Kapal Induk Batal Jadi Gajah Mada karena Takut Canggung di Jalan
oleh : Soleman B Ponto
JAKARTA (Satire) 17 September 2026 – Semua sudah siap. Kapal induk eks Italia akan masuk perairan Indonesia dengan nama KRI Gajah Mada. Bendera sudah disetrika, spanduk sudah dicetak, dan kue tumpeng sudah dipesan. Lalu seseorang di ruang rapat membaca jadwal penyambutan: kapal akan dijemput dan dikawal oleh KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi.
Ruangan mendadak sunyi.
"Sebentar," kata seorang staf, pelan. "Jadi Gajah Mada akan berlayar berdampingan dengan Prabu Siliwangi?"
Tidak ada yang menjawab. Semua orang di ruangan itu pernah belajar sejarah, dan semua orang teringat Bubat. Kisah lama itu, yang selama ini tersimpan rapi di buku pelajaran, tiba-tiba terasa seperti mantan yang muncul di acara nikahan.
Panitia langsung menyusun skenario terburuk. Bagaimana kalau di tengah laut, KRI Prabu Siliwangi tiba-tiba mengambil jarak? Bagaimana kalau komunikasi radio antarkapal terasa dingin? Bagaimana kalau KRI Brawijaya, yang secara historis berada di kubu Majapahit, terjebak di tengah dan harus menjadi mediator selama perjalanan dari Selat Malaka sampai Tanjung Priok?
"Kita tidak bisa mengambil risiko kapal-kapal ini saling diam sepanjang pelayaran," tegas seorang anggota panitia. "Pengawalan butuh koordinasi, bukan rekonsiliasi 700 tahun."
Opsi pertama yang diajukan adalah mengganti kapal pengawal. Opsi ini ditolak karena ternyata hampir semua nama kapal perang kita juga punya urusan masa lalu dengan seseorang. Opsi kedua adalah meminta Gajah Mada mengirim surat permintaan maaf resmi ke Pajajaran. Opsi ini ditolak karena kantor posnya sudah tutup sejak abad ke-14.
Akhirnya diputuskan jalan paling aman: kapal induknya yang ganti nama. Pilihan jatuh ke Sriwijaya, kerajaan dari Sumatra yang dianggap netral karena tidak pernah ribut dengan Majapahit maupun Sunda. Setidaknya, tidak ada yang cukup yakin untuk membuktikan sebaliknya dalam rapat yang sudah berjalan lima jam itu.
Pengumuman pun dibuat. Semua orang lega. Tumpeng dimakan. Spanduk lama disimpan di gudang bersama spanduk-spanduk nama yang tidak jadi lainnya.
Hanya satu staf muda yang masih gelisah. "Pak, Sriwijaya kan pernah hancur diserang Cola?"
Ketua panitia menepuk bahunya. "Nak, yang penting sekarang tidak ada pengawal kita yang bernama Rajendra."
Staf muda itu mengangguk, tapi diam-diam ia membuka anggaran operasional kapal. Di sana ia menemukan musuh baru yang jauh lebih berbahaya daripada Cola: Solar. Musuh ini tidak bisa diajak damai lewat ganti nama, dan setiap bulan menyerang lewat tagihan.
Sementara itu, panitia sudah membentuk tim khusus untuk mengecek daftar nama kapal pengawal di masa depan. Tugas tim tersebut sederhana: memastikan tidak ada kapal Indonesia yang berlayar bersama tokoh yang pernah bermusuhan dengannya. Tim itu diperkirakan akan merekomendasikan agar seluruh armada TNI AL diberi nama buah-buahan.
Catatan kecil: pengawalan oleh KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi saat kapal masuk perairan Indonesia memang diberitakan. Namun kaitannya dengan kisah Bubat sebagai alasan ganti nama adalah bumbu satire, karena alasan resmi pergantian nama belum dijelaskan dalam pemberitaan yang saya temukan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar