebelum kapal ini masuk status cadangan, sebuah Ferrari SF90 dipakai ngebut di geladak penerbangannya dan mencapai 152 km/jam.

Sejauh ini, itu adalah wahana tercepat yang pernah beroperasi dari geladak tersebut sejak Harrier-nya pensiun. Dan berdasarkan analisis di halaman-halaman berikutnya, rekor itu kemungkinan akan bertahan cukup lama.

2. Berapa Sih Ongkos Gajahnya?

Kalau semua rencana yang beredar dijalankan — sistem tempur nasional dipasang, sensor diperbarui, drone Kizilelma diintegrasikan, pangkalan dibangun — hitungannya kira-kira begini.

Mau beli apa

USD (juta)

Rp (triliun)

Kapalnya sendiri

0

0

Pinjaman akuisisi & peralatan

450

7,4

Helikopter angkut

250

4,1

Helikopter serbaguna

300

5,0

Refit & perpanjangan umur

~200

3,3

Pasang sistem tempur nasional

~120

2,0

Ganti radar yang seumuran Walkman

~200

3,3

Kabel penahan + geladak tahan panas

~200

3,3

Kendali drone, SATCOM, alat geladak

~70

1,2

Dronenya sendiri

~320

5,3

Bangun pangkalan

~250

4,1

Latihan & bikin doktrin dari nol

~100

1,7

Ongkos jalan 10 tahun

~900

14,9

TOTAL

± 3.360

± 55,4

Kurs asumsi Rp 16.500 per USD. Angka bertanda ~ adalah estimasi, bukan nilai kontrak resmi.

Rp 55 triliun. Untuk kapal yang gratis.


 

3. TV 4K, Antena Cakar Ayam

Kabarnya kapal ini akan dipasangi sistem tempur buatan PT Len — CMS Mandhala, NDDU, dan data link nasional. Ini keputusan bagus. Serius, tanpa sarkasme. Sistem buatan sendiri artinya bisa dirawat sendiri, di-upgrade sendiri, tanpa perlu minta izin siapa pun.

Masalahnya ada di sebelahnya.

Sistem tempur itu tidak menghasilkan informasi. Dia cuma menggabungkan dan menampilkan apa yang dikasih radar. Dan radar kapal ini desainnya dari era ketika orang masih merekam lagu dari radio pakai kaset.

Radar SPS-52C dan RAN-3L dirancang untuk mendeteksi pesawat besar yang terbang tinggi. Bukan rudal jelajah yang menyusur permukaan laut. Bukan drone kecil. Bukan serangan berbondong-bondong.

Jadi ya, ini seperti beli TV 4K lalu menyambungkannya ke antena cakar ayam di atap. Layarnya canggih. Gambarnya tetap semut.

Kalau mau pasang CMS baru, radarnya harus ikut diganti di paket yang sama. Bukan "nanti fase dua". Fase dua itu bahasa halus untuk "tidak pernah".

Dan satu lagi

Mandhala itu dirancang untuk fregat dan korvet. Kapal induk butuh tiga hal tambahan yang belum ada: pengatur lalu lintas udara di geladak, manajemen parkir dan hanggar, dan kendali misi drone.

Itu bukan penyesuaian. Itu produk baru. Dan produk baru selalu lebih mahal dan lebih lama daripada yang dijanjikan di proposal.

4. Beli Kereta Api, Lupa Belum Punya Rel

Ada wacana Kizilelma — drone tempur bermesin jet buatan Baykar, bobot 8,5 ton — akan memperkuat KRI Gajah Mada.

Satu fakta kecil yang tampaknya terlewat dalam wacana ini: Kizilelma butuh kabel penahan dan kait untuk mendarat.Energi kinetiknya terlalu besar untuk berhenti pakai rem sendiri.

Dan kapal ini tidak punya kabel penahan. Sama sekali. Tidak ada. Nol.

Ini bukan detail kecil. Ini seperti beli kereta api lalu baru sadar belum punya rel.

Memasang sistem penahan di kapal berusia 41 tahun bukan pekerjaan mengencangkan baut. Harus ada analisis kelelahan struktur dulu, penguatan geladak dan rangka di bawahnya, plus pelapisan tahan panas karena semburan mesin jet akan memanggang geladak yang tidak pernah dirancang untuk itu.

Yang lebih bikin dahi berkerut: TB3 pun belum pernah diuji di kapal ini. Padahal TB3 jauh lebih ringan dan tidak butuh kabel penahan sama sekali.

TB3 sukses mendarat di TCG Anadolu — geladak 202 meter, ramp 12 derajat. Garibaldi cuma 174 meter dengan ramp 6,5 derajat. Lebih pendek, lebih landai.

Jadi urutannya sekarang: langkah gampang belum dicoba, tapi langkah tersulit sudah masuk wacana. Ini seperti belum bisa berenang tapi sudah daftar lomba selat.

5. Sayapnya Lebih Lebar dari Hangarnya

Indonesia sudah memesan sembilan Bayraktar Akinci. Bagus. Drone ini jempolan.

Tapi ada yang perlu diluruskan sebelum ada yang berharap Akinci akan mejeng di geladak KRI Gajah Mada:

Ukuran

Akinci

Kapalnya

Bentang sayap

± 20 meter, tidak bisa dilipat

Lebar hangar 15 meter

Muat di lift?

Lift cuma 10 meter

Tidak

Butuh landasan

Lebih dari 1 kilometer

Geladak 174 meter

Tidak perlu kalkulator untuk ini. Sayapnya lebih lebar dari hangarnya. Titik.

Akinci tetap aset hebat — dioperasikan dari Natuna, Sabang, Morotai, atau Biak. Bukan dari kapal.


 

6. Mesinnya Cuma Punya Dua Mode: Boros dan Boros Banget

Thailand punya kapal induk kecil bernama Chakri Naruebet. Ukurannya mirip. Panjang geladaknya bahkan hampir sama persis: 174 meter.

Bedanya, Chakri punya mesin diesel untuk jalan pelan-pelan hemat, dan turbin gas hanya untuk ngebut. Mau patroli santai 17 knot? Nyalakan diesel, irit.

Garibaldi tidak punya mesin diesel. Sama sekali. Empat turbin gas, titik. Mau jalan 10 knot atau 30 knot, tetap bakar bahan bakar turbin gas — yang justru paling rakus saat dipakai pelan-pelan. Yaitu, persis kecepatan patroli.

Jadi Garibaldi lebih besar, lebih haus, awaknya lebih banyak (830 orang), usianya 41 tahun, dan tidak punya jalan keluar hemat sama sekali.

Nah, sekarang bagian yang bikin merenung

Thailand — dengan kapal yang lebih kecil, lebih hemat, dan lebih muda — akhirnya tidak sanggup mengoperasikannya.

Pesawat Harrier-nya kehabisan suku cadang, unit udaranya dibubarkan tahun 2006, dan sejak itu Chakri Naruebet adalah kapal induk tanpa pesawat. Berlayar sekitar sehari sebulan, sekadar supaya awaknya tidak lupa caranya.

Angkatan Laut Thailand akhirnya mengubah klasifikasinya sendiri jadi "kapal pengangkut helikopter patroli lepas pantai" — cara sopan untuk bilang bahwa moto resminya, "Rule the Sky, Rule the Sea", sudah pensiun duluan.

Pers Thailand menjulukinya "Thai-tanic". Mereka yang bikin lelucon itu, bukan saya.

Yang perlu dicatat: Chakri tetap berguna. Dia dikerahkan saat tsunami 2004 dan banjir besar 2010–2011. Jadi kegagalannya adalah kegagalan sebagai kapal tempur, bukan kegagalan sebagai kapal.

Ini pelajaran, bukan ejekan. Kalau tetangga sudah menabrak tiang yang sama, minimal kita tahu tiangnya di mana.

7. Bandara Terapung untuk Negara Berisi 17.000 Pulau

Ini bagian yang paling penting, jadi izinkan saya serius sebentar.

Kapal induk itu diciptakan untuk satu tujuan spesifik: membawa lapangan terbang ke tempat yang tidak punya lapangan terbang. Itu seluruh alasan keberadaannya. Amerika bikin kapal induk karena mau menerbangkan pesawat di tengah Pasifik, tempat yang tidak ada daratannya.

Indonesia punya 17.000 pulau lebih.

Kita ini, secara harfiah, negara yang paling tidak membutuhkan bandara terapung di seluruh dunia. Persoalan kita bukan "bagaimana menerbangkan pesawat di tempat tanpa daratan". Persoalan kita adalah "bagaimana hadir di ribuan tempat sekaligus" — dan kita punya daratan di mana-mana untuk itu.

Kapal induk memusatkan kekuatan di satu titik. Negara kepulauan butuh kekuatan yang tersebar di banyak titik.

Ini bukan soal mahal atau murah. Ini soal arah yang berlawanan.

Hitungan yang tidak bisa dibantah

Satu kapal induk berada di satu tempat pada satu waktu. Dengan siklus perawatan normal, mungkin 30–40 persen waktu dia di laut. Sisanya bersandar.

Dua belas kapal patroli, dengan siklus yang sama, menghasilkan empat sampai lima kapal di laut terus-menerus, di lokasi berbeda, sepanjang tahun.

Dan masalah maritim kita sehari-hari itu apa? Pencurian ikan, penyelundupan, kapal asing masuk Natuna, kecelakaan pelayaran, SAR, bencana alam.

Tidak satu pun dari daftar itu selesai dengan kapal induk. Semuanya selesai dengan kapal patroli yang hadir, pesawat patroli yang mengawasi, dan kapal bantu yang menolong.

8. Kalau Rp 55 Triliun Itu Dibelikan Apa?

Pertanyaan yang adil. Ini jawabannya — semuanya bisa dibangun di galangan sendiri.

Beli apa

Jumlah

Total (USD jt)

Buat apa

Kapal patroli OPV 90–110 m

12

720

Jaga ZEE, tangkap pencuri ikan

LPD 124 m

4

400

Bencana, logistik antarpulau, bawa helikopter

Kapal rumah sakit

2

200

Layani pulau terpencil, tanggap bencana

KCR 60 m

16

448

Hadir di selat-selat sempit

Pesawat patroli maritim

8

360

Awasi laut dari udara

Drone MALE dari darat

24

360

Pengawasan murah, terbang lama

Kapal survei hidrografi

4

220

Petakan ALKI, keselamatan pelayaran

Kapal tunda & salvage

4

160

SAR, tarik kapal celaka

TOTAL

74 unit

± 2.868

≈ Rp 47 triliun

Empat puluh dua kapal dan tiga puluh dua wahana udara. Semuanya baru, usia nol tahun, umur pakai 25–30 tahun. Uangnya berputar di dalam negeri, bukan mengalir ke galangan orang.

Bandingkan: satu lambung berusia 41 tahun, sisa umur 10–15 tahun, hadir di satu titik.

9. Tapi Adil Dong — Ini Argumen Sebaliknya

Kalau cuma menghantam satu sisi, itu namanya bukan analisis, itu namanya nyinyir. Jadi ini sisi lawannya:

–    Galangan kita sudah penuh. PT PAL lagi sibuk dengan fregat Merah Putih, LPD pesanan Filipina dan UEA, plus kapal selam. Nyuntik Rp 47 triliun sekaligus tidak otomatis jadi 74 kapal. Butuh 10–15 tahun dan investasi tambahan buat perluas galangan.

–    Ilmu terbang dari geladak tidak bisa dibeli. Kalau negara memang sudah memutuskan mau punya penerbangan angkatan laut permanen, tidak ada jalan pintas. Kapal hibah adalah cara termurah untuk mulai belajar. Salah-salah malah kita beli kapal induk baru seharga puluhan triliun lalu belajar di situ — jauh lebih mahal dan lebih berbahaya.

–    Buat bencana, kapal ini memang juara. Geladak untuk 18 helikopter, kapasitas medis, produksi air tawar, pembangkit listrik, pusat komando — semua bisa digerakkan ke lokasi gempa atau tsunami. Untuk negara dengan risiko seismik tertinggi di dunia, ini bukan hal sepele.

–    Nilai diplomatik susah dihitung, tapi bukan nol.

10. Jadi Gimana Dong?

Kapalnya sudah telanjur dihibahkan dan sudah dalam perjalanan. Menolak sekarang bukan pilihan realistis, dan sejujurnya juga tidak perlu.

Yang realistis adalah mengerem ambisinya.

Yang masuk akal

Yang sebaiknya ditunda dulu

Sistem tempur nasional PT Len

Kizilelma dan kabel penahannya

Ganti radar dan sensor

Modifikasi geladak berat

Helikopter dan drone sayap putar

Wahana bermesin jet apa pun

Perang elektronik & dekoi

Rudal tambahan

Perbaiki CIWS yang ada

SAM jarak jauh

Konfigurasi ini menekan total sepuluh tahun ke kisaran Rp 30–35 triliun. Sisanya, sekitar Rp 20 triliun, bisa dialihkan ke armada kepulauan.

Dan yang penting: kapalnya tetap memberikan semua manfaat yang jadi pembenaran sesungguhnya — tanggap bencana, pusat komando, dan sekolah penerbangan angkatan laut.

Satu permintaan terakhir

Tolong jangan jual kapal ini ke publik sebagai lompatan kekuatan tempur.

Thailand memasang moto "Rule the Sky, Rule the Sea" lalu tidak menerbangkan satu jet pun selama dua puluh tahun. Jarak antara janji dan kenyataan itulah yang mengubah aset berguna menjadi bahan lelucon nasional.

Sebut saja apa adanya: kapal bencana, kapal komando, kapal sekolah. Ketiganya berguna. Ketiganya jujur. Dan ekspektasi yang jujur tidak pernah mengecewakan siapa pun.

Nilai kapal ini bukan sebagai senjata. Nilainya sebagai sekolah.

Karena kalau memang suatu hari nanti Indonesia mau punya kapal induk sungguhan, orang-orang yang tahu cara mengoperasikannya harus belajar di suatu tempat.

Ya sudah, belajar di gajah gratis ini saja dulu.

*)EX Kepala Kamar Mesin KRI Badik dan KRI Keris 

Catatan: angka bertanda ~ adalah estimasi berdasarkan program sejenis dan harga pasar indikatif, bukan nilai kontrak resmi. Kalau mau dipakai buat rapat beneran, verifikasi dulu ke dokumen anggaran, penawaran galangan, dan penawaran produsen. Data teknis kapal bersumber dari informasi publik.